Yamaha

Indonesia Penyumbang Sampah Makanan Kedua Dunia, Mirisnya Banyak yang Kelaparan

  Rabu, 15 Januari 2020   Suara.com
ilustrasi. (Pixabay)

JAKARTA, AYOCIREBON.COM -- The Economist Intelligence Unit pada tahun 2016 menyatakan bahwa Indonesia menjadi penyumbang sampah makanan terbesar ke-2 di dunia dengan memproduksi rata-rata 300 kg sampah makanan setiap tahunnya.

Tidak hanya itu, dilansir oleh ADB dan IFRI tahun 2016 hingga 2018 terdapat 22 juta penduduk Indonesia mengalami kelaparan dan beberapa dari mereka menderita penyakit kurang gizi alias malnutrition.

Mirisnya, makanan yang terbuang di Indonesia jika dikumpulkan dapat dikonsumsi oleh 11% penduduk dari total populasi Negara Indonesia, atau sekitar 27 juta jiwa. Namun, apa saja sih yang tergolong sebagai sampah makanan? Simak kedua jenisnya berikut ini seperti dilansir Suara.com, Rabu (15/1/2020).

1. Food loss (Kehilangan makanan)

Kehilangan makanan terbentuk sebelum makanan sampai pada tangan konsumen atau belum dapat di konsumsi oleh konsumen. Misalnya, makanan yang terbuang akibat proses produksi, penyimpanan, dan distribusi. Dapat ditemukan di supermarket, rumah tangga, restoran, kantin, kebun, dan tempat produksi atau distribusi makanan lainnya.

2. Food waste (Sampah makanan)

Makanan yang sudah layak di konsumsi oleh konsumen, namun terbuang pada tahap eceran atau konsumsi akhir. Contohnya, makanan yang tidak habis termakan, expired, tidak matang (less cooked), dan lainnya. Dapat di temukan hampir di setiap tempat yang berada di lingkungan hidup kita.

Dampak paling berbahaya yang dapat disebabkan oleh sampah makanan berawal dari emisi gas metan (CH4) dan gas karbon monoksida (CO) yang dihasilkan oleh sampah makanan atau sampah organik. Bahkan, gas-gas yang di hasilkan oleh sampah makanan 4 kali lebih banyak dari yang biasanya di produksi oleh kendaraan. Oleh karena itu, sampah makanan atau sampah organik merupakan salah satu penyumbang terbesar pemanasan global.

Apa penyebab menumpuknya sampah makanan di Indonesia?

1. Lapar mata

Sering kali, kita hanya membeli sesuatu yang kita inginkan dengan berdasarkan suasana hati (mood) atau bukan membeli sesuatu yang benar-benar kita butuhkan. Seperti contohnya saat memesan makanan, banyak orang memesan dua atau tiga varian makanan yang berbeda hanya karena ingin mencoba perbedaan rasa dari varian makanan tersebut.

Namun, rata-rata makanan tersebut tidak habis termakan, menjadi sisa makanan dan berakhir di tempat sampah. Contoh lainnya adalah saat kita membeli makanan yang sedang menjadi trend atau perbincangan hangat seperti es kepal milo, donat indomie, boba, macaron, dan makanan hits lainnya untuk di posting di media sosial agar tidak missing out atau ketinggalan tren. Sedangkan mekanan tersebut belum tentu disukai, sehingga akan tetap berakhir menjadi sampah makanan.

2. Terlalu lama menyimpan bahan makanan

Saat berbelanja di supermarket, sering kali kita membeli produk atau bahan makanan melebihi jumlah yang dibutuhkan seperti kornet, nugget, telur, mie instan, dan bahan makanan lainnya. Akibat terlalu banyak membeli, bahan-bahan makanan tersebut akan terlalu lama tersimpan dan memasuki masa-masa expired. Sehingga tidak layak lagi untuk dikonsumsi dan harus di buang ke tempat sampah.

3. Tidak tau cara memperlakukan sisa makanan

Seperti sampah lainnya, sampah makanan juga memiliki cara tertentu untuk dimusnahkan yakni bisa di manfaatkan menjadi kompos. Banyak orang yang belum sadar akan hal ini. Seperti membuang sayuran yang layu, buah yang terlihat kurang segar, membuang sisa ayam goreng yang tidak habis dimakan, dan lain sebagainya. Padahal, sayuran yang layu masih bisa digunakan dan masih layak di konsumsi, demikian juga ayam goreng yang sebenarnya jika tidak habis dimakan bisa diolah kembali menjadi menu lainnya seperti opor ayam, atau sup ayam.

Lalu, bagaimana cara yang bisa dilakukan untuk mengurangi sampah makanan di Indonesia?

1. Mengurangi kebiasaan belanja yang berlebihan

Membuat daftar belanja atau shopping list merupakan salah satu solusi terbaik agar tidak lapar mata disaat berbelanja.

2. Simpan barang belanjaan dengan benar agar tahan lama

Menyimpan bahan makanan sesuai pada tempatnya seperti daging di freezer, bawang di wadah yang berlubang dan tempat yang kering, kornet, nugget, serta bahan makanan instan lainnya di dalam lemari es dan bahan makanan lainnya.

3. Mengatur lemari penyimpanan

Aturlah posisi makanan di lemari penyimpanan dengan teratur, jangan sampai menumpuk, terlupakan, dan membusuk.

4. Terapkan system FIFO (First In First Out)

First in first out maksudnya adalah gunakan bahan makanan yang lebih dulu dibeli untuk menghindari pembusukan dan kadaluarsa.

5. Maksimalkan penggunaan bahan makanan

Bahan yang sudah layu atau terlihat kurang fresh masih bisa diolah dan layak untuk di konsumsi.

6. Olah kembali yang tersisa

Gunakan kreativitasmu untuk mengolah makanan sisa, contohnya sisa ayam goreng bisa dijadikan ayam suwir.


   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar

-->