Yamaha

Thai Tea Lebih Populer Dari Teh Poci, Sultan Sepuh Sebut Darurat Budaya Bangsa

  Senin, 17 Februari 2020   Erika Lia
Sultan Keraton Kasepuhan Cirebon, Sultan Sepuh XIV Pangeran Raja Adipati Arief Natadiningrat

LEMAHWUNGKUK, AYOCIREBON.COM -- Ketahanan budaya bangsa Indonesia disebut dalam kondisi darurat. Antusiasme berlebih pada produk budaya bangsa lain menjadi salah satu indikator yang tampak.

"Anak-anak sekarang senengnya minum Thai Tea (teh dari Thailand) daripada Teh Poci. Apalagi (Thai Tea) yang ada bubblenya (mutiara dari tepung tapioka), minumnya sampai keselek-keselek (keselak/tersedak), mereka seneng," seloroh Sultan Keraton Kasepuhan Cirebon, Sultan Sepuh XIV Pangeran Raja Adipati Arief Natadiningrat, Senin (17/2/2020).

Teh poci sendiri merupakan seduhan teh dalam poci dan cangkir dari tanah liat. Ditambah gula batu dan diminum saat panas, teh poci diakrabi masyarakat di sekitar Pantura, seperti Cirebon, Brebes, Tegal, dan sekitarnya.

Dia juga mengaku miris mengingat pengalamannya di Jakarta ketika menemukan murid-murid sekolah dasar hendak terbang keluar negeri untuk study tour.

Adalah hal lumrah, imbuhnya, ketika seseorang hendak menikmati pesona alam di luar negeri. Namun, dalam hematnya, anak-anak selayaknya disuapi dahulu pengetahuan ihwal budaya bangsa.

"Boleh saja study tour atau piknik keluar negeri, tapi kenalkan dulu budaya bangsa kita supaya tumbuh cinta dalam hati mereka," tuturnya.

Thai Tea hingga pengalaman bertemu murid SD yang hendak study tour ke keluar negeri itu disampaikan Arief di tengah acara "Bicara Buku Bersama Wakil Rakyat, Menggali Nilai Luhur di Masa Kesultanan sebagai Fondasi Jati Diri Bangsa" di Keraton Kasepuhan.

Buku yang dibicarakan dalam kesempatan itu sendiri berjudul "Sunan Gunung Jati Petuah, Pengaruh, dan Jejak-jejak Sang Wali di Tanah Jawa" yang ditulis Dadan Wildan yang dikenal pula sebagai Deputi Hubungan Kelembagaan dan Kemasyarakatan Kementerian Sekretariat Negara (Kemensetneg) RI.

Arief menyebutkan, wisata budaya Indonesia menjadi yang terpopuler yang membuat warga asing datang kemari.

Berdasarkan data Kementerian Pariwisata RI, katanya, setidaknya 60% wisatawan mancanegara melancong ke Indonesia sebab tertarik dengan budayanya.

"Kalau alam, orang Eropa, Amerika, atau negara lain juga punya yang tak kalah indah. Tapi, budaya itu cuma satu-satunya dan mereka datang ke Indonesia karena tertarik dengan budaya kita," tuturnya.

Dia mengaku, tak bosan mengingatkan generasi muda untuk mengenali budaya bangsa sendiri. Begitu juga dengan generasi senior yang diingatkan untuk tak melepaskan tanggung jawab mengajarkan generasi muda ihwal budaya bangsa.

"Supaya ketahanan budaya kita kuat. Kalau sampai budaya kita hilang, bangsa ini juga hilang," tegasnya.

Menurutnya, ketahanan budaya merupakan perekat bangsa dan kebanggaan bangsa. Itu pula jati diri dan jalan hidup bangsa.

Indonesia, imbuhnya, memiliki ciri khas berupa sikap gotong royong, guyub, musyawarah untuk mufakat, produktif, dan agraris.

Sayang, berkaca dari pengalamannya, salah satunya Thai Tea dan study tour murid SD keluar negeri, Arief menyebut budaya bangsa dalam keadaan darurat.

"Budaya bangsa kita sudah darurat," cetusnya.

Dia menunjuk budaya produktif meluap dan berganti menjadi konsumtif, gotong royong menjadi individual, spiritual menjadi material.

Padahal, sambungnya, bangsa Indonesia tidaklah demikian. Keberadaan candi hingga lahirnya Pancasila merupakan refleksi budaya bangsa.

"Di Cirebon sendiri ada 42 petatah petitih Sunan Gunung Jati yang menjadi pedoman masyarakat dalam kehidupan," tandasnya.

Dari kacamata Dadan Wildan, penulis buku Sunan Gunung Jati, salah satu dari Wali Songo (Sembilan Wali) itu sendiri diyakini dan diteladani sebagai peletak dasar kekuasaan Islam di Cirebon dan tanah Jawa.

"Selain itu, (dari peran Sunan Gunung Jati) budaya Islam di Cirebon merupakan budaya Islam yang moderat dan pluralistik. Artinya bisa berakulturasi dengan budaya lain, seperti Arab dan Cina," paparnya.

Selain Sultan Arief dan Dadan Wildan, hadir pula budayawan Cirebon, R Opan Safari yang turut mengupas sejarah Sunan Gunung Jati.

Dalam penelusurannya dari garis ayah, Sunan Gunung Jati disebut-sebut merupakan keturunan Bani Israil.

"Saya sempat ke Israel mencari bukti. Tapi ternyata tidak gampang," ujarnya.

Meski belum menemukan bukti autentik, dengan kata lain, melacak garis Sunan Gunung Jati bisa dilakukan dari garis keturunan ayah maupun ibu. Dari naskah-naskah yang ada, sampai kini diakuinya melacak asal Sunan Gunung Jati bukanlah perkara mudah.


   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar