Yamaha

Masjid Jagabayan Cirebon, Transformasi Pos Penjagaan Berusia Setengah Milenium

  Kamis, 23 April 2020   Erika Lia
Pintu masuk Masjid Jagabayan Cirebon berupa jalan gang selebar sekitar 83 cm. (Ayocirebon.com/Erika Lia)

LEMAHWUNGKUK, AYOCIREBON.COM -- Masjid Jagabayan di Kelurahan Panjunan, Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon, dikenal sebagai masjid tua yang menyimpan histori. Kekeramatannya masjid menjadi alas eksistensi masjid berusia lebih dari setengah milenium itu sampai kini.

Masjid Jagabayan berada nyaris tersembunyi di antara pertokoan, rata-rata toko emas, di Jalan Karanggetas. Selama puluhan tahun, Jalan Karanggetas dikenal sebagai salah satu nadi ekonomi Kota Cirebon.

Meski letaknya "nyempil", Masjid Jagabayan dikenal hingga ke tanah Inggris. Kekeramatanyalah yang menyeberangkan nama masjid berusia sekitar 583 tahun ini hingga ke benua lain.

"Dulu ada suami istri dari Inggris datang kemari. Mereka berdoa di sini dan membawa air dari sumur Masjid Jagabayan," ungkap generasi ke-11 pengurus Masjid Jagabayan, M Faozan kepada Ayocirebon.com, Kamis (23/4/2020).

Masjid-Jagabayan-pengurus-ke-11-M-Faozan2
Generasi ke-11 pengurus Masjid Jagabayan Cirebon, M Faozan di depan pintu masuk masjid. (Ayocirebon.com/Erika Lia)

Sang istri rupanya berasal dari Cirebon, namun telah menetap sekitar 30 tahun di Inggris setelah menikahi warga sana. Ketika itu, usaha keduanya tengah di ujung tanduk.

Mengutip kata-kata pasutri itu, Faozan mengungkapkan, upaya perbaikan ekonomi keluarga mereka datang melalui mimpi. Bukan sekali, melainkan tiga kali, yang meminta mereka mendatangi Masjid Jagabayan.

Dari Inggris mereka terbang ke tanah Cirebon dan mendatangi Masjid Jagabayan. Ditemui langsung Faozan, mereka pun memanjatkan doa dan membawa pulang air sumur yang diyakini mengandung berkah.

"Mulai dari minta naik jabatan, keselamatan, bikin rumah, tujuh bulanan (tradisi tujuh bulanan bagi wanita hamil), sampai pengobatan," ungkap Faozan membeberkan beberapa alasan yang banyak disampaikan pengunjung masjid.

Beberapa di antara para pencari berkah itu bahkan bermalam di masjid untuk berikhtiar. Namun, Faozan meyakinkan, hanya ketika malam Jumat Kliwon izin bermalam di masjid diberikan.

Alasannya, tak lain demi keselamatan seseorang itu sendiri. Area masjid yang hanya dikitari beberapa rumah penduduk membuat pihak pengurus masjid tak mau mengambil risiko atas kondisi pengunjung yang ingin bermalam.

Keberkahan yang mereka cari diyakini salah satunya melalui pemanfaatan air sumur yang terletak di samping masjid. Sumur yang diklaim tak pernah kering, bahkan di musim kemarau paling parah sekalipun itu, tak jarang dipakai untuk membasuh seluruh tubuh hingga dibawa ke rumah dengan menampungnya ke dalam wadah air.

Namun, sebagai upaya menghilangkan sifat sirik, dia kerap meminta orang-orang yang datang untuk tetap memanjatkan doa dan dzikir hanya kepada Allah Swt.

"Alhamdulillah, dengan izin Allah Swt yang sakit pun sembuh," ujarnya.

Awal Mula

masjid-Jagabayan-pengunjung1
Sejumlah orang hendak beribadah ke Masjid Jagabayan Cirebon. (Ayocirebon.com/Erika Lia)

Menurut Faozan, Jagabayan berasal dari kata Jaga dan Bahaya juga Jaga Badan. Menilik asal kata itu, Masjid Jagabayan pun diyakini sebagai masjid yang memiliki sifat menjaga.

"Tapi dulu, bangunan ini bukan masjid, melainkan pos penjagaan," bebernya.

Masjid ini didirikan Tumenggung Nalarasa, salah satu Patih Prabu Siliwangi, pada 1437. Ketika itu, Pangeran Walangsungsang, salah satu putra Prabu Siliwangi, penguasa Kerajaan Pajajaran yang berpengaruh di tanah Jawa Pasundan, baru saja melakukan babad alas (membuka hutan) atas Cirebon.

Cirebon saat itu masih berupa kawasan antah berantah, area hutan (alas) tak dikenal. Apa yang dilakukan Pangeran Walangsungsang pun membuatnya kini dikenal sebagai Mbah Kuwu Cirebon yang telah membuka hutan menjadi kawasan tinggal.

"Saat itu, Tumenggung Nalarasa ditugaskan Prabu Siliwangi untuk mencari Pangeran Walangsungsang dan memastikan kebenaran kabar soal adanya pendirian kerajaan baru di tanah Cirebon ini," kata Faozan.

Tumenggung Nalarasa bukannya menemukan kerajaan, melainkan pondok-pondok mengaji, setibanya di Cirebon. Suatu kali, kala dirinya masuk ke salah satu pondok mengaji, dia menemukan Pangeran Walangsungsang yang dicarinya, sedang mengaji bersama murid-muridnya.

Pangeran Walangsungsang rupanya sudah menjadi pemeluk Islam, ajaran minoritas di tengah mayoritas Hindu ketika itu. Bukannya membawa Pangeran Walangsungsang pulang, Tumenggung Nalarasa justru turut memeluk Islam.

"Beliau lalu berganti nama menjadi Syekh Syarief Abdurahman dan diberi gelar Tumenggung Jagabayan oleh Sunan Gunung Jati," tambahnya.

Sebelum berdiri Keraton Pakungwati yang kini dikenal sebagai Keraton Kasepuhan Cirebon, yang menandai pendirian Kerajaan Cirebon, didirikanlah pos penjagaan di lokasi yang kini menjadi Masjid Jagabayan.

Simpang empat lampu merah yang berada tak jauh dari Masjid Jagabayan, dahulu, berdirilah gerbang masuk keraton. Sayang, gerbang tersebut kini hancur dan hilang.

Selain sebagai pos penjagaan, Masjid Jagabayan juga kerap dijadikan tempat mengaji. Bahkan, konon lokasi ini menjadi tempat musyawarah para wali Cirebon dalam rangka penyebaran ajaran Islam di Tanah Pasundan.

Mengingat pendirian awalnya sebagai pos, tak heran bila ukuran Masjid Jagabayan terhitung kecil. Berbentuk persegi empat, ukuran masjid ini hanya berkisar 8x6 m2.

Pada 1437, imbuhnya, pos penjagaan pun berubah fungsi sebagai masjid. Saat ini, jalan masuk ke dalam masjid berupa gang kecil selebar kurang dari 1 m saja.

"Di Cirebon, Masjid Jagabayan merupakan cikal bakal masjid pertama. Sebagai pos penjagaan, tak ada keraton tanpa Jagabayan," ujar Faozan lagi.

Setelahnya, barulah dibangun masjid lain, di antaranya Masjid Merah Panjunan dan Masjid Agung Sang Cipta Rasa. Bedanya dengan Masjid Jagabayan yang mengalami transformasi, kedua masjid lainnya langsung dibangun sebagai masjid.

Sementara, keberadaan sumur di samping masjid pun telah ada sejak awal pendirian pos penjagaan. Keberadaan sumur itu menegaskan sumber air di sana.

"Uniknya, air di sumur harus diambil pakai timba. Kalau pakai mesin penyedot justru airnya keluar kecil sekali," ungkapnya.

Selain sumur yang tak pernah kering, di masjid pun masih tersimpan pusaka yang konon merupakan peninggalan Tumenggung Jagabayan.

Selama lebih dari lima abad, Masjid Jagabayan pernah direnovasi terakhir kali pada 1997. Seingat Faozan, sedikitnya total tiga kali masjid ini direnovasi.

"Terakhir ketika menaikkan atap dan membuat tiang untuk memperkuat bangunan," tambahnya.

Selain itu, tak banyak kerusakan berarti yang dialami Masjid Jagabayan. Faozan pun berharap, masjid ini akan terus kokoh berdiri sebagai penjaga Tanah Cirebon.


   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar