Yamaha

Kondisi WNA Asal Hubei Normal, Pengawasan Tetap Berlaku

  Rabu, 05 Februari 2020   Erika Lia
Dokter spesialis paru-paru Rumah Sakit Daerah Gunung Jati (RSDGJ), Kota Cirebon, Syifa Imelda (kedua dari kanan), yang bertanggung jawab atas kondisi XC, WNA asal Hubei yang dirawat di ruang isolasi RSDGJ. (Ayocirebon.com/Erika Lia)

KESAMBI, AYOCIREBON.COM -- Kondisi XC (25), seorang perempuan WNA asal Provinsi Hubei, Tiongkok, hingga Rabu (5/2/2020) diklaim normal.

Dokter spesialis paru-paru Rumah Sakit Daerah Gunung Jati (RSDGJ), Kota Cirebon, yang bertanggung jawab atas kondisi XC, Syifa Imelda menjelaskan, XC diketahui sudah mengeluh suhu tubuhnya tinggi sebelum menginjakkan kaki di tanah air pada 1 Februari 2020.

"Pasien XC sudah mengeluh pada 30 Januari 2020 badannya panas dan dapat obat penurun panas. Baru pada 1 Februari 2020, pasien XC terbang ke Indonesia," ungkapnya, Rabu (5/2/2020).

Kondisi tubuhnya melemah setelah XC berlatih tari topeng di sebuah sanggar seni di Desa Barisan, Kecamatan Losari, Kabupaten Cirebon. Berlatih tari di sana diketahui menjadi tujuannya datang ke Indonesia.

Saat dibawa ke RSDGJ pada Selasa (4/2/2020), Syifa menyebut, suhu tubuh XC 37,7 derajat Celcius. Meski dalam batas normal, XC mengeluhkan pula batuk dan sakit tenggorokan, hanya tanpa sesak nafas.

Sesuai prosedur tetap, pasien dengan suhu tubuh itu tergolong sebagai pasien dalam pengawasan.

AYO BACA : RSD Gunung Jati Isolasi WNA Asal Provinsi yang Beribukota Wuhan

"Kami berkoordinasi dengan RS Hasan Sadikin Bandung dan menyimpulkan pasien XC dalam pengawasan," cetusnya.

Namun begitu, imbuhnya, dari hasil pemeriksaan rontgen dada (thorax) dan pemeriksaan laboratorium darah, seluruhnya dalam batas normal. Begitu pun dengan fungsi hati dan ginjalnya yang tanpa masalah.

"Dari hasil rontgen dada, tidak terlihat pneumonia (radang paru-paru). Pasien pun tak memiliki riwayat pneumonia," bebernya.

Dia memastikan, XC masih dirawat di ruang isolasi. Meski sejauh ini kondisinya telah stabil, XC masih batuk dan sakit tenggorokan.

"Tapi, menurut pasien sudah tidak terlalu mengganggu (batuk dan sakit pada tenggorokan)," sambungnya.

Pengawasan di ruang isolasi akan terus dilaksanakan seraya menanti hasil pemeriksaan terhadap sampel apus hidung dan tenggorokan (swan nasofaring), dahak (sputum), dan darah (serum) oleh Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BBTKL-PP).

Syifa menyebut, mengingat asalnya dari Provinsi Hubei yang beribu kota Wuhan, Tiongkok, kondisi XC terbilang beresiko tinggi. Karena itu, pihaknya akan terus mengawasi sekalipun telah normal.

AYO BACA : Belajar Tari Topeng, Tujuan WNA Asal Hubei Datang ke Cirebon


   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar