Yamaha

Serba Serbi Imlek: Dari Cuci Rupang, Esensi Imlek, Sampai Genosida 3 Generasi

  Rabu, 22 Januari 2020   Erika Lia
Indrawati/Gouw Yang Giok menunjukkan foto sang ibu yang mengenakan setelan kebaya berkain batik Cempaka Mulyo dalam frame foto keluarga. (Ayocirebon/Erika Lia)

PEKALIPAN, AYOCIREBON.COM -- Imlek dirayakan sebagai tahun baru bagi warga Tionghoa di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Berbagai persiapan dilakukan warga Tionghoa menjelang Imlek. Kesibukan biasanya meningkat sepekan sebelumnya.

Bukan hanya di rumah masing-masing, persiapan Imlek juga dilakukan di rumah-rumah ibadah, terutama vihara dan klenteng.

Banyak hal ihwal Imlek yang mungkin belum dapat dipahami. Beberapa hal di bawah ini barangkali terdengar baru, apa saja?

Yuk simak serba-serbi Imlek yang dirangkum Ayocirebon.com berdasarkan obrolan bersama sejumlah warga Tionghoa di Cirebon.

1. Mencuci Rupang
Rupang dikenal sebagai sebutan untuk patung dewa dewi Budha dan Konghucu. Aktivitas pencucian rupang biasanya dilakukan sepekan menjelang Imlek, baik di vihara maupun klenteng, yang tahun ini jatuh pada 18-19 Januari 2020.

Pencucian rupang terbilang sederhana, cukup berbekal air dan sabun. Rupang kemudian dibersihkan dengan cara dicuci dan disikat.

Tak hanya itu, pakaian lama yang dikenakan dewa dewi itu pun diganti yang baru.

Pencucian dan penggantian pakaian rupang dilakukan warga Tionghoa yang meyakini saat ini rupang tersebut tengah "kosong".

"Kami meyakini, saat ini dewa dewi tengah melapor kepada Kaisar Langit perihal kehidupan manusia di bumi. Jadi rupang sedang 'kosong'," terang Sekretaris Yayasan Boen San Tong di kawasan Winaon, Kelurahan Pekalipan, Kecamatan Pekalipan, Kota Cirebon, Samsul Liem kepada Ayocirebon.com.

Rupang dipercaya akan kembali 'dihuni' dewa dan dewi pada tanggal 4 Imlek. Kembalinya mereka dari Langit diyakini membawa keberkahan dan hal-hal baik bagi manusia di bumi.

Itulah yang menjadi tujuan pencucian rupang, untuk menyambut kembalinya dewa dan dewi dari Langit.

"Di Vihara Boen San Tong sendiri ada 54-60 rupang yang kami cuci," imbuhnya.

2. Imlek Serupa Lebaran
Belum banyak publik yang tahu Imlek serupa dengan Lebaran Idul Fitri. Imlek merupakan momentum setiap orang berkumpul dengan keluarga besarnya, bersilaturahmi, dan saling bermaafan.

AYO BACA : Tak Sekedar Nikmat, Ini Makna Filosofis Kue-kue Imlek

"Esensi Imlek sebenarnya kumpul keluarga, bersilaturahmi, dan saling maaf-maafan. Ini seperti kewajiban," kata salah satu sesepuh warga Tionghoa Cirebon, Indrawati atau Gouw Yang Giok saat ditemui Ayocirebon.com.

Warga Tionghoa biasanya menghabiskan waktu dengan bersantap bersama keluarga pada malam menjelang Imlek. Setelahnya, barulah mereka melaksanakan sembahyang dan menyambut Imlek di rumah ibadah.

Salah satu kemeriahan Imlek diisi dengan menyalakan petasan. Suara petasan diyakini dapat mengusir roh jahat agar tak mengganggu manusia selama setahun ke depan.

Indrawati atau akrab disapa Ibu Giok mengungkapkan, tak semua keluarga Tionghoa mengetahui atau melaksanakan tradisi saling bermaafan.

"Saling bermaafan itu sama seperti saat Idul Fitri, yang muda meminta maaf kepada yang tua. Tapi, sekarang nggak semua tahu soal itu atau melakukannya," tuturnya.

Ketidaktahuan, menurutnya, dialami generasi muda saat ini. Kondisi itu diamini salah satu generasi muda Tionghoa di Cirebon, Visakha Purnama Sutanto.

"Sebagian teman-teman saya tidak melakukan sungkem kepada orang tua atau yang lebih tua. Kalau saya sendiri selalu sungkem kepada orang tua saat Imlek," ungkap pegiat Pemuda Theravada Indonesia (Patria) Vihara Dewi Welas Asih, Kota Cirebon, ini.

3. Imlek Bukan Perayaan Keagamaan
Mencoba meluruskan paradigma lama, sesepuh Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Cirebon, Surya Pranata mengungkapkan Imlek bukanlah perayaan keagamaan.

Meski kemeriahan banyak digelar di rumah ibadah tertentu seperti vihara dan klenteng, Surya meyakinkan, Imlek sejatinya merupakan perayaan warga Tionghoa secara umum.

"Imlek bukan perayaan agama tertentu, bukan milik umat Budha atau Konghucu. Yang beranggapan seperti ini kemudian menjadikan kelompok lain apriori terhadap Imlek," katanya.

Di Tiongkok, Imlek merupakan tradisi menyambut musim semi. Terkandung rasa syukur dalam tradisi ini.

"Agama silakan masing-masing. Tapi, Imlek itu perayaan warga Tionghoa secara umum, yang intinya berbagi dan bersyukur," paparnya.

4. Kebaya dan Congsam
Kebaya di masa silam menjadi pakaian yang wajib dikenakan kaum wanita Tionghoa Indonesia saat Imlek.

"Dulu ibu saya kalau Imlek pakai setelan kebaya. Atasannya disebut encim, bawahannya kain batik motif Cempaka Mulyo," cetus Giok (Indrawati).

AYO BACA : Ketika Lilin Imlek Menari di Cirebon

Cempaka Mulyo diketahui sebagai motif batik yang populer di kawasan pantai Utara (Pantura) Jawa, termasuk Cirebon.

Hanya, motif kain batik ini umumnya dipakai wanita peranakan Tionghoa yang berada. 

Selain mengenakan setelan kebaya, tak sedikit pula wanita Tionghoa yang melengkapi penampilannya dengan konde.

Namun, tradisi ini surut kala Presiden Soeharto berkuasa. Pemerintahan Orde Baru melarang Imlek dirayakan dan segala hal yang berbau Tionghoa diredam atau ditiadakan.

"Zaman Soeharto (Orde Baru) setelan kebaya nggak boleh dipakai warga Tionghoa. Imlek saja nggak boleh," ujarnya.

Belakangan muncullah congsam, yakni salah satu jenis kostum tradisional perempuan Cina. Menurut Giok, congsam menjadi pakaian modern yang kemudian banyak digunakan wanita Tionghoa pasca Presiden Gus Dur berkuasa.

"Kita (warga Tionghoa) itu berutang besar sama Presiden Gus Dur. Beliaulah yang menghidupkan kembali Imlek dan segala bentuk seni budaya Tionghoa di Indonesia," tegasnya.

Dari kebaya hingga congsam, warga Tionghoa kini rata-rata merayakan Imlek dengan pakaian lain dan kekinian yang lebih praktis.

Meski begitu, saran Giok, pakaian yang dikenakan saat Imlek sebaiknya baru. Pakaian lama disimpan karena Imlek layak disambut dan dirayakan dengan hal-hal baru sebagai pengharapan lebih baik di tahun baru.

5. Genosida Tiga Generasi
Imlek dihilangkan. Atraksi barongsai dilarang. Nama-nama Tionghoa dialihkan menjadi nama Indonesia.

Secara umum, seni budaya warga Tionghoa diredam atau bahkan dihilangkan dari permukaan kehidupan bangsa Indonesia. Itu terjadi selama masa pemerintahan Presiden Soeharto.

"Tiga generasi kita lost karena serba nggak boleh oleh pemerintahan saat itu," kenang Giok. 

Akibatnya, tak sedikit nilai-nilai leluhur kehilangan ruhnya di kalangan generasi muda Tionghoa. 

Lihat saja bagaimana budaya bermaafan saat Imlek misalnya, tak dilakoni seluruh warga Tionghoa kini. Giok menyebut kondisi itu sebagai salah satu contoh dari dampak buruk kebijakan pemerintah di masa lalu.

Tak heran, ketika Presiden Gus Dur memerintah dan menghidupkan kembali apa yang hilang itu, warga Tionghoa mengapreasiasi sosoknya sampai kini.

Setidaknya, apresiasi itu terutama dilimpahkan generasi sepuh Tionghoa Indonesia yang pernah merasakan nyaris kehilangan akar budayanya.

Namun, kerukunan menjadi nilai yang diwariskan Gus Dur melalui para sesepuh Tionghoa Indonesia.

AYO BACA : Dirayakan Seperenam Warga Dunia, Ini Fakta-fakta Menarik Imlek


  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar