Yamaha

Mencermati Tata Titi Sunan Gunung Jati

  Senin, 16 Desember 2019   Erika Lia
(www.historyofcirebon.id)

HARJAMUKTI, AYOCIREBON.COM -- Petatah petitih, dalam bahasa Cirebon disebut tata titi, merupakan pesan moral yang dibungkus dalam bahasa kawi (sastra). Tata titi biasanya dicetuskan atau dituliskan sastrawan sebagai nasihat untuk keperluan budi pekerti.

Di Cirebon, beberapa tata titi telah ‘membekali’ masyarakatnya hingga kini. Satu dari Sembilan Wali (Wali Sanga), Sunan Gunung Jati atau Syekh Syarif Hidayatullah, menjadi salah satu yang dikultuskan masyarakat Cirebon, yang kata-katanya menjadi fatwa dan diturunkan sebagai nasihat sampai generasi kini.

“Sunan itu berarti susuhunan, apapun yang disampaikan Sunan Gunung Jati adalah fatwa yang kemudian jadi nasihat sampai kehidupan sekarang. Sebenarnya tak hanya Sunan Gunung Jati, ada pula wali lain, seperti Sunan Kalijaga, Sunan Bonang, dan lainnya,” ungkap Ketua Lembaga Basa lan Sastra Cirebon, Nurdin M Noer kepada Ayocirebon.com, Senin (16/12/2019).

Salah satu tata titi Cirebon yang mungkin paling populer berbunyi “Ingsun titip tajug lan fakir miskin”, yang diyakini sebagai sabda Sunan Gunung Jati.

“Artinya, ‘Saya Titip Masjid dan Fakir Miskin’,” terangnya.

Dengan kata lain, imbuhnya, Sunan Gunung Jati menitipkan setiap manusia untuk memakmurkan masjid dan menjaga fakir miskin. Menurut Nurdin, tata titi ini memiliki dimensi hablum minallah dan hablum minannas atau hubungan antara manusia dengan Allah Swt dan sosial.

Sunan Gunung Jati juga disebut-sebut bersabda lainnya. Nurdin menyebutkan sabda lain itu berbunyi “Yén puwasa den kungsi tetaling gundewa” yang berarti saat berpuasa harus kuat seperti tali gondewa.

Tali gondewa diketahui merupakan tali untuk menarik busur panah. Tata titi ini artinya, melakukan puasa harus benar-benar menahan diri dari nafsu. Ukurannya seperti menarik tali gondewa.

“Dalam cerita-cerita masa lalu, anak panah dan gondewa sering dijadikan media sayembara untuk acara perebutan salah seorang putri kerajaan. Tentu saja gondewa yang disayembarakan merupakan gondewa sakti yang tak bisa ditarik setiap orang, yang dalam hal ini artinya kuat sekali,” tuturnya.

Sunan Gunung Jati juga mengingatkan, “Ibadah kang tetep”, yang artinya ibadah harus terus menerus. Ada pula “Manah dén syukur ing Allah”, berarti hati harus mensyukuri nikmat Allah Swt.

Tata titi lain yakni “Kudu ngakehaken pertobat” atau berarti harus memperbanyak tobat. Menurutnya, pesan Syekh Syarif Hidayatullah ini hingga kini masih dipegang kalangan santri sepuh di berbagai pesantren tradisional.

“Tata titi itu sebenarnya merupakan kearifan lokal atau kearifan yang ada di lingkungan kita,” tandasnya.


   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar