Yamaha

Misteri Situs Matangaji dan Goa Sunyaragi, Relasi Sunyi yang Nyaris Usai

  Selasa, 18 Februari 2020   Erika Lia
Situs Matangaji yang dikeramatkan. (Istimewa)

KESAMBI, AYOCIREBON.COM -- Situs Matangaji di Kelurahan Karyamulya, Kecamatan Kesambi, Kota Cirebon, yang rusak tertimpa reruntuhan tanah sebuah proyek pembangunan, konon tersambung dengan Goa Sunyaragi di Kelurahan Sunyaragi, Kecamatan Kesambi, Kota Cirebon.

Goa Sunyaragi selama ini dikenal sebagai destinasi wisata di Cirebon. Bebatuan karang laut yang membentuk goa-goa di objek wisata ini telah lama menarik minat publik.

Di balik keindahannya, Goa Sunyaragi menyimpan misteri sampai kini. Sejarah pendirian dan peruntukannya pada era silam telah 'menghantui' masa hingga kini.

Selain misteri pembangunannya yang dibuat dari batu karang Laut Selatan, ada goa yang disebut-sebut menembus hingga Mekah. Namun hanya orang tertentu yang bisa melakukannya.

Misteri lain berupa keberadaan terowongan bawah tanah di atas Goa Sunyaragi. Terowongan itu disebut-sebut pernah dimanfaatkan sebagai jalur pelarian pada masa kolonialisme Belanda.

Budawayan Cirebon, R.Achmad Opan Safari Hasyim menyebut, Situs Matangaji terkoneksi dengan Goa Sunyaragi. Situs yang kini rusak itu menurutnya merupakan pintu keluar dari terowongan bawah tanah pada Goa Sunyaragi.

"Salah satu goa di Goa Sunyaragi itu adalah pintu masuknya. Tembus ke Situs Matangaji," bebernya.

Situs Matangaji konon termasuk sesuatu yang dirahasiakan oleh Pangeran Matangaji yang bergelar Sultan V Kasepuhan Cirebon dan bernama asli Sultan Muhammad Sofiudin.

Situs Matangaji merupakan petilasan yang diyakini sebagai lokasi bertapa Pangeran Matangaji. Nama lokasi tempat situs itu berada, yakni Kampung Melangse sendiri bukan tanpa kisah di baliknya.

"Kampung Melangse itu ada kisahnya. Langse artinya tirai, itu merujuk pada jalan rahasia yang ada di belakang goa (Goa Sunyaragi)," terangnya.

AYO BACA : Situs Matangaji Rusak Tertimpa Tanah, Sultan Sepuh Sayangkan Lemahnya Atensi

Terowongan inilah yang menjadi jalan rahasia bagi Pangeran Matangaji. Dia konon pernah memanfaatkannya sebagai jalur pelarian dari tentara Belanda.

Pangeran Matangaji sendiri, imbuhnya, dikenal aktif berjuang melawan penjajah. Perlawanannya terutama lahir akibat praktik ketidakadilan yang diterapkan pemerintah Belanda.

Dia mengatakan, sangat dimungkinkan terowongan bawah tanah itu sendiri kini telah runtuh. Terlebih, saat ini Situs Matangaji bahkan rusak diduga akibat aktivitas pembangunan.

"Situs itu warisan leluhur, tapi sekarang rusak. Sangat disayangkan," sesalnya.

Dia mendesak otoritas terkait untuk mengembalikan situs tersebut seperti sedia kala. Ancaman pidana bisa dijatuhkan pada perusak mengingat koneksinya dengan Goa Sunyaragi sebagai benda cagar budaya (BCB).

"Situs ini termasuk bangunan cagar budaya karena bagian dari Goa Sunyaragi. Goa Sunyaragi kan sudah ditetapkan sebagai BCB," katanya.

Relasi antara Goa Sunyaragi dan Situs Matangaji diakui pula Sultan Sepuh XIV Pangeran Raja Adipati Arief Natadiningrat. Pemimpin Keraton Kasepuhan Cirebon yang mengelola Goa Sunyaragi dan situs-situs Cirebon lainnya ini bahkan menyebut, Goa Sunyaragi merupakan tempat bersembunyi dan berlindung para pejuang Cirebon di masa kolonialisme.

"Salah satunya Sultan Matangaji," ujarnya.

Dahulu, Goa Sunyaragi merupakan hutan terlarang. Objek ini menjadi tempat beristirahat maupun lokasi berburu.

Selain itu, Goa Sunyaragi dikenal sebagai taman sari bagi putra dan putri Kesultanan Cirebon. Salah satu objek yang menandai pemanfaatan itu berupa keberadaan kolam besar di salah satu halamannya.

Kolam tersebut konon merupakan tempat putri biasa mandi dan bermain air. Kini, baik kolam maupun keseluruhan Goa Sunyaragi menjadi salah satu situs yang paling dilestarikan untuk menjaga eksistensinya.


   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar