Yamaha

Pengelola Bong Keluhkan Bangli, Pemkot Cirebon Ditawari Konsep Ini

  Selasa, 04 Februari 2020   Erika Lia
Salah satu bangunan yang berdiri di atas lahan bong di kawasan Penggung, Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon, yang telah difungsikan sebagai RTH. (Ayocirebon.com/Erika Lia)

HARJAMUKTI, AYOCIREBON.COM -- Peralihan dua komplek bong seluas sekitar 30 ha di kawasan Penggung, Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon, menjadi ruang terbuka hijau (RTH), mulai berlaku manakala selama sekitar 30 tahun Hak Guna Bangunan (HGB) atas lahan tersebut tak diperpanjang.

Tanah pemakaman itu kini berstatus milik Negara. Penanganan pemakaman warga Tionghoa di komplek bong itu kini dikelola sebuah badan hukum bernama Yayasan Cirebon Sejahtera.

"Dulu kepemilikan tanah (bong) ini adalah HGB oleh yayasan kami. Tapi, karena selama sekitar 30 tahun HGB tidak diperpanjang, akhirnya jadi milik Negara," ungkap Ketua Yayasan Cirebon Sejahtera, Hadi Susanto Salim, Selasa (4/2/2020).

Pihaknya menduga, karena sudah lama tiada aktivitas di komplek bong tersebut, sejumlah warga kemudian memanfaatkan situasi dengan mendirikan bangunan.

Bukan saja rumah, tempat usaha pun dibangun di area yang lokasinya tak jauh dari rumah dinas Wakil Wali Kota Cirebon itu.

Dia bertaruh, bangunan yang ada di atas lahan bong, baik Ku Tiong (pemakaman lama) dan Sin Tiong (pemakaman baru), didirikan tanpa izin mendirikan bangunan (IMB) alias bangunan liar (bangli).

"Pasti tidak ada IMB itu (bangunan). Mereka membuat bangunan, padahal jelas tanahnya tanah pemakaman," cetusnya.

AYO BACA : Praktik Ilegal Pembongkaran Bong dan Sentilan Toleransi di Cirebon

Dengan mendirikan bangunan, imbuhnya, praktis mereka membongkar dahulu makam yang sebelumnya ada di sana.

Hadi pun meminta Pemkot Cirebon mendirikan pagar yang dilengkapi gapura di komplek bong tersebut untuk mencegah yang tak berkepentingan masuk.

Pihaknya tak menghendaki bong, walau telah beralih fungsi sebagai RTH, dimasuki sembarang orang, bahkan mendirikan bangunan di sana.

Sebaliknya, lanjut dia, pihaknya berencana menjadikan area tersebut sebagai RTH berkonsep agrowisata. Untuk ini, dia akan meminta pihak kelurahan setempat mengajak ketua RT dan RW berunding.

"Karena sudah ditetapkan Pemkot Cirebon sebagai RTH, bisa ditanami pohon. Kita berunding, pohon atau tanaman apa, nanti masyarakat yang merawatnya," paparnya.

Dia meyakinkan, tak hendak berebut kepemilikan lahan bong dengan siapapun. Pihak yayasan dahulu tak memperpanjang HGB, sehingga otomatis tanah tersebut kini milik Negara.

"Saya tidak ingin berebut kepemilikan. Setidaknya ciptakan RTH dan bukannya dibangun banyak bangunan liar seperti saat ini," tuturnya.


   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar