Yamaha

Didatangi Pemudik, 3.500 Orang Diprediksi ODR di Kabupaten Cirebon

  Sabtu, 04 April 2020   Erika Lia
Ilustrasi pemudik. (Erika Lia L/PicsArt)
SUMBER, AYOCIREBON.COM -- Sedikitnya 3.500 orang yang datang (pemudik) ke Kabupaten Cirebon digolongkan sebagai orang dengan resiko (ODR). Jumlahnya berpotensi bertambah.
 
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kabupaten Cirebon Nanang Ruhyana menyebutkan, para pemudik yang tak memiliki gejala klinis akan dikategorikan sebagai orang dengan resiko (ODR).
 
"(Pemudik) tanpa gejala klinis yang datang dari daerah terjangkit dengan transmisi lokal seperti Jakarta, Bekasi, Bogor, dan lainnya, kami masukkan ODR. Sedangkan yang punya gejala klinis kami kategorikan orang dalam pemantauan (ODP)," katanya kepada Ayocirebon.com, Sabtu (4/4/2020).
 
Para pemudik berasal dari beragam kalangan, seperti para santri yang dipulangkan dari pesantren hingga pekerja migran Indonesia.
 
Dia membuka kemungkinan jumlah 3.500 yang terdata sampai hari ini bisa bertambah kelak hari. Namun, pihaknya belum dapat memprediksi penambahan itu.
 
Sesuai pedoman yang berlaku, ujarnya, ODR dibagi dua kelompok, masing-masing pelaku perjalanan dari negara/wilayah terjangkit COVID-19 dan pelaku perjalanan dari negara/wilayah transmisi lokal.
 
Untuk pelaku perjalanan dari negara/wilayah terjangkit COVID-19 yang tak bergejala, wajib melakukan monitoring mandiri (self monitoring) terhadap kemungkinan munculnya gejala selama 14 hari sejak kepulangan.
 
"Setelah kembali dari negara/area terjangkit, sebaiknya mengurangi aktivitas yang tak perlu dan menjaga jarak kontak lebih minimal 1 meter dengan orang lain," terangnya.
 
Sementara, pelaku perjalanan dari negara/wilayah transmisi lokal, harus melakukan karantina mandiri di rumah selama 14 hari sejak kedatangan.
 
Bagi warga negara asing (WNA) harus menunjukkan alamat tempat tinggal selama dikarantina. Informasi itu harus disampaikan saat kedatangan di bandara.
 
"Selama masa karantina, seseorang harus tinggal sendiri di kamar yang terpisah, menghindari kontak dengan anggota keluarga lain, dan tak boleh beraktivitas di luar rumah," paparnya.
 
Meski diakuinya setiap orang dan daerah berbeda kultur, penerapan monitoring dan karantina mandiri memerlukan peran serta keluarga dan masyarakat, dan perangkat desa setempat harus mengedukasi serta  memantaunya.
 
"Petugas puskesmas otomatis memantau secara medis. Tapi tanpa peran serta semua komponen, karantina dan monitoring mandiri akan sia-sia," tuturnya.
 
Sementara, bagi mereka yang terkategori ODP, surveilans akan memantau kondisinya selama 14 hari, mulai munculnya gejala. Terhadap ODP, dilakukan pengambilan spesimen pada hari pertama dan kedu untuk pemeriksaan RT PCR.
 
Sampai 4 April 2020, jumlah ODP di Kabupaten Cirebon 126 orang. Dari jumlah itu, 42 orang masih dipantau dan 84 orang lainnya.

  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar