Yamaha

Situs Matangaji Rusak Tertimpa Tanah, Sultan Sepuh Sayangkan Lemahnya Atensi

  Senin, 17 Februari 2020   Erika Lia
Kuncen Situs Matangaji, Kurdi menunjukkan salah satu batu bata merah yang tersingkirkan dari objek asalnya pasca ditimpa urugan tanah proyek pembangunan.
KESAMBI, AYOCIREBON.COM- Aktivitas pembangunan yang tanpa izin dan sepengetahuan juru kunci (kuncen) telah merusakkan Situs Matangaji di Kelurahan Karyamulya, Kecamatan Kesambi, Kota Cirebon. Sultan Sepuh Cirebon berencana melaporkannya.
 
Situs Matangaji merupakan lokasi keramat Sultan V Kasepuhan Cirebon, Sultan Muhammad Sofiudin. Sultan ini dikenal pula dengan nama Matangaji.
 
Kuncen Situs Matangaji, Kurdi menyebutkan, selama dua pekan terakhir diketahui ada pembangunan di sekitar lokasi.
 
Namun, dia mengaku tak pernah menerima permintaan izin. Karenanya, dia pun tak mengetahui jenis pembangunan yang tengah dilakukan, hingga merusakkan tempat keramat yang dijaganya selama sekitar 18 tahun belakangan ini.
 
"Tidak ada orang yang minta izin (membangun sesuatu). Saya juga tidak tahu mau bangun apa," ungkapnya.
 
Kurdi terkejut ketika pertama kali mendapati Situs Matangaji sebagian menyisakan serakan batu bata merah. Material yang berukuran besar itu sebelumnya membentuk objek layaknya pertapaan.
 
Dilengkapi sumur yang letaknya berdekatan, Situs Matangaji selama ini diyakini sebagai salah satu petilasan Sultan V Keraton Kasepuhan Cirebon.
 
"Kata orang tua, Sultan Matangaji pernah tinggal di Kampung Melangse sini," bebernya.
 
Matangaji, imbuhnya, dinilai telah membawa pengaruh dalam penyebaran Islam di kampung tersebut.
 
Kini, objek itu ditimpa reruntuhan tanah yang diurug menggunakan alat berat. Kerusakan dialami pula sebatang pohon berusia ratusan tahun yang tumbuh di sekitar lokasi.
 
"Sudah tua, ratusan tahun, tapi hampir setiap hari panen (buah)," katanya.
 
Bukan saja situs dan pohon tua, aktivitas itu pula menyebabkan akses menuju lokasi ditutup. Sebelumnya, dia biasa melalui Gang Situgangga.
 
"Sekarang harus lewat Sungai Melangse," cetusnya.
 
Menurutnya, sebelum rusak, Situs Matangaji tak jarang didatangi peziarah, baik kerabat keraton maupun warga luar keraton.
 
Dia menyesalkan kondisi saat ini. Bukan saja tanpa sosialisasi kepada warga sekitar, aktivitas pembangunan itu pun telah meluluhlantakkan area yang dianggap keramat.
 
Sekalipun belum terdaftar sebagai cagar budaya dan tergolong situs lokal, dia berharap otoritas setempat menaruh atensi terhadap peristiwa itu.
 
"Tanahnya sih tanah keraton, tapi semoga pemerintah memperhatikan juga. Semoga yang lagi membangun juga bisa kasih keterangan kepada saya dan warga sini supaya jelas," harapnya.
 
Sultan Keraton Kasepuhan, Sultan Sepuh XIV Pangeran Raja Adipati Arief Natadiningrat menyayangkan aktivitas pembangunan yang tak memperhatikan sekelilingnya. Dia pun berencana melaporkannya kepada otoritas terkait.
 
"Kami sayangkan kalau ada yang tidak memperhatikan sekitarnya, bahkan sampai merusak situs. Kami akan lapor ke pihak terkait," paparnya, Senin (17/2/2020).
 
Dia mengingatkan, Cirebon masih memiliki peninggalan-peninggalan historis. Karena itu, pihaknya meminta siapapun, termasuk pengembang, untuk memperhatikan kondisi sekitar.
 
Dia menyarankan untuk menghindari pembangunan di sekitar lokasi situs atau area bersejarah lainnya. Hanya, dia meyakinkan, pembangunan tetap bisa berjalan seiring upaya menjaga peninggalan-peninggalan dari masa lampau sebagai warisan budaya.
 
"Dalam Undang Undang Nomor 11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya, situs atau peninggalan apapun harus dilestarikan serta tetap bisa dikembangkan dan dimanfaatkan kok," terangnya.

  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar