Yamaha

Ini Kunci Mendorong Ekosistem Halal

  Kamis, 13 Februari 2020   Eneng Reni Nuraisyah Jamil
Ilustrasi wisata halal -- Masjid Raya Bandung. (Ist)

BANDUNG, AYOCIREBON.COM -- Produk halal telah menjadi ekosistem baru dalam bisnis dunia dengan nilai fantastis dan sangat menjanjikan. Bukan hanya bagi masyarakat muslim tetapi juga untuk semua kalangan. Tak heran jika di negara lain seperti Jepang, Korea Selatan, Inggris, Rusia, Tiongkok, dan Eropa Tengah berlomba-lomba membangun berbagai fasilitas demi mengembangkan bisnis produk halal.

Kondisi itu tak terlepas dari potensi ekonomi industri halal yang sangat besar. Mengutip data Global Islamic Economy Report (GIER) 2016-2017, hingga tahun 2021 konsumsi makanan halal, produk keuangan Islam, travel, fashion, media dan rekreasi, kesehatan, serta kecantikan meningkat pesat. Di sisi lain, pertumbuhan penduduk Muslim di negara bersangkutan pun turut memicu kebutuhan akan konsumsi halal.

Populasi Muslim dunia diperkirakan mencapai 2,2 miliar jiwa pada 2030 atau 23% populasi dunia. Jumlah terbanyak ada di Asia Pasifik, Timur Tengah, Afrika Sub-Sahara, Eropa, hingga Amerika Utara dan Amerika Latin. Populasinya diperkirakan akan bertambah menjadi 29% populasi dunia hingga 2050.

Di Indonesia, industri halal menjadi sektor prioritas yang dikembangkan pemerintah melalui masterplan Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS) 2019. Pengembangan ekosistem halal berkaitan erat dengan besarnya potensi yang dimiliki negara ini. Berdasarkan laporan Global Islamic Economy, Indonesia merepresentasikan pasar industri halal terbesar di dunia dengan nilai spending USD 218,8 miliar pada 2017. Nilai ini akan terus bertambah sekitar Compound Annual Growth Rate (CAGR/rasio pertumbuhan rata-rata gabungan) 5-6% per tahun.

Pemerintah juga fokus untuk mengembangkan destinasi wisata halal. Berdasarkan data laporan Global Islamic Economy Summit, belanja wisata halal tercatat turn over USD 184 miliar pada 2017, terutama dari negara-negara Gulf Cooperation Council (GCC) yang jumlahnya relatif sedikit, tetapi mempunyai rata-rata pengeluaran sampai USD 5.000 per kunjungan. Pada 2023, diperkirakan pangsa pasar wisata halal akan mencapai USD 177 triliun.

Sementara di sektor makanan dan minuman halal, saat ini menjadi sektor dengan potensi terbesar di Indonesia. Pada 2018, belanja produk makanan dan minuman halal Indonesia mencapai USD 170,2 miliar. Sektor ini merupakan yang terbesar dari industri halal dan dapat berkontribusi sekitar USD 3,3 miliar dari ekspor Indonesia ke negara-negara Organisasi Kerjasama Islam (OKI), sekaligus negara-negara non-OKI dengan jumlah penduduk Muslim berlimpah seperti Prancis dan Inggris.

Karenanya, kesadaran masyarakat Indonesia terhadap halal gaya hidup halal menjadi peluang baru pertumbuhan perbankan syariah dan industri halal. Peluang pengembangan ekosistem halal di Indonesia ini bahkan semakin baik dan variatif.

Semisal, pertumbuhan ekosistem halal ini mendongkrak pertumbuhan pangsa pasar perbankan syariah. Halal food punya potensi Rp2.300 triliun, Islamic fashion hingga Rp190 triliun, Islamic tourism mencapai Rp135 triliun, haji dan umrah sebesar Rp120 triliun, dan pendidikan berpotensi Rp40 triliun. Potensi itu belum mencakup seluruh pendapatan seperti Dana Pihak Ketiga (DPK), pembiayaan, dan transaksi bank lainnya yang berasal dari nasabah Muslim.

Ketua Prodi Ekonomi Islam Universitas Padjadjaran, Cupian menyampaikan ekosistem halal di Indonesia ini memiliki potensi yang luar biasa. Sayangnya, industri keuangan syariah dan industri halal masih berjalan masing-masing alias belum terintegrasi. Alhasil belum memiliki kontribusi terhadap pendapatan negara.

“Diperlukan sebuah sinergitas ekosistem halal yang terintegrasi hingga dapat mengerakkan lebih banyak pihak. Ini juga bergantung dari kembijakan pemerintah. Kalau ada kebijakan yang mendorong ke arah sana ,itu bisa mendorong halal industri untuk tumbuh pesat. Tapi sayangnya sekaranh belum mengarah kesana," kata Cupian dalam acara Sawala Bincang Bersama Media Jawa Barat bertema Mendorong Ekosistem Halal Melalui Perbankan Syariah di Savoy Homann Bidakara, Kamis (13/2/2020).

AYO BACA : Berpotensi Besar, Perbankan Syariah Perlu Didukung

Selain itu, Cupian juga menyebut, dalam rangka meningkatkan dan mendorong ekosistem halal salah satunya dengan sinergitas antara perbankan syariah dengan Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH). Sebab, Perbankan syariah juga dinilai belum optimal menggarap peluang penyaluran pembiayaan ke industri halal, termasuk para pelaku usaha berbasis syariah yang bergerak di sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

"Jaminan halal juga sangat mendukung untuk integrasi tersebut. Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) sebenernya peluang untuk mendorong itu. Karena potensi penerapan keuangan syariah ini sangat mulai dari restoran, traveling, hotel, turism, pendidikan, bahkan rumah sakit,” katanya.

Sementara itu dari segi pelaku perbankan syariah, Pemimpin Divisi Penyelamatan dan Penyelesaian Pembiayaan bank bjb syariah, Asep Syarifudin mengatakan, bjb syariah memiliki strategi untuk pengembangan industri halal ini. Sejumlah strategi itu salah satunya berupa inovasi produk, mempermudah akses produk dan layanan, serta meningkatkan promosi dan literasi industri halal.

"Secara teknologi juga kita terus mengembangkan diri. Hanya saja berbicara peluang dan tantangannya perbankan syariah harus lebih dari sekadar bank. Apa syaratnya? say no to kredit karena di kami ada prinsip jual beli, prinsip bagi hasil, dan jasa, tidak ada kredit," kata Asep.

Asep juga menyampaikan, melalui pengembangan digital banking untuk memudahkan masyarakat di dalam memiliki kepercayaan diri untuk mulai beralih pada keuangan syariah.

"Jadi frame yang harus kami hadapi bagaimana meliterasi bahwa produk kami ini dijamin halal. Bahkan di bidang pendanaan kita murni bagi hasil dengan apa yang kita peroleh Makanya meliterasikan ini perlu dilakukan agar masyarakat memiliki level kepercayaan diri yang baik untuk keuangan syariah," kataya.

Meski demikian, Asep menyadari masih banyak tantangan yang dihadapi untuk memperkuat ekosistem halal tersebut. Apalagi wacana target market share ekosistem halal di Jabaragar bis amencapai di angka 20%. Salah satunya penguatan literasi kepada msyarakat, sinergi, dan kolaborasi yang dilakukan dengan berbagai pihak diharapkan akan memperkuat keuangan syariah.

"Kalau untuk 20% target market share ekosistem haha ini sudah bisa berjalan, saya optimistis angka itu bisa kita capai. Salah satu BJBS bisa jadi leader 20% pangsa pasar. Makanya tantangan kita bagaimana meyakinkan masyarakat kalau industri ini halal. PR kami juga bagaimana kami meyakinkan para pengusaha Umkm, jangan melihat pembiayaam bank syariah itu sebagai dana hibah. Stigma ini harus hilang untuk tumbuhnya ekosostem halal," ujarnya.

Sementara itu, Kepala Bagian Pengawasan Nonbank OJK Kantor Regional 2 Jawa Barat Noviyanto Utomo mengatakan, pemerintah akan senantiasa mendukung optimalisasi ekosistem ekonomi syariah. Tujuan utama tentunya membentuk lembaga perbankan syariah di Indonesia yang stabil, kontributif, dan inklusif.

“Sinergi dan semangat berjemaah antar pemangku kepentingan harus terus ditingkatkan untuk menciptakan industri keuangan syariah bisa menjadi instrumen keuangan yang dipercaya masyarakat Indonesia. Apalagi Kalau di Jabar, kami optimis pangsa pasar bank sayriah itu naik terus. Memang butuh waktu, tapi kalau bank syariah sudah siap, investasi untuk teknologi meningkat juga, perbankan syariah mash bisa berkembang," ujar Noviyanto.


   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar