Yamaha

Pelajaran dari Mewabahnya Covid-19 di Italia

  Rabu, 11 Maret 2020   Rahim Asyik
Peta persebaran Covid-19 di Italia per 10 Maret 2020. (opendatadpc.maps.arcgis.com)

BANDUNG, AYOCIREBON.COM -- Apakah kita sudah perlu khawatir atau tenang-tenang saja melihat perkembangan kasus coronavirus disease (Covid-19) di Indonesia? Sejauh ini, banyak yang masih tenang-tenang saja menyikapinya, tentu dengan berbagai alasannya.

Namun juga ada yang mengkhawatirkan, ini juga dengan berbagai alasannya. Salah seorang yang khawatir adalah Ainun Najib, inisiator KawalPemilu.org. Terhitung tanggal 1 Maret 2020, relawan KawalPemilu.org meluncurkan inisiatif Kawalcovid19.id. Inisiatif ini muncul lantaran keprihatinan akan kesimpangsiuran informasi yang beredar di Indonesia mengenai Covid-19.

Untuk mengekspresikan kekhawatirannya, Ainun Najib meminta agar Presiden Joko Widodo mengimbau masyarakat untuk berdiam diri di rumah. Dalam cuitannya di akun Twitter @ainunnajib, Selasa (10/3/2010), Ainun menulis, ”Pak Presiden @jokowi, mohon dipertimbangkan untuk menghimbau masyarakat untuk berdiam diri di rumah saja (kecuali keperluan esensial) dan untuk membatalkan acara-acara kumpul bersama. Sebelum terlambat pak. Kita jangan sampai seperti Italia. Lockdown satu negara hari ini.”

Dilanjutkan dengan cuitan, “Hanya dalam 18 hari, Italia dari angka 20 seperti Indonesia hari ini, telah menjadi 9.000 lebih dan tertinggi di dunia setelah China, negeri asal muasal wabah. Sekarang Italia lockdown satu negara. Indonesia harus antisipasi tegas dan secepatnya pak @jokowi.”

Sebagai informasi, pada 21 Februari 2020 tercatat 20 kasus corona di Italia. Dalam tempo 18 hari hingga 9 Maret 2020, kasusnya melonjak berkali-kali lipat hingga menerpa 9.171 orang di Italia saja.

Bagaimana dengan Indonesia? Seperti dilaporkan di situs infeksiemerging.kemkes.go.id, dari 30 Desember 2019 sampai 10 Maret 2020, tercatat 694 orang diperiksa terkait kasus ini di 23 provinsi. Hasilnya, 648 orang negatif (188 orang Anak Buah Kapal kru kapal World Dream), 19 kasus konfirmasi positif Covid-19, dan 27 sampel masih dalam pemeriksaan.

Apakah perkembangan corona di Indonesia akan sama dengan di Italia?

Tulisan ini dibuat tidak untuk menjawab pertanyaan itu. Tulisan ini hanya ingin membagi pengalaman seorang perempuan Indonesia yang sudah 10 tahun tinggal di Milan, Italia, saat corona merebak. Tulisan dimuat jurnalis bernama Rieska Wulandari berupa jurnal harian di akun Facebooknya. Rieska mulai menulis jurnalnya pada tanggal 24 Februari 2020 atau sehari setelah pemerintah Italia mengumumkan penetapan semikarantina pada 23 Februari. Berikut versi ringkasnya…

Jurnal hari pertama: Tercatat 152 kasus infeksi dengan 3 orang di antaranya meninggal dunia.

Kota di Region Lombardia ditutup. Pemerintah setempat juga memutuskan untuk menutup sekolah dari TPA sampai perguruan tinggi hingga dua pekan. Demikian halnya dengan berbagai acara yang mengundang kerumunan.

Menteri Olah Raga Italia Vincenzo Spadafora juga memutuskan untuk membatalkan semua kegiatan olah raga di kawasan Veneto dan Lombardia. Sejumlah pertandingan sepakbola penting di Seria A Italia dibatalkan seperti laga antara Inter dan Sampdoria, Torino melawan Parma, Verona kontra Cagliari, dan Atalanta versus Sassuolo.

Selain kegiatan olah raga, Vatican juga memutuskan untuk menghentikan sementara semua kegiatan religi seperti ibadah mingguan, acara sekolah minggu, dan katekisasi. Pembatalan senada dilakukan terhadap sejumlah pertunjukan teater, musik, film, seni, diskotek, dan pusat kebugaran. Di beberapa kota di Provinsi Milan, supermarket tampak kehabisan komoditas karena diborong habis warganya. Akibatnya, harga zat atau gel pembersih tangan yang biasanya dijual 2-3 Euro per botol kecil, mendadak naik jadi 25 Euro per botol. Sementara masker di farmasi juga habis.

Jurnal hari kedua: Jumlah korban bertambah dua kali lipat, yakni 322 orang dengan 20 pasien dalam kondisi berat, 10 meninggal, dan 1 pasien sembuh. Semua korban telah mengalami sakit lain dan lanjut usia sehingga daya tahan tubuhnya rendah.

Mengingat banyaknya korban lanjut usia, maka rumah-rumah jompo mengimbau pihak keluarga tak berkunjung untuk sementara waktu. Imbauan yang sama dikeluarkan pihak rumah sakit.

Secara umum, aktivitas di Kota Milan masih berjalan. Angkutan umum dan metropolitana masih tersedia, toko-toko juga masih buka, kendati jumlah orang yang lalu lalang jauh berkurang.

Sepuluh tahun tinggal di Italia, saya melihat orang Lombardia sangat kooperatif terhadap pemerintah lokalnya. Jadi ketika keluar instruksi agar orang Milan tinggal di rumah selama dua pekan, warga mematuhinya. Kantor-kantor bisnis mendukung keputusan ini dengan meliburkan karyawannya.

Sementara itu, negara-negara tetangga mulai menemukan kasus positif Covid-19 yang bersumber dari Italia, bahkan spesifik dari Milan. Seorang dokter Italia yang sedang berlibur ke Pulau Tenerife di Spanyol, terkonfirmasi positif dan membuat tamu satu gedung hotel, yang berjumlah ratusan orang harus dikarantina. Dari Austria dilaporkan, 2 pasien dinyatakan positif setelah berlibur dari Milan dan satu di Kroasia, satu si Swiss dan satu di Barcelona, dengan kemungkinan terinfeksi di Italia.

Di kota lain di Italia juga mulai ditemukan beberapa kasus baru. Dalam situasi semacam itu ada saja orang yang mengambil keuntungan. Dikabarkan ada orang yang berdandan bak petugas medis beralasan hendak mengambil sampel virus Covid-2. Kenyataannya, mereka hanyalah maling.

Mengapa banyak kasus Corona di Italia? Jawaban sederhananya, lantaran Italia merupakan salah satu destinasi favorit turis Asia seperti Tiongkok, Jepang, dan Korea. Di Region Lombardia dan Veneto misalnya, terdapat dua kota cantik: Milan dan Venizia. Milan yang dihuni 1,3 juta jiwa merupakan kota dengan kunjungan turis tinggi. Dinas pariwisata Milan mencatat, Milan adalah salah satu kota di Uni Eropa yang paling banyak dikunjungi yaitu mencapai 8,81 juta para tahun 2017 dengan 44% di antaranya turis lokal dan 58% turis mancanegara.

Kata karantina berasal dari dari bahasa Italia ”quaranta giorni” yang artinya 40 hari. Istilah ini muncul pada abad ke-14 saat terjadi wabah bubonic atau maut hitam yang menewaskan sepertiga hingga dua per tiga penduduk Eropa.

Sistem karantina pun digunakan untuk mencegah penyebaran penyakit itu. Caranya, kapal-kapal penumpang yang datang dari wilayah lain dilarang langsung berlabuh. Mereka harus menunggu selama 40 hari di suatu pulau yang telah ditentukan untuk memastikan bahwa mereka tak tertular penyakit. Selama masa karantina berlangsung, kapal-kapal itu harus mengibarkan bendera kuning yang disebut bendiera sanitaria (bendera kesehatan). Dalam masa pengasingan, biasanya di area atau di sekitar pelabuhan atau bandara, (atau sebuah wilayah yang telah ditentukan) dilakukan observasi dan pemeriksaan kesehatan.

Jurnal hari ketiga: Kasus Covid-19 di Italia mencapai 400, 35 kasus berat, 12 meninggal, dan 3 sembuh. Untuk pertama kalinya seorang anak perempuan berumur 4 tahun dinyatakan terinfeksi dan dirawat di rumah sakit San Matteo.

Jurnal hari keempat: Hari keempat merupakan hari yang cukup melegakan, ada angka kesembuhan yang melonjak signifikan dari 3 menjadi 45, meski demikian angka terinfeksi mencapai 650 dan kematian mencapai 17.

Hari ini saya memutuskan untuk membaca kembali Calon Arang karya Pramoedya Ananta Toer. Calon Arang adalah dukun teluh, hatinya penuh iri dengki, dan dia memuja Durga, Dewi kematian. Hatinya makin pahit kala tak seorangpun datang melamar anak gadisnya, bukan karena sang anak tak cantik, tapi karena perangai sang ibu yang pencemburu, tak suka orang lain bahagia dan pemarah.

Kesal karena tak ada yang melamar anaknya, kepada Durga ia meminta izin untuk membalas dendam. Durga mengizinkan, asal jangan merusak ibu kota dan tampuk pimpinan. Dengan teluh dan ilmu hitam ia lalu menciptakan penyakit yang menewaskan ribuan orang di desa-desa. Dia terus merajalela sampai seorang Empu dari Blora, Eyang Baradah berjanji kepada Raja Airlangga, untuk menghentikannya.

Eyang Baradah akhirnya tahu, semua penyakit ini datang karena iri dengki sang ibu. Ia kemudian mencarikan calon suami bagi anak Calon Arang, dan kepada suaminya anak Calon Arang mengungkapkan kelemahan daya magis sang ibu. Eyang Baradah digambarkan sebagai tokoh yang sangat bijaksana, kesaktiannnya luar biasa, dan kesukaannya belajar kitab-kitab.

Cerita ini merupakan cerita legenda, riset sejarah mengatakan Raja Erlangga dan Eyang Baradah adalah tokoh nyata. Bersama Eyang Baradah, Raja Erlangga merupakan salah satu raja Jawa yang paling sukses memimpin Jawa. Buku ini cukup menghibur. Bagi teman-teman yang punya waktu membaca, ini bukunya ringan dan sengaja dibuat untuk anak anak.

Kita tentu tidak butuh teluh dan mantra-mantra untuk bisa keluar dari wabah kita sekarang, ada ilmu pengetahuan dan riset yang lebih masuk akal.

Jurnal hari kelima: Langkah pemerintah lokal Italia untuk melakukan semikarantina bukan tanpa alasan. Virus ini bisa menyerang siapa saja dan di mana saja.

Reaksi awal warga lokal saat mendengar pengumuman ini, tentu saja membeli logistik untuk persiapan semikarantina. Supermarket sampai kosong melompong, logistik kembali terisi keesokan harinya.

Buntut dari adanya penyebaran virus ini, media turut disalahkan. Dianggap sebagai penyebab kepanikan yang membuat orang tidak tenang dan khawatir. Kalau nonton berita, Covid-19 terus-terusan dibahas.

Ya, bagaimana tidak, situasi berubah dari jam ke jam. Press conference dari Regione juga tidak berhenti update, selama Regione terus update ya media akan terus rolling, karena faktanya: datanya terus berubah dan situasinya memang harus dipantau jam ke jam.

Saya perhatikan awak media jungkir balik juga bikin berita dan mencari angle visual untuk gambar yang menarik, blusukan ke sudut Milan dan pelosok lombardia. Padahal mereka juga manusia biasa, rentan juga terinfeksi.

Buat apa sih media media memberitakan ini, bikin stres saja. Flu ini juga nanti sembuh sendiri.

Kalau kita sehat mungkin iya, tapi kalau punya problem lain, penyakit ini adalah lonceng kematian. Ingat, Italia merupakan negara dengan jumlah manula yang cukup banyak, mereka rentan sekali karena mereka biasanya juga sudah menurun kesehatannya.

Yang menjadi repot, virus ini mudah sekali menular. Yang dilakukan oleh pemerintah adalah sedang berupaya jangan sampai dalam satu hari, terlalu banyak yang sakit sehingga bisa-bisa semua kamar berubah menjadi kamar isolasi karena pasien terlalu banyak.

Kalau sudah terlalu banyak maka pelayanan juga tidak maksimal dan dokter serta tim medis akan kelelahan sehingga mereka jadi rentan tertular.

Antisipasi ini justru langkah yang berani, tapi dibayar sangat mahal. Semua kegiatan dibatalkan. Entah berapa banyak event organizer untuk konferensi internasional, perusahaan makanan minuman, pusat kebugaran, toko cenderamata, bisnis hotel, perusahaan kargo dan logistik, harus merugi karena langkah ini.

Fakta yang lebih pahit, virus ini mulai menjangkiti pasien-pasien di belahan dunia lain dan mulai masuk Afrika karena ada warga negara Italia asal Milan yang bekerja di Afrika.

WHO mencatat sampai kemarin sudah 50 negara terinfeksi dan epidemi sudah di depan mata. Paling mengerikan kalau penyakit ini menjangkiti negara negara yang penuh pengungsi dan tidak punya sistem kesehatan memadai.

Saya jadi ingat negara saya, data menunjukkan nol kasus. Para diplomat di Jakarta curiga, demikian juga negara tetangga. Tapi Indonesia adalah negara paling santai dan bahagia, Covid-19 adalah masalah kecil saja. Masih banyak hal lain yang harus dipikirkan. Misalnya, bagaimana caranya supaya tak hamil saat berenang di kolam renang. Kontras dengan Italia, Indonesia adalah kebalikannya 180°. Antitesis.

Ingat kasus Italia, sejauh ini yang meninggal karena Covid-19 selalu punya penyakit lain. Tim dokter bisa saja menyebut pasien A meninggal karena sakit paru yang sudah diidap pasien lalu menyembunyikan fakta Covid-19. Tapi Italia memilih jalan mengumumkan sakit utama dengan keterangan tambahan Covid-19.

Apakah Italia terlalu naif dan bodoh? Kenapa harus di-declare Covid-19-nya sih, bikin heboh sedunia. Demikian suara nyinyir. Ya jelas, Milan seolah jadi Wuhan kedua. Faktanya, Italia memilih jalan transparansi. De Mayo di depan pers berkata, ”transparansi adalah bagian utama dari integritas”.

Dan saya merasa punya kewajiban menulis apa yang terjadi di Milan dan Italia, sebagai catatan buat saya sendiri. Syukur-syukur ada gunanya buat teman-teman lain yang membaca, karena ini adalah sejarah baru.

Jurnal hari ketujuh: Hari ini adalah awal masa quaresima, yaitu masa puasa, mengenang penderitaan empat puluh hari Yesus dalam pencobaan setan di padang gurun. Seolah-olah kebetulan, kebetulan yang tidak menguntungkan dan menyedihkan bahwa pada masa quaresima ini sebagian orang Italia juga harus menjalani semikarantina.

Tapi tidak bagi Uskup Milan Monsignor Mario Delpini. Uskup Milan memimpin misa quaresima dari crypta (ruang bawah tanah) yang juga makam Carolus Borromeus. Borromeus adalah seorang bangsawan yang memutuskan untuk membaktikan hidupnya kepada Tuhan dan kepada sesama.

Pada 1564-1584 Carolus Borromeus diangkat menjadi uskup Milan. Tatkala wabah sampar menghantam Milan, ia menyediakan rumah perawatan bagi mereka yang miskin dan tak mampu dan merawat para pasien sampai sembuh. Milan terlepas dari wabah karena jasa Carolus Borromeous. Setelah meninggal dunia, Carolus Borromeus diangkat menjadi santo, Orang Suci.

Uskup Milan Monsignor Mario Delpini memimpin misa quaresima tanpa kehadiran jemaat. Sebagai gantinya, misa disiarkan langsung di televisi. Menuru dia, kebetulan antara masa quaresima dengan semikarantina ini malah menguntungkan. Untung lantaran manusia yang selalu sibuk dengan jadwal dan kegiatan studi yang padat, diberi kesempatan untuk berkontemplasi dan bermeditasi.

Wabah bukan hal baru dalam sejarah gereja Katolik dan di Kota Milan. Gereja juga berperan penting dalam membantu warga menghadapi masa sulit itu, baik sebagai pemberi ketenangan secara mental dan spiritual maupun secara tindakan nyata dengan turun langsung membantu warga.

Jurnal hari kesembilan: Memasuki hari ke-9 semikarantina, laju penambahan pasien tak sebanyak pada hari Minggu, 1 Maret, di mana dalam satu hari terdapat 566 pasien baru di seluruh Italia, sehingga angka total pada hari itu mencapai 1.694 dari 1.128 pada hari sebelumnya.

Pada 2 Maret terkonfirmasi Covid-19, angka pasien manjadi 2.036 dan jumlah pasien di Italia sampai hari ini adalah 2.141 pasien, dengan angka fatal mencapai 53 orang, kondisi kritis 166 orang, sembuh 149 orang.

Kenaikan yang sangat signifikan itu sempat membuat pemerintah Italia harus memanggil para dokter veteran, pensiunan, dan paramedic freelancer untuk turut memberikan tenaganya pada para pasien yang semakin banyak. Beberapa rumah sakit harus membangun tenda sebagai fasilitas operasional pendukung dan juga menyatakan bahwa ada 6.000-an tempat tidur di barak-barak tentara yang siap dimanfaatkan apabila pasien terus bertambah.

Pasien juga ditemukan di wilayah-wilayah lain sehingga terlihat noktah baru pada peta penyebaran kasus Covid-19. Tindakan pemerintah Italia memang sangat masif, pada hari itu pemerintah Italia juga mengeluarkan dekrit sebab Italia yang total memiliki 20 region (region terdiri dari beberapa provinsi, bergantung wilayahnya) 19 region di antaranya tercatat menemukan pasien Covid-19.

Dekrit yang dibuat untuk mengantisipasi penyebaran ini membuat Italia dibagi menjadi tiga zona yaitu zona merah yang dikenai karantina penuh, yaitu kota-kota yang menjadi episentrum kasus pertama: Codogno, Bertonico, Casalpustelrengo, yang berlokasi di wilayah Region Lombaria dan Vo’ yang terletak di Region Veneto.

Kemudian zona kuning untuk zona yang termasuk wilayah pemerintahan Region Lombardia, Emilia Romagna dan Veneto, serta beberapa propinsi seperti Pesaro-Urbino, yang terletak di Region Marche dan Savona di Region Liguria. Lalu region sisanya harus menerapkan sistem antisipasi terhadap penyebaran Covid-19.

Pada zona merah, diterapkan penutupan pusat perbelanjaan pada hari Sabtu dan Minggu dengan pengecualian apotik dan toko makanan, penangguhan kegiatan gym, pusat olah raga, kolam renang, pusat kesehatan, spa, pusat budaya, sosial dan rekreasi, serta penutupan sekolah dan kantor hingga tanggal 7 Maret yang akan datang.

Untuk zona kuning, acara olahraga dan perjalanan pendukung ditunda. Semua acara "tidak biasa", termasuk acara budaya, rekreasi, olahraga, dan keagamaan (bioskop, teater, diskotik, dll.) Juga ditangguhkan. Pembukaan tempat ibadah akan dikondisikan dengan mengadopsi langkah-langkah organisasi untuk menghindari pertemuan orang-orang. Sekolah dari semua kelas akan tetap ditutup sampai setidaknya 7 Maret. Bar dan pub hanya dapat melayani pelanggan mereka di meja.

Hingga 8 Maret, penangguhan acara dan kompetisi olah raga dari semua jenis dan disiplin ilmu dikonfirmasi, di tempat-tempat umum atau pribadi di Lombardia, Veneto, dan Emilia Romagna, serta di Provinsi Savona dan Pesaro dan Urbino. Namun, dekrit tersebut memungkinkan kompetisi diadakan secara tertutup. Selain itu, dilarang bepergian bagi penggemar olah raga (tifosi) yang berada di wilayah dan provinsi yang sama untuk berpartisipasi dan hadir dalam acara olah raga dan kompetisi yang berlangsung di bagian Italia yang tersisa. Oleh karena itu, pertandingan Serie A berikut akan diadakan secara tertutup: Atalanta-Lazio (7 Maret), Verona-Naples (8 Maret), Inter-Sassuolo (8 Maret), dan Bologna-Juventus (8 Maret).

Sedangkan untuk sisanya, seluruh wilayah nasional, semua bentuk telework (home-working) akan difasilitasi. Trip perjalanan sekolah seperti studi tour dan kunjungan sekolah seperti ke museum ditangguhkan hingga setidaknya 15 Maret serta menerapkan kewajiban untuk menunjukkan sertifikat medis untuk keperluan absensi sekolah lebih dari 5 hari.

Supaya anak-anak tidak tertinggal pelajarannya, sekolah-sekolah memberikan pekerjaan rumah bahkan menyelenggarakan sekolah dengan sistem video streaming dan interaktif. Les-les musik yang harus ditangguhkan sementara, menawarkan sistem kelas video call. Bila tidak bersedia, para peserta bisa memilih hari lain yang disepakati bersama, usai masa semikarantina atau pengembalian uang kursus kepada peserta.

Pada dasarnya, transportasi publik (bus, trem, metropolitana) masih tetap berfungsi untuk melayani warga dan juga turis. Toko, restoran, supermarket, hotel juga bandara masih tetap beroperasi. Masyarakat juga masih melakukan aktivitas prioritas terutama berbelanja logistik.

Gambaran seolah Italia seperti zona Zombie merupakan gambaran yang sama sekali salah. Kendati demikian, beberapa kota memang kosong dan sunyi. Tak terdengar suara mobil seperti biasanya. Sesekali terdengar suara sirine ambulans. Apalagi sejak hari Sabtu, cuaca kurang mendukung. Beberapa kawasan diguyur hujan. Warga kebanyakan memilih tinggal di rumah.


   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar