Yamaha

'Aku' di Antara Isun, Reang, dan Varian Panggilan Khas Cirebon

  Sabtu, 15 Februari 2020   Erika Lia
Ilustrasi varian sebutan diri 'Aku' di Cirebon.

WERU, AYOCIREBON.COM -- Wilayah Cirebon yang terdiri dari lima daerah, masing-masing Kota Cirebon, Kabupaten Cirebon, Kabupaten Indramayu, Kabupaten Majalengka, dan Kabupaten Kuningan, atau diakrabi pula dengan sebutan Ciayumajakuning, menjadi satu kawasan di Jawa Barat dengan setidaknya dua kultur berbeda.

Masyarakat yang tinggal di Kabupaten Majalengka dan Kabupaten Kuningan, serta sebagian Kabupaten Cirebon, mengakrabi kultur Sunda. Dalam keseharian, bahasa Sunda menjadi tuturan mereka.

Lain halnya dengan masyarakat yang bermukim di Kota Cirebon, Kabupaten Indramayu, dan sebagian lain Kabupaten Cirebon, yang kental dengan kultur Jawa. Praktis, keseharian mereka pun menggunakan bahasa Jawa.

Dari satu bahasa yang digunakan masyarakat Cirebon Jawa, terdapat ragam yang digunakan masyarakatnya. Ragam bahasa itu dipengaruhi letak daerah masing-masing.

Salah satu ragam bahasa itu berupa panggilan diri. Di Cirebon yang lekat dengan kultur Jawa, penyebutan diri 'Aku' bermacam-macam lho, di antaranya Isun, Kula/Kulo, Seliraku, Reang, Kita/Kito, ataupun Enyong.

"Perbedaan panggilan diri 'Aku' itu dipengaruhi letak geografis," kata Ketua Lembaga Basa lan Sastra Cerbon, Nurdin M Noer kepada Ayocirebon.com, Sabtu (15/2/2020).

Di antara ragam penyebutan diri itu, isun, kula/kulo, seliraku, kita/kito, maupun enyong, kerap dijumpai dalam percakapan masyarakat Kota Cirebon dan Kabupaten Cirebon.

"Isun sampai sekarang masih dipakai masyarakat Kota Cirebon dan sekitarnya," ujar Nurdin yang juga dikenal sebagai mantan wartawan ini.

Menurutnya, bahasa Cirebon Jawa kebanyakan dipengaruhi bahasa Sansekerta. Isun salah satunya, berasal dari kata 'Sun' yang bertransformasi menjadi 'Ingsun' sebelum kemudian menjadi kata yang sekarang digunakan.

Kula berasal dari kata 'Kawula' yang berarti sahaya dan menjadi saya. Kulo sendiri serupa dengan kula, hanya banyak digunakan masyarakat di Plered dan sekitarnya, yang kerap mengganti setiap akhiran 'a' menjadi 'o' pada hampir semua kata Cirebon Jawa.

Penggunaan kata enyong sendiri banyak digunakan masyarakat di sekitar Ciledug dan sekitarnya di Kabupaten Cirebon, yang berbatasan dengan Brebes, Jawa Tengah.

Panggilan lain, seperti reang, lazim digunakan masyarakat Indramayu. Begitu juga dengan kita dan kula, yang pula familiar di sana.

Serupa dengan isun dan lainnya, lanjut Nurdin, kata reang juga berasal dari bahasa Sansekerta, masing-masing 're' dan 'hyang'. Artinya hamba Tuhan.

Seluruh panggilan itu sendiri memiliki strata. Panggilan isun, kita/kito, reang, enyong, misalnya, hanya digunakan dalam percakapan dengan rekan sebaya.

Lain halnya dengan kula/kulo dan seliraku yang hanya boleh digunakan dalam percakapan sopan atau dengan yang lebih tua. 

Di antara sebutan diri itu, sebutnya, seliraku yang juga berasal dari bahasa Sansekerta, menjadi salah satu bahasa Cirebon Jawa yang nyaris punah.

"Sekarang sih sudah banyak yang tidak menggunakan kata itu (seliraku) lagi," ungkapnya.

Pada masa lalu, seliraku intim digunakan dalam percakapan masyarakat di kawasan Gegesik maupun Bedulan (kini berganti menjadi Suranenggala di Kabupaten Cirebon.

Perkembangan zaman membuat kata ini kini tak banyak dikenal masyarakat Cirebon umumnya. Rata-rata masyarakat mengenal kata ini digunakan di Jawa Tengah.

"Bahasa, seperti juga manusia, ada saling isi, ada saling menyingkirkan," paparnya.

Dia menyebutkan, penggunaan bahasa Cirebon Jawa sendiri tak lepas dari kekuasan Kerajaan Mataram di tanah Cirebon. 

Di masa lalu, masyarakat Cirebon menggunakan bahasa Sunda kuno dalam percakapan kesehariannya.

"Tapi, di masa kekuasaan Mataram, priyayi Cirebon dipaksakan belajar bahasa Jawa. Dari situ, kultur Jawa pun lekat dengan masyarakat Cirebon, khususnya di kawasan pantai Utara (Pantura)," tandasnya.


   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar