Yamaha

Stop Bangli, Pemkot Cirebon Diminta Kelola Bong

  Jumat, 21 Februari 2020   Erika Lia
Pemasangan plang pada bong di Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon, yang mempertegas fungsinya sebagai RTH. (ist)

KEJAKSAN, AYOCIREBON.COM -- Warga Tionghoa mengharapkan Pemkot Cirebon dapat mengelola kawasan permakaman Cina (bong) di Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon.

Harapan itu sebagai tindaklanjut mengatasi maraknya pendirian bangunan liar (bangli) di area tersebut.

Pengelolaan oleh Pemkot Cirebon dimintakan menyusul habisnya hak pengelolaan bong yang sebelumnya berada di tangan Yayasan Cirebon Sejahtera.

Pemkot Cirebon sendiri telah menetapkan kawasan bong sebagai ruang terbuka hijau (RTH) melalui Perda Nomor 8/2012 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW).

"Kami harap Pemkot bisa mengelola dan menatanya sebagai aset. Wisata religi bisa diwujudkan di sana," kata Ketua Yayasan Cirebon Sejahtera, Hadi Susanto Halim, Jumat (21/2/2020).

Bukan hanya wisata religi, dia menilai kawasan itu pun layak dijadikan area wisata agro. Pohon berbuah bisa ditanami di sana dan memberdayakan kelompok masyarakat untuk pengelolaannya.

AYO BACA : Ini Permintaan Warga Tionghoa Atas Pembongkaran Makam di Cirebon

Hadi mengungkapkan, harapan Pemkot sebagai pengelola bong karena pertimbangan kebutuhan biaya besar bila yayasan kembali mengelolanya.

Biaya pengurusan dokumen administrasi hak pengelolaan lahan, imbuhnya, setidaknya menjadi salah satu hal yang diperhitungkan akan memakan biaya tak sedikit. Belum lagi ditambah dokumen terkait lain.

"Lebih baik Pemkot Cirebon mengelola lahan itu dan mengoptimalkan fungsinya," harapnya.

Hadi menambahkan, pihaknya tak menghendaki keberadaan bangunan apapun di atas lahan bong. Belum lama ini, pihaknya bahkan mencoba menghentikan pembangunan rumah kos di lokasi tersebut.

Wali Kota Cirebon, Nashrudin Azis meyakinkan pendirian bangunan di atas lahan bong tak diizinkan, mengingat fungsinya kini sebagai RTH.

"Ditetapkan sebagai RTH maksudnya untuk melindungi lahan tersebut," cetusnya.

AYO BACA : Suguhan Atraktif Kirab Budaya Cap Go Meh Undang Antusiasme Ribuan Orang

Dirinya sepakat area itu cocok sebagai kawasan wisata religi. Terlebih, sampai kini pemakaman itu masih kerap didatangi warga Tionghoa yang ziarah, terutama saat tradisi Cheng Beng.

Azis pun menjanjikan penataan untuk mempercantik area itu agar menarik sebagai destinasi wisata. Sebelum itu, menurutnya diperlukan sosialisasi kepada masyarakat ihwal larangan mendirikan bangunan atau beraktivitas apapun yang melanggar pemanfaatannya sebagai RTH di kawasan tersebut.

"Masyarakat harus tahu kalau lahan itu RTH," tuturnya.

Sementara, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kota Cirebon menyebutkan, berdasarkan dengar pendapat dengan warga Tionghoa di Gedung DPRD beberapa waktu lalu, disepakati pembentukan tim untuk mengurus status kepemilikan lahan bong. Namun, sampai kini tim belum terbentuk.

"Belum terbentuk, tapi draf rancangan tim sudah di Bagian Hukum Setda Kota Cirebon," bebernya.

Dia meyakinkan, draf tersebut masih dalam koreksi Bagian Hukum. Sesuai draf, tim akan diketuai sekretaris daerah.

Meski belum terbentuk, dia meyakinkan telah memasang plang sosialisasi bagi publik pada lahan bong. Plang itu menyebutkan lahan bong sebagai RTH sesuai Perda RTRW Kota Cirebon Tahun 2011-2031.

"Kami harap masyarakat paham ada sanksi pidana bila melanggar. Kami juga masih mendata bangli yang ada di sana," tandasnya.

AYO BACA : Jerat Hukum Ancam Pendiri Bangli di Area Bong Penggung


   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar