Yamaha

Pameran Instalasi di Emperan Gedung Kesenian, Usaha Kenalkan Bentuk Lain Seni Rupa

  Jumat, 20 Desember 2019   Erika Lia
Perupa Cirebon, Iskandar Abeng melihat salah satu karya perupa Yos Sahulleka berjudul

KESAMBI, AYOCIREBON.COM -- Mengambil tempat di 'emperan' gedung kesenian, tujuh karya dari tujuh perupa ditampilkan dalam Pameran Instalasi Komite Seni Rupa Dewan Kesenian Cirebon. Sebuah usaha mengenalkan bentuk lain seni rupa kepada publik Cirebon.

Pameran instalasi itu digelar di teras Gedung Kesenian Nyi Mas Rarasantang, Kota Cirebon, sejak 15 Desember 2019. Jumat (20/12/2019) menjadi hari terakhir pameran itu dibuka untuk umum secara gratis.

Melalui karyanya, ketujuh perupa mencoba membangun kesadaran khalayak atas beragam fenomena sosial saat ini. Tengok saja karya perupa Daniel Adenis berjudul "Macan (T)ali".

pameran-seni-instalasi3

Salah satu seni instalasi karya Daniel Adenis berjudul "Macan (T)Ali" dalam Pameran Instalasi Pameran Instalasi Komite Seni Rupa Dewan Kesenian Cirebon, di teras Gedung Kesenian Nyi Mas Rarasantang, Kota Cirebon. (Ayocirebon.com/Erika Lia)

Karyanya menyuarakan ihwal budaya imitasi atau peniruan yang banyak dilakukan produk-produk kelas bawah. Daniel di antaranya menggunakan media tali sepanjang sekitar 30 meter yang dibentuknya menjadi simbol Kesultanan Cirebon berupa Macan Ali, di atas sebuah kain putih lebar.

Melengkapi karyanya, Daniel menambahkan sepasang sepatu hitam di bawah kain putih bergambar Macan Ali tersebut. Tali yang membentuk Macan Ali itu tersambung dengan sepatu.

"Saya mencoba membuat karya dengan memparodikan simbol populer masyarakat Cirebon (Macan Ali)," katanya kepada Ayocirebon.com.

Pria yang juga mengajar kesenian di salah satu sekolah di Kota Cirebon ini mencoba menampilkan karya bernilai high art, namun dibuat dengan materi low art atau materi tak penting. Perpaduan yang ironis itu menjadikannya suatu karya berkelas.

AYO BACA : (Kaleidoskop) Even Seni Budaya Terunik dan Seru di Kota Cirebon Sepanjang 2019

Karya Daniel bahkan bisa dijadikan lokasi swafoto. Beberapa pengunjung pun memanfaatkan kesempatan itu.

Daniel mengisahkan, idenya berawal dari perhatiannya terhadap tali. Di tengah perjalanan, muncul konsep untuk mempelesetkannya dengan simbol populer di Cirebon, yakni Macan Ali.

"Ide awalnya saya mau buat karya dari tali sepatu yang disambung sampai panjang. Tiba-tiba muncul konsep dekonstruksi alias plesetan. Yang dekat dengan tali itu kalau di cocoklogikan ya Macan Ali," ungkapnya.

Menurutnya, Macan Ali hanya sebuah imej yang dijadikan representasi dari karyanya agar bernilai kelokalan.

Untuk mewujudkan karyanya, dia sempat menghadapi kesulitan saat harus menempelkan tali menggunakan lem. Dia harus mengupayakan liuk tali terkesan alami.

Perupa lain, Iskandar Abeng menampilkan karyanya berjudul "Ruwatan". Pria yang akrab disapa Abeng itu menggunakan sejumlah media, di antaranya cabai merah dan bawang merah yang tertusuk di antara lidi-lidi sapu lidi, gentong yang ditempeli uang-uang kertas warna merah, kertas bergambar tangan yang mengenakan sarung tinju, hingga dupa.

pameran-seni-instalasi1

Iskandar Abeng nebeng di tengah karya seninya berjudul "Ruwatan" dalam Pameran Instalasi Pameran Instalasi Komite Seni Rupa Dewan Kesenian Cirebon, di teras Gedung Kesenian Nyi Mas Rarasantang, Kota Cirebon. (Ayocirebon.com/Erika Lia)

Abeng mengangkat tradisi yang merupakan penyucian manusia atas dosa/kesalahan yang sering terjadi pada diri dan menjadikannya suci kembali.

AYO BACA : Cerita Sintren, Seni Bersejarah dari Cirebon

Kertas bergambar dua tangan yang mengenakan sarung tinju dan saling bersinggungan dengan uang di antara keduanya, menunjukkan bagaimana uang kerap membuat orang saling sikut.

"Kalau sudah mengenai duniawi, setiap dari kita pasti saling berebut. Logikanya, ketika ada uang, siapa yang cepat dia yang dapat," bebernya ditemui Ayocirebon.com sebelum pameran ditutup.

Sebuah pesan dituliskan Abeng sebagai pelengkap karyanya, "Sedulur papar kelima pancen". Dia menerangkan, tulisan itu untuk mengingatkan khalayak, sejatinya semua orang bersaudara sehingga tak perlu saling berebut.

"Saling sikut itu tradisi kolonial. Bangsa kita kan kuat karena tradisi gotong royong," ujarnya.

Selain Daniel dan Abeng, lima perupa lain yang menampilkan karyanya pada pameran seni kali ini masing-masing Agus Suwanda Gemblung dengan "Mesra", Agung M Abul dengan "Visual Pollution", Niko Permadi Broer dengan "Kotak Kata", Yudha Sasmito dengan "Connected Linked Trapped", dan Yos Sahulleka dengan "Jaringan Prostiusi Online".

Abeng yang juga Ketua Komite Seni Rupa Dewan Kesenian Kota Cirebon ini mengatakan, pameran bertema "Mix Media Jalan Dulu" itu sengaja digelar untuk membukakan mata publik Cirebon atas keberadaan seni instalasi.

"Selama ini publik Cirebon lebih kenal seni rupa lain, seperti seni lukis atau seni patung. Dalam seni rupa sebenarnya ada pula seni instalasi," terangnya.

Selama ini, akunya, apresiasi publik Cirebon terhadap seni instalasi lebih rendah dibanding cabang seni rupa lain, dalam hal ini seni lukis.

Pameran seni instalasi ini sendiri merupakan kali pertama diselenggarakan pihaknya dengan sumber dana Pemkot Cirebon. Selebihnya seni instalasi di Cirebon lebih banyak digelar komunitas-komunitas perupa.

"Secara umum, seni instalasi memang belum banyak ditampilkan karena pegiat seninya pun terbatas," cetusnya.

Disinggung soal gelaran pameran di teras gedung kesenian, Abeng mengungkapkan, hal itu terpaksa dilakukan akibat terbatasnya ruang ekspresi seniman di Kota Cirebon.

"Kami hampir tak punya ruang berekspresi. Mau gimana lagi, adanya ini (gedung kesenian) dan yang memadai hanya di sini (teras gedung kesenian) karena di dalam gedung tidak representatif," keluhnya.

AYO BACA : Menyasar Pasar, Seniman Lukis Kaca Cirebon Lirik Kanvas


   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar

-->