Yamaha

64 Desa di Kuningan Siaga Darurat Bencana Alam

  Kamis, 02 Januari 2020   Erika Lia
Ilustrasi -- Tanah longsor di Depok. (Suara.com/Supriyadi)

KUNINGAN, AYOCIREBOM.COM -- Sedikitnya 64 desa yang tersebar di 32 kecamatan se-Kabupaten Kuningan siaga darurat banjir dan tanah longsor.

Potensi bencana di sejumlah daerah meningkat memasuki tahun baru 2020, seiring meningkatnya intensitas hujan.

Di Wilayah Cirebon, Kabupaten Kuningan menjadi salah satu daerah rawan bencana dengan kategori sedang hingga tinggi.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kuningan, Agus Mauludin menyebutkan, daerah berjuluk Kota Kuda ini rentan terhadap bencana alam longsor/pergerakan tanah dan banjir.

"Kami mengidentifikasi 49 desa di 22 kecamatan berpotensi longsor maupun pergerakan tanah, sedangkan 15 desa di sepuluh kecamatan rawan banjir," katanya kepada Ayocirebon.com, Kamis (2/1/2020).

Ke-49 desa yang rawan longsor/pergerakan tanah itu masing-masing satu desa di Kecamatan Cibeureum, Cibingbin, Cigandamekar, Ciniru, Garawangi, Jalaksana, Japara, Kadugede, Lebakwangi, Maleber, dan Nusaherang.

Selain itu, masing-masing tiga desa di Kecamatan Cigugur dan Kramatmulya, masing-masing empat desa di Cilebak dan Ciwaru, masing-masing dua desa di Cimahi, Kuningan, Selajambe, dan Sindangagung, enam desa di Darma, serta delapan desa di Hantara.

Untuk 15 desa yang rawan banjir terdiri dari masing-masing satu desa di Kecamatan Cigandamekar, Cilebak, Darma, Garawangi, Jalaksana, Luragung, dan Selajambe, dua desa di Kecamatan Maleber, serta masing-masing tiga desa di Kecamatan Cibingbin dan Kadugede.

"Itu daerah-daerah yang kami identifikasi siaga darurat banjir dan tanah longsor pada 2019-2020 ini," cetus Agus.

Sepanjang 2019, tercatat 64 kali terjadi tanah longsor dan tujuh kali gerakan tanah. Banjir terdata 17 kali.

Menurutnya, sejauh ini bencana alam telah merusakkan infrastruktur, bangunan, lingkungan, hingga mengganggu kehidupan sosial masyarakat.

Pihaknya sendiri telah mengeluarkan surat keputusan siaga darurat banjir dan tanah longsor.

BPBD pun meningkatkan koordinasi dengan instansi terkait lain dalam penanganan bencana, di antaranya TNI, Polri, pihak desa dan kecamatan, maupun instansi teknis Pemkab Kuningan.

Peningkatan koordinasi salah satunya dilakukan untuk mengoptimalisasi kecepatan informasi bencana serta penanganannya.

"Kami harap pada 2020 ini bencana alam menurun," ujarnya.

Dia mengakui, BPBD memiliki keterbatasan sarana penanggulangan bencana. Karena itu, dia berharap sarana prasarana pada instansi pemerintah lainnya pun dapat dimanfaatkan saat situasi tak menguntungkan, demi kepentingan penanganan bersama.

Bagi masyarakat yang tinggal di daerah potensi bencana, Agus mengingatkan untuk meningkatkan kewaspadaan.

"Perhatikan kondisi lingkungan masing-masing, di antaranya tata buang air, sampai sampah yang jangan sampai menghambat aliran air," bebernya.

Masyarakat di daerah rawan longsor atau gerakan tanah diminta segera menutup setiap temuan retakan tanah dan menata saluran air.


   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar