Yamaha

Benang Merah Patung Bima Cirebon dan Patung Dewa Ruci Bali, Hingga Kelakar Ular atau Naga

  Jumat, 27 Desember 2019   Erika Lia
Patung Bima di kawasan Bima, Kelurahan Sunyaragi, Kecamatan Kesambi, Kota Cirebon. (Ayocirebon.com/Erika Lia)

KESAMBI, AYOCIREBON.COM -- Patung Bima di komplek Bima, Kelurahan Sunyaragi, Kecamatan Kesambi, Kota Cirebon, digambarkan tengah bergumul dengan naga. Belum banyak orang tahu, Patung Bima disebut punya persamaan dengan Patung Dewa Ruci di Bali.

Sejumlah perupa Cirebon sempat berseloroh ihwal hewan melata yang membelit kaki Bima pada Patung Bima. Bukan soal bentukan atau pose hewan melata itu, melainkan penggunaan warnanya.

Para perupa sepakat, sebuah karya seni realis, yang dalam hal ini Patung Bima dianggap pula sebagai monumen, eksotisme pada anatomi objek bernilai penting. Untuk menonjolkan eksotisme anatomi itu, warna natural pada objek menjadi keutamaan.

Penggunaan warna pada hewan melata Patung Bima menjadi salah satu yang dinilai perupa Cirebon sebagai suatu kesalahan. Terlebih, pewarnaan pada hewan melata itu berpotensi telah membelokkan keseluruhan epos Bima dalam Mahabharata.

Para perupa memandang hewan pada Patung Bima lebih terkesan seperti ular, meski sepengetahuan mereka hewan itu adalah naga. Pada salah satu versi epos Mahabharata, Bima dikisahkan melawan keduanya, baik naga maupun ular.

Budayawan Cirebon, Abidin Aslich memastikan, Patung Bima menceritakan pergulatan Bima dengan hewan mitos, naga.

"Ya (naga), itu saat Bima 'ditipu' Durna (atau Drona/Resi Drona) untuk mencari air 'perwitasari' atau air kehidupan. Tapi tujuan Durna sebenarnya adalah menghancurkan Bima," terangnya kepada Ayocirebon.com, Jumat (27/12/2019).

Durna atau Resi Drona merupakan guru Bima. Dalam epos tersebut, dia tak menyukai Bima.

Diselimuti ketidaksukaannya, Durna memerintahkan Bima mencari air kehidupan ke samudera. Meski dilarang para kerabatnya, Bima kukuh menjalankan tugas dari sang guru berbekal keyakinan apa yang dilakukannya sebagai darma.

Bima pun sesungguhnya memiliki ketakutan dalam hati menerima misi itu sesampainya di samudera. Namun, dia berhasil mengatasinya hingga kemudian memasuki dasar samudera.

Di sana, Bima menemukan seekor naga berukuran besar nan ganas. Naga itu digambarkan menyemburkan bisa mematikan dan bertaring tajam.

AYO BACA : Bukan Maskot McDonald, Patung Bima di Cirebon Dinilai Tak Eksotis

Keduanya lalu terlibat pertarungan, hingga naga yang kerap memakan ikan penghuni samudera itu sempat melilitkan tubuhnya ke arah Bima. Di tengah keputusasaan yang sempat menyergap, Bima menghunjamkan kukunya, Kuku Pancanaka, ke arah tubuh naga yang membelitnya.

Kuku Pancanaka dikisahkan bekerja luar biasa, hingga dalam sekejap darah naga menyembur keluar. Naga itu pun mati dan kemenangan Bima mengundang kegembiraan seisi samudera.

Di dalam samudera itulah, Bima diceritakan bertemu seorang Dewa Ruci, yang berukuran tak lebih besar dari telapak tangannya.

"Dewa ruci itu jati diri Bima. Bentuk dan rupanya sama dengan Bima, tapi lebih mini," terang Abidin yang juga dikenal sebagai Staf Ahli Wali Kota Cirebon ini.

Meski berukuran lebih kecil, imbuhnya, Bima rupanya tak sanggup mengalahkan Dewa Ruci.

Air kehidupan yang dicari Bima sendiri, menurut Dewa Ruci, ada dalam diri manusia.

Dalam epos Mahabharata itu, Dewa Ruci merupakan citra diri Bima. Pada konteks kehidupan nyata saat ini, baik Bima dan Dewa Ruci memiliki persamaan.

Bagi sebagian besar orang, seniman Patung Bima di Cirebon menjadi sebuah teka teki. Tak sedikit orang yang mengaku tak tahu kreator Patung Bima.

"Pematungnya I Wayan Winten," cetus Abidin menjawab teka teki itu.

I Wayan Winten diketahui merupakan pematung asal Bali. Berasal dari keluarga seniman, I Wayan Winten dikenal sebagai pematung Dewa Ruci di Bali.

Patung Dewa Ruci yang dibuat dari beton, dapat dijumpai kala melintas di jalur yang menghubungkan Bandara Internasional Ngurah Rai dengan berbagai kawasan di Pulau Dewata.


   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar