Yamaha

Situs Matangaji Bakal Dikaji, Pengembang Diminta Hentikan Aktivitas

  Kamis, 20 Februari 2020   Erika Lia
Urugan tanah yang menimpa Situs Matangaji dan berjatuhan ke Sungai Melangse. (Ayocirebon.com/Erika Lia)

KESAMBI, AYOCIREBON.COM -- Kajian akan dilakukan Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) terhadap Situs Matangaji di Kelurahan Karyamulya, Kecamatan Kesambi, Kota Cirebon, yang rusak.

Sekretaris Dinas Kepemudaan Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata, Addin Imaduddin Nur menerangkan, kajian diperlukan untuk menentukan opsi Situs Sultan Sepuh V itu.

"Kami akan panggil TACB untuk mengetahui Situs Matangaji itu termasuk benda cagar budaya (BCB) atau bukan," ungkapnya, Kamis (20/2/2020).

Sejauh ini, gerak TACB sendiri masih membutuhkan surat keputusan (SK) wali kota Cirebon.

Dia juga meyakinkan, urugan tanah dari aktivitas pembangunan perumahan yang diduga telah merusakkan Situs akan dibersihkan.

AYO BACA : Ini Instruksi Wali Kota Soal Situs Matangaji yang Rusak

"Situsnya akan dibersihkan dari tanah dan akses jalan juga akan diperbaiki," ujarnya.

Terpisah, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kota Cirebon telah meminta pengembang perumahan, PT Dua Mata Sejahtera, yang aktivitasnya disinyalir telah merusakkkan Situs Matangaji, menghentikan pembangunan.

"Kami minta hentikan dulu semua aktivitas karena perizinannya belum ada," beber Kepala Bidang Penataan Ruang dan Pertanahan DPUPR, Ario Purdianto.

Penghentian berlaku sampai perizinan terbit. Pengembang diminta pula membongkar dinding pagar pembatas komplek perumahan sebab berdiri di atas senderan Sungai Melangse.

"Tembok pembatas perumahan dibangun di atas senderan sungai. Kami minta untuk dibongkar dan digeser beberapa meter," cetusnya.

AYO BACA : Situs Matangaji Rusak, Sultan Sepuh Kirimi Wali Kota Cirebon Surat

Gembos pembatas diakuinya dekat dengan situs. Bila senderan sungai tergerus air, dikhawatirkan tembok tersebut akan terimbas.

Pihaknya meminta pula PT Dua Mata Sejahtera mengangkat material tanah yang dibuang ke sungai. Termasuk dalam hal ini material tanah yang menutupi area situs.

"Harus dibersihkan seperti semula karena DKOKP akan melakukan kajian di sana," terangnya.

Pihak pengembang sendiri diyakinkannya belum mengantongi Izin Mendirikan Bangunan (IMB). Meski begitu, diketahui penerbitan IMB telah dimohonkan sejak awal Januari.

Pihak pengembang tetap membangun, dengan dalih seraya menanti penerbitan izin. Selama DPUPR belum menerbitkannya, dia memastikan pembangunan apapun tak boleh dilakukan.

"Alasannya (pengembang) klasik, sambil berjalan (membangun seraya menanti izin terbit)," ujarnya.

AYO BACA : Misteri Situs Matangaji dan Goa Sunyaragi, Relasi Sunyi yang Nyaris Usai


   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar