Yamaha

Valentine Day untuk Siapa?

  Kamis, 13 Februari 2020   Redaksi AyoBandung.Com
Ilustrasi. (Ist)

Saya sangat mendukung sekali Dinas Pendidikan Kota Bandung yang telah mengeluarkan Surat Edaran yang meminta seluruh kepala sekolah SD dan SMP di Kota Bandung untuk melarang anak didiknya tidak merayakan hari valentine. Bahkan saya mengharapkan untuk disusul di kota-kota lainnya juga.

Valentine adalah budaya remaja modern yang tidak Islami bersumber dari kaum Nasrani. Valentine yang selalu diperingati setiap tanggal 14 Februari itu merupakan salah satu jebakan dari musuh-musuh Islam untuk menghancurkan generasi muda Islam. Mereka tidak sadar, nilai-nilai yang terkandung dalam valentine day sebenarnya ‘akidah’ Kristen.

Valentine’s day itu adalah sinkritisme hasil perpaduan antara budaya dan agama pagan dengan agama Katholik, yang dilakukan oleh Paus Gelasius pada tahun 498 M. Jadi, valentine day bukan hal yang baru.

Semua berawal ketika seorang Gelasius khawatir melihat pengunjung gereja hanyalah kakek nenek. Sehingga Gelasius menyadari dan cemas akan masa depan gereja, maka ia membawa budaya yang sedang populer di kalangan Kristen itu masuk ke gereja untuk perubahan.

Jika di lihat dari negara asalnya, valentine day itu berasal dari Athena. Di Athena, valentine day adalah peringatan pernikahan Zeus dan Hera. Peringatan pernikahannnya di sebut Gamelion yang diminati oleh muda-mudi, tapi ada fakta lain yang tak banyak diketahui orang, bahkan orang Kristen sendiri, yaitu Zeus dan Hera adalah kakak beradik.

Galesius mengadopsi budaya tersebut masuk ke dalam agama Kristen, tapi diganti tokohnya dengan seorang pastur bernama Valentino yang dikabarkan di bunuh oleh penguasa saat itu karena membela atau menyebarkan kasih sayang.

Peringatan tersebut dilarang oleh beberapa gereja besar, salah satunya Gereja Ortodoks Timur antara lain Rusia, yang tidak tunduk pada Vatikan. Bahkan gereja tidak memperbolehkan perayaan tersebut dirayakan oleh pelajar, pegawai negeri dan pegawai negara.

Menurut penelitian Gereja Ortodoks ‘Sean’ (orang suci) bernama Valentino itu tidak ada. Dengan kata lain, Valentino itu hanya tokoh fiktif. Sehingga semua kegiatan tentang valentine dilarang karena hanya berisi perbuatan maksiat.

Banyak yang salah mengartikan tentang valentine day tersebut, karena faktanya valentine day sendiri bukanlah termasuk hari besar. Valentine day adalah sebuah hasil dari budaya yang disalahartikan.

Natal sendiri itu bukan seperti hari besar, karena di negara-negara lain yang mayoritas beragama Kristen, perayaan natal hanya dianggap sebagai hari libur biasa dan hanya di Indonesia perayaan natal diadakan dengan sangat meriah dan berlebihan seperti halnya valentine day.

Miris, hari ini perayaan tersebut dilakukan oleh kaum muda Muslim. Pemuda dan pemudi Muslim yang sedang dalam fase pertumbuhan, tapi ikut merayakannya tanpa mengetahui sejarah apapun mengenai perayaan tersebut.

Suasana iman seseorang itu kadang naik, kadang turun. Ketika iman sedang naik, orang bisa dicegah tanpa diberitahu, tapi jika iman sedang goyah terutama dalam fase pencarian jati diri, mereka lebih ingin mencari tahu banyak hal tanpa peduli tentang iman.

Dalam situasi seperti itu, disamping peran pemerintah untuk melarang, peran orang tua juga sangat penting untuk terus mengawasi anak mereka. Tidak peduli mereka sudah kuliah, atau dewasa, tentu mereka tetap butuh pengawasan dalam mengambil tindakan dan keputusan yang akan mereka perbuat. Wallahua'lam

Netizen: Tawati (Muslimah Revowriter Majalengka dan Member Writing Class With Hass)


  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar