Yamaha

Polisi Diminta Tuntaskan Kasus Kemunculan Kerajaan Agung Sejagat

  Rabu, 15 Januari 2020   Suara.com
Aktivitas Kerajaan Agung Sejagat sebelum divakumkan. (Facebook)

JAKARTA, AYOCIREBON.COM -- Polisi diminta mengusut tuntas fenomena munculnya Kerajaan Agung Sejagat (KAS) di Desa Pogung Jurutengah, Kecamatan Bayan, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah.

Staf Khusus Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) RI Romo Benny Susetyo mengatakan, polisi harus mengungkap motif pendirian KAS yang dipimpin oleh Totok Santosa Hadiningrat alias Sinuhun bersama perempuan bernama Dyah Gitarja alias Kanjeng Ratu.

"Apa yang dilakukan pemerintah sudah tepat dengan investigasi dan memangil bersangkutan untuk mendalami motifnya, nah di sini polisi untungnya secara cepat menangani ini, jangan berlarut-larut," kata Romo Benny saat dihubungi Suara.com, Rabu (15/1/2020).

Romo Benny menambahkan, fenomena semacam ini bukan pertama kali terjadi di Indonesia. Ia menyebut jika diselidiki hanya kedok untuk melakukan penipuan terhadap pengikutnya.

"Kan banyak juga kasus seperti ini ternyata kedoknya penipuan, ingat kasus dulu di Probolinggo, di Jogja, pengumpulan dana uang, jadi kita harus lihat motifnya itu penting," tegasnya.

Kini, Totok Santosa Hadiningrat alias Sinuhun dan Permaisurinya, Fanni Aminadia sudah ditangkap dan ditetapkan sebagai tersangka oleh Polda Jawa Tengah atas kasus dugaan penipuan publik pada Selasa (14/1/2020).

Sebelumnya Kapolda Jawa Tengah Irjen Rycko Amelza Dahniel mengungkapkan bahwa berdasarkan pemeriksaan keduanya bukan warga Purworejo. Pengikut Totok diwajibkan membayar iuran yang besarnya mencapai puluhan juta rupiah.

"Diwajibkan membayar iuran yang selanjutnya dijanjikan akan memperoleh kehidupan yang lebih baik," kata Rycko.

Untuk meyakinkan pengikutnya, Totok melengkapi dirinya dengan dokumen palsu yang berhasil menipu sekitar 150 orang dengan iming-iming terbebas dari malapetaka, bencana, dan kehidupan yang lebih baik.

Ricky menjelaskan, Totok memiliki motif untuk menarik sana dari masyarakat dengan menggunakan tipu daya.

"Dengan simbol-simbol kerajaan, tawarkan harapan dengan ideologi, kehidupan akan berubah. Semua simbol itu palsu," jelasnya.

Totok dan Fanni Aminadia dijerat UU Nomor 1/1946 tentang Peraturan Hukum Pidana serta pasal 378 KuHP tentang penipuan. Sejumlah barang bukti disita, termasuk dokumen yang diduga dipalsukan pelaku.


   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar

-->