Yamaha

Bandara BIJB Penting untuk Industri Pariwisata Jabar

  Senin, 30 Desember 2019   Andres Fatubun
Bandar Udara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati.

BANDUNG, AYOCIREBON.COM -- Bandar Udara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati memainkan peran penting dalam industri pariwisata Jawa Barat. 

Kepala Bidang Pemasaran Dinas Pariwisata & Kebudayaan Provinsi Jawa Barat, Iwan Darmawan, menyampaikan hal tersebut kepada ayobandung di kantornya, Kamis (26/12/2019).

Idar, sapaan Iwan Darmawan, mengatakan saat ini BIJB sudah memiliki 10 penerbangan.

"Jadi BIJB ini sekarang sudah mulai ada perkembangan yang membaik. Jadi sempat ada gonjang-ganjing yang kurang baik soal akseptasi pasar,  boleh dikatakan sekarang sudah mulai ada permintaan. Saya terima laporan sudah ada 10 penerbangan," ujar Idar.

Untuk mendongkrak jumlah kunjungan wisatawan nusantara dan mancanegara lewat BIJB, menurut Idar, promosi yang dilakukan bukan hanya soal bandaranya melainkan juga soal strategi untuk meningkatkan akseptasi pasar.

Cara yang dia lakukan adalah dengan "menyerang" pasar yaitu mempromosikan acara-acara wisata Jabar di dalam dan luar provinsi.

Dia menjelaskan BIJB merupakan bandara yang penting dalam industri wisata Jabar. Ia menggambarkan saat ini jumlah penduduk di Pulau Jawa sekitar 150 juta. Jika 15 persennya menggunakan moda transportasi udara, maka ada sekitar 15 juta penduduk yang naik pesawat terbang. 

"Katakan saja, untuk penduduk Jabar yang menggunakan pesawat ada tiga persen. Kalau dari 15 juta, berarti ada 3 juta," tutur Idar.

Selain wisatawan lokal, Disparbud Jabar pun menargetkan jumlah total kunjungan wisatawan asing hingga 2023 sebesar 3 juta.

"Nah target diatas tidak mungkin tercapai, kalau tidak ada bandara yang bisa memfasilitasi wide body airplane," katanya.

Sementara itu, untuk mempercepat akseptasi pasar, pengelola BIJB sudah membidik niche market atau pasar yang sangat fokus terhadap suatu jenis atau layanan tertentu yaitu perjalanan umrah. 

BIJB sudah mendapatkan lampau hijau dari pemerintahan pusat untuk memberangkatkan jemaah umrah per Januari 2020. Idar memperkirakan akan ada 1000-an calon jemaah yang terbang dari BIJB setiap bulannya.

Dukungan Infrastruktur
Idar mengungakapkan BIJB merupakan pintu masuk bagi Jabar dalam jangka panjang dan dinilai akan memberikan dampak signifikan pada pertumbuhan ekonomi di tanah Priangan.

Dukungan timbal balik terhadap keberadaan BIJB secara berkesinambungan terus dilakukan misalnya dengan pembangunan jalan tol Cisumdawu yang akan mempermudah akses langsung ke BIJB.

Tol Cisumdawu yang membentang sepanjang 61,5 kilometer ditargetkan beroperasi akhir 2020 dan jika sudah dioperasikan akan memangkas waktu tempuh perjalanan pulang-pergi Bandung dari 2,5 jam menjadi 45 menit.

Koneksi jalan tol lainnya yang akan terhubung dengan BIJB adalah Tol Cipali. Dari data Detail Engineering Design (DED) yang dimiliki PT Lintas Marga Sedaya (LMS) selaku pengelola, tol akses menuju BIJB terkoneksi dengan Cipali dari KM 159 daerah Kalijati dan akan tembus di KM 152 Tol Cisumdawu dari arah Bandung.

Selain koneksivitas dengan jalan tol, BIJB dinilai sangat mendukung pertumbuhan kawasan Segitiga Rebana yang meliputi Cirebon, Subang, dan Majalengka. 

Kawasan yang sempat diusulkan sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) terbesar di Indonesia tersebut memiliki industri yang berorientasi ekspor, sehingga dukungan aksesibilitas yang cepat dan efisien mutlak diperlukan.

Dengan berbagai pembangunan dan pembenahan tersebut, Idar optimis keberadaan BIJB memainkan peran penting dalam industri wisata Jabar.

"Jadi kita akan lihat lima tahun ke depan, saya prediksi akan berkembang dan ini akan berpengaruh pada perekonomian Pulau Jawa," ungkap Idar.


   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar