Yamaha Mio S

Aktivis HAM Nilai Radikal Tak Bisa Dilihat dari Pakaian

  Kamis, 07 November 2019   Suara.com
ilustrasi. (Pixabay)

JAKARTA, AYOCIREBON.COM -- Kadar radikal seseorang tak bisa diukur dari cara berpakaiannya. Hal itu dikatakan aktivis HAM Haris Azhar.

Pendapat Haris Azhar ini disampaikan dalam video yang diunggah ke kanal YouTube Macan Idealis milik Ketua DPP Partai Berkarya Vasco Ruseimy pada Rabu (6/11/2019).

Awalnya, Vasco Ruseimy menanyakan pendapat Haris tentang isu radikalisme yang sedang berkembang di Indonesia akhir-akhir ini.

Apalagi, setelah Menteri Agama Fachrul Razi mengeluarkan larangan ASN memakai cadar dan celana cingkang.

Menurut Haris, radikal itu bukan hal yang buruk. Sebab secara teorinya, radikal merupakan konsep upaya melakukan perubahan untuk segala hal.

"Dia (radikal) itu bersuara sangat keras, mengambil poin yang sangat hard case, dan dia melakukan desakan-desakan," Haris menjelaskan seperti diberitan Suara.com, Kamis (7/11/2019).

Ia juga menambahkan bahwa penggunaan istilah radikal dalam dunia akademik dan institusional adalah hal yang biasa.

Justru Haris merasa aneh terhadap penggunaan istilah radikal dan revolusi yang dipakai oleh negara.

Ia juga menyinggung program Revolusi Mental dari pemerintahan Presiden Joko Widodo.

"Kenapa kita musti alergi? Negara pakai istilah Revolusi Mental. Maksud gua, kok sekarang menggunakan istilah radikal, sementara elu pakai istilah revolusi. Terus bilang radikalnya negatif, revolusinya oke," kata Haris.

"Jadi kalau mereka yang bicara, mereka (negara) yang gunakan boleh. Jadi aneh," imbuhnya.

Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) ini juga menyayangkan isu radikal dikaitkan dengan penggunaan pakaian pada golongan tertentu.

"Bukan soal pakaiannya yang harus diserang, tetapi orangnya dan tindakannya," ucap Haris.

"Sekarang koruptor pakai cadar, enggak?" tanya Haris.

"Enggak, pakai jaket," jawab Vasco.

"Pakai jaket, nabrak tiang lagi," balas Haris.

"Jadi enggak bisa nge-judge orang dari pakaiannya. Tapi dari tindakannya, pikirannya, perkataannya," imbuh pria lulusan University of Essex tersebut.


   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar

-->