Yamaha

Tongtong Enon Tak Lagi Nyaring Bunyinya

  Rabu, 08 April 2020   Erika Lia
Dua karyawan Tongtong Enon yang bertahan mencari kesibukan dengan membenahi peralatan di bengkel. (ayocirebon/Erika Lia)

DUKUPUNTANG, AYOCIREBON.COM -- Dua pria menjejakkan linggis ke arah tanah. Mencoba mencongkel akar yang berkelindan di dalamnya.

Selama beberapa lama mereka tekun mengerjakan itu, sampai batang pohon yang tak lagi utuh tercerabut dari tanah.

"Rencananya untuk perluasan bengkel, nanti akan dipasang atap supaya tong-tong bisa diletakkan di situ tanpa kehujanan dan kepanasan," ungkap Suhanan kala ditemui Ayocirebon.com di bengkel sekaligus galeri Tongtong Enon miliknya di Jalan Nyi Ageng Serang, Desa Cangkoak, Kecamatan Dukupuntang, Kabupaten Cirebon, Rabu (8/4/2020).

Kedua pria yang tengah mencongkel akar pohon itu merupakan dua karyawan dari empat pekerjanya yang tersisa kini. Kedua karyawan lain yang tak berada di sanala, tak bisa lagi bekerja bersama Suhanan.

Tongtong-Enon-imbas-corona1

Galeri Tongtong Enon di Jalan Nyi Ageng Serang, Desa Cangkoak, Kecamatan Dukupuntang, Kabupaten Cirebon.(Erika Lia)

Wabah Covid-19 telah memukul omzet usaha Enon, panggilan akrab Suhanan, hingga 80%. Nyaris tanpa pesanan, bengkel Tongtong Enon pun sepi dari riuhnya suara las dan aktivitas lain yang mengubah rupa dan fungsi tong-tong di sana.

"Ya begini aja, pekerja yang ada (seraya menunjuk dua pria yang masih menjejak tanah dan mencongkel akar pohon), enggak mau dirumahkan. Kata mereka di rumah juga mau ngapain, mending di bengkel, ngerjain apa yang bisa dikerjain sambil beres-beres," ungkapnya.

Enon memang sebelumnya telah berencana untuk merumahkan seluruh karyawannya akibat kemerosotan omzet. Namun, dia pun tak bisa memaksakan kebijakan itu kepada sebagian karyawan yang kukuh untuk tetap mengisi aktivitas hariannya di bengkel.

Sejak sekitar lima tahun lalu usaha ini dirintisnya, Enon mengaku belum pernah mengalami pukulan sedahsyat sekarang. Bahkan kerasnya pukulan ketika dia baru memulai usaha ini, tak sesakit kala Covid-19 mewabah.

Beberapa pesanan dari korporat dan lembaga, seperti ritel, rumah makan, yayasan pendidikan, sekolah, pemerintahan, sampai individu ditangguhkan, bahkan dibatalkan. Rata-rata mereka beralasan karena adanya pengalihan atau pemangkasan anggaran untuk mengatasi/mencegah resiko Covid-19.

"Puluhan tong yang sudah saya pesan jadi nganggur di bengkel, tidak bisa diapa-apakan karena tidak jadi dipesan. Sementara yang sudah dipesan tapi dipending (ditangguhkan), terpaksa disimpan dulu sampai pembelinya siap menerima barang," tuturnya.

Enon mengingat, sepinya orderan terjadi sejak sekitar sebulan belakangan. Pengerjaan pesanan terakhir digarapnya sepekan lalu, untuk sebuah perusahaan ritel di Cirebon dan pesantren di Bogor, seluruhnya berupa tempat sampah.

Selain tempat sampah, di bengkelnya itu, tong-tong kaleng maupun plastik bertransformasi pula menjadi kursi dan meja, rak serbaguna, alat bakar sampah, dan lainnya.

Bukan saja sepinya orderan, bahan baku untuk usahanya pun sulit diperoleh saat ini. Enon yang biasanya mengambil bahan baku tong bekas dari beragam daerah, seperti Cirebon, Tangerang, dan Bekasi, tak bisa lagi menerima pasokan bahan baku.

"Pemasoknya juga sekarang susah karena mereka juga ada yang terpaksa merumahkan karyawannya atau terkendala di jalan. Proses pengiriman juga sekarang makan waktu, tidak seperti sebelum Corona melanda," katanya.

Enon mengaku sempat berkeinginan untuk berinovasi menciptakan produk baru, seperti wastafel dari tong bekas. Sayang, selain pasokan bahan bakunya yang sulit, beberapa komponen untuk menciptakan wastafel pun terbilang mahal. 

Dalam kondisi sekarang, inovasinya tak bisa direalisasikan semulus sebelum Covid-19 merebak. Omzet yang biasanya bisa dia raih sampai Rp70 juta/bulan, terjun bebas tanpa dasar yang belum tampak.

Sementara, untuk beralih ke usaha lain bukanlah perkara mudah. Terlebih, sejauh mata memandang, Covid-19 memukul nyaris seluruh jenis usaha dan aspek lain.

Dia tak menampik kesedihan melandanya. Namun, ayah dua anak ini mengaku, tak bisa berlama-lama terpekur, terutama ketika mengingat kemungkinan orang lain yang lebih sulit dibanding situasinya.

"Saya sedih, tapi pasti ada yang lebih sedih dari saya. Makanya, saya enggak boleh menyerah," cetusnya.

Dia pun meyakini, di balik wabah ini tersimpan hikmah. Selain lebih peduli kebersihan, hikmah yang sudah dia petik sejauh ini berupa pemahaman lebih untuk memilah kebutuhan dan keinginan.

"Penghematan, terutama pengeluaran pribadi, itu jadi salah satu strategi saya bertahan sekarang. Kan saya juga harus memikirkan kebutuhan keluarga ke depan selama wabah ini melanda," ucapnya.

Serupa dengan banyak orang lainnya, Enon berharap badai segera berlalu dan tong-tongnya kembali nyaring. Meski mengaku kesakitan dengan pukulan wabah ini, dia tetap optimistis situasi akan membaik.

"Asalkan semua orang hidup bersih dan sehat. Turuti apa kata pemerintah dan ahlinya supaya semua sehat," tutupnya mengakhiri obrolan siang.


 


   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar