Yamaha

Sembahyang Jelang Imlek, Tradisi Warga Tionghoa yang Memudar

  Jumat, 24 Januari 2020   Erika Lia
Adik Indrawati/Gouw Yang Giok, Nalendrawati melakukan sembahyang menjelang Imlek di kediamannya di Pekalipan, Kota Cirebon. (Ayocirebon.com/Erika Lia)

PEKALIPAN, AYOCIREBON.COM -- Warga Tionghoa menyebutnya sembahyang. Nyatanya, tak semua orang melakukannya.

Sekitar 18 jam sebelum malam pergantian tahun, hio dinyalakan di rumah-rumah sebagai perlambang doa yang dipanjatkan bagi para leluhur.

Empat pigura menampakkan foto diri sepasang pria dan wanita di atas hiolo (altar). Dari tampilannya, foto itu diambil dari masa lampau.

Mereka adalah orang tua Indrawati atau Gouw Yang Giok, warga Tionghoa yang juga pemerhati budaya Tionghoa Cirebon. Di kediamannya di Kelurahan/Kecamatan Pekalipan, Kota Cirebon, foto-foto diri itu dipajang di antara makanan, nasi, lauk pauk, kue-kue khas Imlek, dan buah-buahan.

AYO BACA : Toleransi dan Kebersatuan di Balik Imlek

Dilatari sebuah lukisan hitam putih negeri tirai bambu bertulisan kanji pada bagian atasnya, foto itu mengapit hio yang ujungnya terdapat bara kecil dan berasap.

Hio itu dinyalakan saat Indrawati atau akrab disapa Ibu Giok untuk bersembahyang.

"Sembahyang di rumah menjelang Imlek tujuannya untuk mendoakan leluhur. Saya mendoakan orang tua agar selamat dan dalam lindungan Tuhan di alam baka," ungkapnya saat ditemui Ayocirebon.com seusai sembahyang di kediamannya, Jumat (24/1/2020).

Sembahyang dilaksanakannya bersama anggota keluarga yang lain, termasuk cucu. Dia menyebutkan, makanan yang disiapkan di atas hiolo merupakan makanan-makanan kesukaan orang tua semasa hidup, terutama olahan sayur.

AYO BACA : Warga Tionghoa Cirebon Ramai-ramai Tukar Uang untuk Angpao

Selain mendoakan leluhur, dia juga mendoakan kehidupan yang lebih baik untuk anak cucunya.

Menurut Giok yang memiliki batik peranakan ini, sembahyang menjelang Imlek yang dilakukan di rumah-rumah merupakan tradisi.

"Ritual ini dilaksanakan hanya bagi yang percaya. Ini lebih sebagai tradisi menjelang Imlek saja bahwa yang masih hidup harus mendoakan leluhur yang sudah berpulang," terangnya.

Dia menuturkan, tradisi sembahyang menjelang Imlek di rumah kini sudah tak lagi banyak dilakukan warga Tionghoa. Kondisi itu merupakan dampak dari kebijakan pemerintahan Orde Baru yang melarang segala bentuk identitas warga Tionghoa.

Bila dipersentasikan, imbuhnya, hanya sekitar 30%-40% warga Tionghoa yang masih melakukan sembahyang di rumah seperti yang dilakukannya.

"Ada agama yang memang melarang sembahyang ini. Tapi sebenarnya ini lebih kepada tradisi yang selayaknya harus dilestarikan," katanya.

AYO BACA : Serba Serbi Imlek: Dari Cuci Rupang, Esensi Imlek, Sampai Genosida 3 Generasi


  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar