Yamaha Mio S

Setahun, Nilai Transaksi Fintech Meningkat

  Sabtu, 09 November 2019   Erika Lia
Cirebon Fintech Festival 2019 digelar KPwBI Cirebon sebagai ruang edukasi soal fintech.

KEJAKSAN, AYOCIREBON.COM -- Inovasi layanan keuangan Financial Technologi (Fintech) di Indonesia tahun ini mengakumulasi nilai transaksi sekitar Rp26,5 miliar. Meningkat dibanding tahun sebelumnya.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Cirebon, Fadil Nugroho menyampaikan, nilai transaksi fintech menunjukkan tren meningkat sebesar 18,3% (yoy).

"Berdasarkan data statistik 2019, tren nilai transaksi fintech naik dari Rp22,4 miliar pada 2018 menjadi Rp26,5 miliar pada 2019," katanya, Sabtu (9/11/2019).

Dari nilai transaksi itu, 95,67% diketahui merupakan pembayaran digital. Mengamati perkembangan itu, fintech dinilai berpeluang besar dalam industri.

Fadil menerangkan, fintech dapat mengakuisisi pasar yang belum bisa ditangani lembaga keuangan tradisional. Pesatnya pertumbuhan industri fintech pun telah berkontribusi besar, terutama pada segmen ritel dan unbanked.

Dia menyebutkan, data World Bank pada 2017 memperlihatkan, 69% dari populasi global telah memiliki akses ke sistem keuangan formal, baik di bank atau penyedia uang seluler. Angka ini meningkat dari hanya 51% pada 2011, seiring perkembangan inovasi pada layanan keuangan.

Lantas, apa sih fintech?

"Fintech merupakan perpaduan layanan jasa keuangan dengan teknologi," jelasnya.

Fintech lahir seiring perkembangan teknologi di era revolusi industri 4.0, di mana digitalisasi dan perkembangan inovasi telah merevolusi berbagai aspek kehidupan termasuk pada jasa layanan keuangan.

Seiring waktu, fintech mengalami pertumbuhan pesat dan ditengarai dapat menjadi salah satu solusi pemerataan ekonomi.

Di Indonesia, sedikitnya 280 perusahaan terdata sebagai anggota Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH). AFTECH merupakan organisasi yang menaungi seluruh perusahaan fintech di Indonesia.

"Dari jumlah itu, 250 perusahaan di antaranya merupakan perusahaan fintech yang beroperasi di sektor sistem pembayaran digital, seperti payment, clearing, dan settlement, serta inovasi keuangan digital dan pinjaman online, seperti deposit, lending, dan capital raising," bebernya.

Sejalan pesatnya perkembangan fintech, Bank Indonesia sebagai regulator di bidang sistem pembayaran telah mengeluarkan sejumlah kebijakan. Salah satunya menerbitkan Peraturan Bank Indoensia (PBI) Teknologi Finansial (Tekfin) pada akhir 2017.

"Sejak PBI terbit, sudah terdaftar 58 Penyelenggara Teknologi Finansial (PTF) pada BI," cetusnya.

Selain itu, BI mengeluarkan pula sejumlah kebijakan di bidang sistem pembayaran yang disusun menjadi Visi Sistem Pembayaran Indonesia Tahun 2025.

Fadil menyebutkan, salah satu implementasinya dengan peluncuran QR Code Indonesia Standar (QRIS).

QRIS bertujuan mendorong efisiensi transaksi, mempercepat inklusi keuangan, memajukan UMKM, yang pada gilirannya dapat mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Selain di bidang sistem pembayaran, imbuhnya, perkembangan lain juga terjadi pada fintech yang bergerak pada kategori deposit, lending, dan capital raising.

"Tapi, fintech kategori ini kewenangan OJK (Otoritas Jasa Keuangan)," tandasnya.


 


   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar

-->