Yamaha

Goa Jepang Ini Jadi Lokasi Tentara Belanda Mematai Warga Majalengka

  Sabtu, 11 Januari 2020   Erika Lia
Bungker Goa Jepang di Kabupaten Majalengka yang dibangun pemerintah Belanda dan dimanfaatkan pula tentara Jepang maupun tentara nasional Indonesia. (Ayocirebon.com/Erika Lia)

MAJALENGKA, AYOCIREBON.COM -- Di Majalengka, sebuah bungker peninggalan masa kolonialisme menjadi destinasi para pemburu objek foto yang ingin memperkaya koleksi mereka di media sosial.

Bungker yang berlokasi di tepi saluran irigasi Cibudug dan persis di samping Markas Kodim 0617/Majalengka itu, saat ini dikenal dengan sebutan Goa Jepang.

Dibangun oleh pemerintah Belanda untuk memata-matai warga Majalengka, tentara Jepang menaikkan fungsinya kala mereka berkuasa di daerah berjuluk Kota Angin itu. Ini sebabnya kemudian diakrabi sebagai Goa Jepang.

"Komplek Kodim 0617/ Majalengka ini sendiri dulu merupakan kompleks tangsi pasukan militer Belanda yang dikenal sebagai tentara Koninklijke Nederlands(ch)-Indische Leger (KNIL) atau Tentara Kerajaan Hindia Belanda," ujar Ketua Grup Madjalengka Baheula (Grumala), Nana Rohmana belum lama ini.

Kala itu, pemberontakan dan pergerakan politik masyarakat Majalengka tengah nge-hits. Tak heran bila kemudian pemerintah Belanda memperketat pengawasan terhadap pergerakan politik pribumi.

Akhirnya Belanda mendirikan tangsi militer itu pada 1923. Bersamaan dengan itu, dibangun pula bungker tersebut yang bertujuan mengawasi aktivitas masyarakat Majalengka.

Bungker itu sendiri terdiri atas dua buah, yang masing-masing dilengkapi dua pintu. Ukuran bungker sekitar 5x5 meter, dengan sekat pemisah pada kedua pintunya.

Bungker itu tak kehilangan manfaatnya, pun ketika tentara Jepang menduduki Indonesia. Jepang bahkan lebih intens memanfaatkan bungker tersebut, bahkan membangun bungker baru, demi kepentingan perang Asia Pasifik yang dihadapi saat itu.

Bukan saja sebagai tempat mengawasi, bungker itu dimanfaatkan pula tentara Jepang untuk menyimpan senjata hingga menahan tawanan perang.

"Makanya bungker ini lebih dikenal dengan sebutan Goa Jepang," tuturnya.

Baru pada Era Revolusi Indonesia atau Perang Kemerdekaan Tahun 1945-1949, bungker ini dimanfaatkan para pejuang Indonesia sebagai kubu pertahanan melawan tentara NICA Belanda.

Pasukan Belanda pun sempat menyerang bungker tersebut setelah mengetahui pemanfaatannya sebagai pertahanan pejuang nasional.

Momen itu sendiri menjadi salah satu bukti perjuangan masyarakat Majalengka merebut kemerdekaan.

Setelah kemerdekaan, bungker Goa Jepang sempat direnovasi dan ditambahi material batu untuk memperkuat fondasinya.

"Tapi, itu (renovasi) jadi mengubah bentuk asli bungker," katanya.

Bukan itu saja, bungker Goa Jepang juga menghadapi tangan-tangan jahil yang melakukan aksi vandalisme di bagian dalamnya.

Padahal, imbuhnya, bungker Goa Jepang sudah didaftarkan sebagai Cagar Budaya ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan," tuturnya.


  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar

-->