Yamaha

TPI Tak Memadai, Sebagian Kapal Nelayan Indramayu Pilih Luar Daerah

  Sabtu, 25 Januari 2020   Erika Lia
ilustrasi nelayan. (Dok. kkp.go.id)

INDRAMAYU, AYOCIREBON.COM -- Kondisi tempat pelabuhan ikan (TPI) di Kabupaten Indramayu yang kurang memadai memicu sebagian kapal nelayan setempat melakukan bongkar muatan hasil tangkapan ikan di luar daerah.

Dinas Perikanan dan Kelautan (Diskanla) Kabupaten Indramayu mendata, jumlah kapal nelayan di wilayah ini mencapai 6.074 unit. Ukurannya beragam, mulai dari >0-5 GT sampai >100-200 GT.

Dari jumlah itu, kapal yang berukuran antara 30-200 gross ton (GT) mencapai 368 buah. Kapal-kapal inilah yang banyak melakukan bongkar muatan di luar Indramayu.

Kepala Diskanla Indramayu AR Hakim membandingkan jumlah kapal nelayan Indramayu yang bongkar muatan di Indramayu dan luar Indramayu, sama.

"Perbandingannya fifty-fifty (50:50)," katanya.

Pemkab Indramayu sebenarnya merugi akibat kondisi tersebut karena kehilangan banyak potensi pendapatan asli daerah (PAD) perikanan.

Hanya, dia tak menampik kondisi TPI Indramayu sendiri memprihatinkan, termasuk sarana dan prasarananya.

TPI bahkan tak bisa menampung hasil tangkapan ikan nelayan seluruh kapal asal Indramayu.

TPI Karangsong menjadi salah satu TPI yang memprihatinkan. Padahal, TPI itu merupakan sentra perikanan terbesar di Kabupaten Indramayu.

Kapal-kapal besar berukuran lebih dari 50 GT berasal dari TPI ini. Menurutnya, salah satu keterbatasan sarana di TPI Karangsong berupa minimnya cold storage.

"Cold storage yang ada cuma bisa menampung 160 ton hasil tangkapan ikan nelayan," ungkapnya.

Seharusnya, rata-rata hasil tangkapan ikan dari satu kapal besar di Karangsong bisa mencapai sekitar 200 ton. Terlebih, jumlah kapal besar di TPI Karangsong ratusan unit.

Dia menambahkan, situasi itu menyebabkan bongkar muatan di TPI Karangsong mengantri hingga sekitar tiga minggu.

"Akhirnya banyak kapal asal Karangsong yang memilih bongkar muat di luar Indramayu, seperti Muara Angke Jakarta, dan lainnya," katanya.

Mereka harus mengambil pilihan itu karena mesin kapal harus terus menyala selama mengantri demi menjaga kesegaran ikan. Pilihan inilah yang menimbulkan kerugian bagi mereka.

Lamanya antrian bongkar muatan pula di sisi lain menyebabkan tertundanya waktu keberangkatan kapal-kapal itu. Ini juga berimbas pada penghasilan para pemilik kapal, nakhoda, dan anak buah kapal (ABK).

Untuk mengatasi situasi tersebut, pihaknya mencoba mengembangkan Karangsong sejak 2016. Sayang, realisasi terhambat nilai anggaran yang besar.

Dalam pengembangannya sendiri, Karangsong akan dilengkapi beragam sarana, di antaranya unit pengolahan ikan, kolam labuh, docking, galangan kapal, hingga TPI higienis beserta kelengkapan instalasi pengolahan air limbah (IPAL), sertabkampung nelayan modern (KNM).

Kapasitas cold storage pun diupayakan bertambah menjadi 1.000 ton. Pengembangan kawasan ini bahkan diagendakan dilengkapi dengan wisata.


  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar