Yamaha

Musim Hujan, Para Petani Garam Banting Setir

  Sabtu, 04 Januari 2020   Erika Lia
Ilustrasi petani garam. ( Quang Nguyen vinh/Pixabay )

PANGENAN, AYOCIREBON.COM --- Para petani garam di Kabupaten Cirebon menghentikan produksi selama musim hujan.

Harga garam sempat nyungsep di posisi Rp70/kg. Bukan saja karena harga murah, para petani pun menimbun garam dalam gudang sebab telah masuk musim hujan.

Di musim ini, para petani garam menghentikan proses produksi. Mereka pun beralih profesi.

"Para petani sejak turun hujan atau sekitar akhir November 2019 sudah tidak produksi lagi," kata seorang petani garam di Desa Rawaurip, Kecamatan Pangenan, Kabupaten Cirebon, Ismail, Sabtu (4/1/2020).

Sebagain dari mereka beralih jadi petani bawang, sebagain lain merantau hingga bekerja serabutan.

Rata-rata petani pun menimbun garam mereka di gudang. Ismail sendiri menimbun panenan garamnya dari tahun lalu sebanyak sekitar 130 ton.

Dia menyebutkan, harga garam sempat turun drastis menjadi Rp70/kg. Namun entah saat ini.

"Untuk sekarang saya belum tahu pasti (harga garam) karena tidak ada yang menjual garam setelah tak lagi produksi. Terakhir sih di lahan petani harga Rp70/kg, sekitar awal November 2019," ungkapnya.

Harga jual di lahan petani jauh lebih rendah dibanding harga jual di pos penimbangan garam yang mencapai Rp150-Rp200 per kilogram.

"Kalau jual di lahan, penimbangnya yang datang (menghampiri petani). Kalau jualnya di pos penimbang, petaninya yang datang bawa garam," terangnya membedakan mekanisme jual garam di lahan dan jual garam di pos penimbangan.

Harga garam yang terus nyungsep, dikeluhkan pihaknya telah membuat kondisi mereka terpuruk. Menyesali situasi itu, menurutnya, tak sedikit petani yang kemudian meninggalkan lahan garapannya di tengah masa panen.

"Karena nggak ketemu hitungannya, jadi mending kerja yang lain," cetusnya.

Untuk memproduksi garam, Ismail sendiri membutuhkan sekitar Rp20 juta selama satu musim kemarau. Dari tambak garapannya seluas kurang dari setengah hektar, dirinya menghasilkan sedikitnya 100 ton garam pada panen tahun lalu.

Saat ini, Ismail membiarkan garam menumpuk di gudang dan menanti harga jual lebih "bersahabat" bagi dirinya.

"Ditimbun (garam), nunggu harga bagus. Selama nggak kena air, aman sih garamnya, paling agak nyusut saja nanti beratnya," tuturnya.

Dia pun berharap pemerintah pusat bisa membuat standardisasi harga garam agar tak ada permainan tengkulak.

Pemerintah dimintanya pula stop impor garam, mengingat seringkali kala garam lokal melimpah, pemerintah justru impor garam.

"Petani juga butuh bantuan alat berupa geo membran supaya kualitas garam petani lebih baik, sesuai keinginan pemerintah dan supaya bisa masuk industri," harapnya.
 


   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar