Yamaha

Dicap Janda Herang: Saya Harap Mereka Diam

  Rabu, 04 Desember 2019   Erika Lia
ilustrasi. (Pixabay)

KEJAKSAN, AYOCIREBON.COM -- Sebutan Jahe, kependekan dari Janda Herang (Herang dalam bahasa Sunda berati Bening, Jernih, atau dalam konteks ini cantik, elok, molek), baru sekitar lima bulan terakhir melekat pada diri Asari (bukan nama sebenarnya).

Sebenarnya, dia tak suka pada penyebutan itu. Baginya, Jahe terdengar bernada sumbang dan cukup membuat keberadaannya terasa minor.

Status Janda terekat pada dirinya kala sang suami meninggal dunia akibat sakit sekitar lima bulan lalu. Kejadian itu tentunya tak termasuk dalam rencana hidup Asari, namun Dzat Yang Maha memiliki agenda lain baginya.

Dari pernikahannya yang sudah berusia sekitar dua tahun itu, Asari dan suami belum memiliki anak. Pasca sang suami meninggal di luar kota, wanita berusia 25 tahun ini kembali ke kampung halamannya di Kota Cirebon.

Dia sebenarnya memiliki dua anak tiri dari pernikahan terdahulu sang suami. Sayang, hubungannya dengan kedua anak tirinya tidaklah terlalu baik, hingga dia memutuskan kembali kepada keluarganya di Cirebon.

Sepeninggal sang suami, Asari mengaku kerap memanen godaan hingga sindiran dari orang-orang di sekitarnya. Sebutan Jahe yang disematkan pada dirinya kini seolah menjadi kabar terhangat di lingkungan tempatnya tinggal.

"Suka ada saja yang menggoda saya, menyebut saya Jahe. Kebanyakan dari lawan jenis," ungkapnya saat ditemui Ayocirebon.com di sebuah kafe di Jalan Siliwangi, Kota Cirebon, Jumat (29/11/2019).

Kesal sesungguhnya, imbuh Asari. Namun, dia tak ingin membuat masalah baru menghampirinya.

Yang lebih menyakitkan, perlakuan kurang menyenangkan turut pula diterimanya dari sesama perempuan. Meski tampak bersikap baik di hadapannya, Asari mengaku mengetahui di belakang punggungnya, perempuan-perempuan itu pun bergunjing tentang status jandanya.

Bagi Asari, yang dia terima dari orang-orang di sekitarnya, terkesan bukan sikap yang simpatik. Dia baru saja kehilangan seseorang yang disayangi, seseorang yang dia kira akan menjadi sahabat seumur hidupnya, seorang penopang, dan seorang penghalau kesepiannya.

"Berat jadi janda, tapi kayak enggak ada yang memahami rasanya. Saya itu kehilangan suami, tapi mereka (orang-orang yang menggunjing dan menggodanya) kayak enggak paham," tuturnya.

Kehilangan suami membuatnya kehilangan ritme. Asari yang biasanya mengurus suami dan rumah tangga, sepeninggal suami kehilangan rutinitas itu.

AYO BACA : Candaan Tentang Janda yang (Seharusnya) Tak Undang Tawa

Kini dia membantu orang tuanya yang membuka toko kebutuhan pokok sehari-hari. Selain keluarga, dia pun tetap menjalin hubungan dan bersosialisasi dengan teman-temannya.

Asari mencoba mencari kesibukan demi mengalihkan fokusnya dari penghakiman orang-orang sekitar. Dia menyadari, bersikap apatis terasa lebih baik ketimbang terlalu mempedulikan komentar orang lain soal status jandanya.

"Saya berusaha enggak terlalu peduli omongan orang, dibawa santai aja. Kan enggak ada perempuan yang mau ditinggal suami seperti saya ini," bebernya.

Namun begitu, dia tak mengelak, tak jarang kesedihan datang menyergap hingga tangisnya tumpah. Rasa itu seolah berlipat ketika menyadari suaminya tak lagi di sisi.

Asari tahu kehidupannya berjalan tak seperti yang dia rencanakan. Hanya di sisi lain, ketiadaan suami pula membangunkannya.

"Saya akhirnya sadar, saya harus kuat sendirian. Kan sebenarnya kita ini mengandalkan diri sendiri. Saya enggak mungkin dikasih jalan seperti ini kalau menurut Allah saya enggak kuat kan," tuturnya meyakinkan.

Di balik sikap tak menyenangkan yang diterimanya akibat stigma negatif publik atas status janda, Asari tetap mengaku bersyukur sampai kini perlakuan itu tak sampai pada level pelecehan seksual. Dia sama sekali tak mengharapkan perlakuan publik sampai pada tingkat itu.

Karenanya, dia berusaha menjaga diri dengan bersikap baik dan tak mengambil tindakan-tindakan yang merugikannya kelak. Asari hanya meyakini asanya untuk beroleh kehidupan yang lebih baik, melalui hikmah-hikmah di balik peristiwa tak menyenangkan yang terjadi atas dirinya.

"Stigma negatif orang atas janda susah diubah. Daripada sibuk mengubah stigma itu, lebih baik saya berusaha jadi lebih baik," cetusnya.

Asari sekarang berusaha fokus menggapai hal-hal baik dalam hidupnya. Menikah kembali dan menjadi ibu merupakan salah satu impian terbesarnya sebagai perempuan.

Sekalipun tak besar harapannya dapat mengubah stigma negatif publik terhadap janda, Asari memiliki satu asa besar terhadap mereka yang masih mengisi kepalanya dengan stigma itu.

"Saya harap mereka diam," tegasnya.


   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar