Yamaha

Pariwisata Indonesia Disebut Bisa Rugi Puluhan Triliun karena Corona

  Jumat, 07 Februari 2020   Republika.co.id
Ilustrasi -- Goa Sunyaragi menjadi salah satu obyek wisata pelengkap Makam Sunan Gunung Jati disebut jadi destinasi primadona para pelancong saat ke Cirebon. (Ayocirebon.com)

JAKARTA, AYOCIREBON.COM -- Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio menyebut potensi kerugian pariwisata Indonesia akibat wabah virus korona baru (2019-nCoV) di berbagai negara mencapai hingga 4 miliar dolar AS atau setara Rp56 triliun.

Potensi kerugian tersebut tak hanya berasal dari menurunnya wisatawan asal Cina, tetapi juga dari sejumlah negara lainnya.

“Jadi, kalau kita bicara average per tahun, kita potential loss-nya sekitar 4 miliar dolar AS, termasuk di luar Cina,” ujar Wishnutama saat menghadiri rakor dampak virus korona di kantor KSP, Jakarta, Kamis (6/2/2020).

Wishnutama menjelaskan, jumlah wisatawan Cina mencapai 2,07 juta pengunjung pada tahun lalu dan menyumbang 2,8 miliar dollar AS pendapatan negara. Namun, merebaknya virus korona ini tak hanya berdampak terhadap wisatawan asal Cina, tetapi juga negara lainnya.

“Itu dampak langsung wisatawan dari Tiongkok. Tapi, kalau terjadi tren negatif dari wisatawan lain akan berpengaruh secara psikologis dan takut tertular dan sebagainya pasti punya dampak lain,” ucapnya.

Untuk mengantisipasi penurunan jumlah wisatawan, pemerintah pun menargetkan peningkatan jumlah wisatawan domestik ke beberapa destinasi wisata. Namun, ia juga tak bisa menargetkan berapa banyak jumlah wisatawan domestik yang dapat menutup kerugian pariwisata di sejumlah daerah ini.

“Karena, kita belum tahu sampai seberapa panjang wabah virus korona ini terjadi. Semakin panjang, semakin besar untuk meng-cover-nya,” kata dia.

Ia memperkirakan, virus korona ini bisa berdampak lama terhadap pariwisata Indonesia. Sebab, saat ini hingga tiga bulan ke depan merupakan musim di mana masyarakat memesan tiket perjalanan untuk libur musim panas nanti.

“Jadi, apa yang terjadi hari ini dampaknya bisa lebih panjang, katakan wabah ini terjadi satu-dua bulan atau tiga bulan. Tapi, dampaknya bisa lebih panjang karena kita harus tahu kebiasaan traveler suka booking untuk musim panas bulan Juli-Agustus sehingga akan kena dampak juga,” kata Wishnutama menjelaskan.

Sejumlah destinasi wisata pun disebutnya telah merasakan dampak penyebaran virus korona ini, seperti pariwisata di Bali, Sulut, Bintan, dan juga Batam. Selain meningkatkan jumlah wisatawan lokal, pemerintah juga akan meningkatkan industri MICE.

“Tapi, apakah bisa cover atau tidak sekarang, sangat sulit karena kita belum tahu sampai kapan wabah virus korona ini,” ujar dia.


   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar