Yamaha

Ini Kebiasaan Puasa yang Populer di Kalangan Orang Tua di Cirebon

  Jumat, 01 Mei 2020   Erika Lia
Taman Goa Sunyaragi, salah satu objek wisata ikonik di Kota Cirebon. (Ayocirebon.com/Erika Lia)

HARJAMUKTI, AYOCIREBON.COM -- Warga Cirebon mengenal kebiasaan berpuasa selain ibadah yang dilaksanakan selama bulan Ramadan. Kebiasaan berpuasa ini rerata dilakukan orang-orang tua di masa lalu.

Kebiasaan berpuasa di Cirebon sendiri terbilang unik. Ada yang pantang memakan sesuatu, di sisi lain justru harus mengonsumsi sesuatu.

Pengamat budaya Cirebon yang juga Ketua Lembaga Basa dan Sastra Cirebon, Nurdin M Noer menyebut, setidaknya terdapat tiga kebiasaan berpuasa yang kerap dilakukan warga Cirebon dahulu.

Ketiganya masing-masing puasa mutih, puasa Sabrang Jepun, juga puasa mati Geni.

"Orang-orang tua zaman dulu ada yang melakukan kebiasaan puasa mutih atau mutih. Mereka cuma makan nasi dan air putih saja tanpa lauk apapun," tuturnya kepada Ayocirebon.com, Jumat (1/5/2020).

Mutih, imbuhnya, merupakan kebiasaan yang berlaku di Jawa. Kebiasaan ini sudah berlangsung sejak puluhan tahun lalu.

Menurut Nurdin, filosofi mutih adalah membersihkan diri, yang direpresentasikan warna putih sebagai simbol kesucian.

"Mereka yang melakukan mutih biasanya karena ingin mencapai harapan atau keinginannya," jelasnya.

Tak ubahnya dengan mutih, puasa Sabrang Jepun punya tujuan yang mirip. Dalam bahasa Jawa Cirebon, Sabrang Jepun berarti cabai rawit.

Kebiasaan ini banyak dilakukan warga Cirebon di era 50-60an. Nurdin mengaku, orang tuanya tak jarang melakukan kebiasaan ini semasa hidup mereka.

"Ibu saya dulu suka puasa Sabrang Jepun, sahur dan buka puasa dengan Sabrang Jepun saja. Tanpa makanan lain, cukup 'dikletus' (digigit) saja cabainya," ungkapnya.

Selain mutih dan Sabrang Jepun, warga Cirebon juga mengenal puasa mati geni. Kebiasaan ini tak mengizinkan seseorang menyalakan api dalam bentuk apapun.

Geni dalam bahasa Jawa Cirebon berarti api. Dengan begitu, para kaum perempuan pun tak boleh memasak.

"Tak boleh ada sepercik pun api," ujarnya seraya menambahkan, sang ibu pun dulu menjalani kebiasaan ini.

Dia menyebut, kebiasaan-kebiasaan itu dilakukan di luar waktu puasa ramadan. Meski populer dilakukan para orang tua di masa lampau, belakangan kebiasaan itu sudah tak lagi banyak dilakukan.

Nurdin membuka kemungkinan kebiasaan itu kini hanya dilakukan sejumlah orang di kalangan tertentu saja.

Kondisi itu dipengaruhi meningkatnya literasi ajaran Islam selama beberapa dekade belakangan. Dia tak menampik, kebiasaan berpuasa yang dijalankan orang-orang tua dulu memiliki kemiripan dengan budaya Hindu.

Puasa mati Geni misalnya, mirip dengan yang dilakukan umat Hindu kala Nyepi. Situasi ini tak lepas dari kultur Hindu melalui kekuasaan Kerajaan Pajajaran di Cirebon kala itu.

"Dulu kultur Hindu masih kuat karena Cirebon merupakan daerah kekuasaan Pajajaran," terangnya.

Perkembangan literasi Islam pun kemudian mengikis beberapa kebiasaan silam. Salah satunya meningkatkan pengetahuan bahwa puasa-puasa itu tak sesuai syariat/hukum Islam.

"Sekarang pemahaman Islam meningkat, bahwa beberapa kebiasaan tak sesuai syariat Islam sehingga termasuk bid'ah," katanya.

Dalam bahasa Arab, Bid'ah sendiri berarti perbuatan yang dikerjakan tak menurut contoh yang sudah ditetapkan, termasuk menambah atau mengurangi ketetapan.

Lain halnya dengan puasa Syawal yang juga populer dijalankan warga Cirebon maupun umat Islam pada umumnya. Menurut Nurdin, puasa Syawal yang dilaksanakan selama enam hari setelsh Idulfitri, tetap dilaksanakan sebagian besar orang-orang tua di Cirebon sampai kini.

"Puasa Syawal hukumnya sunah, sesuai syariat Islam, jadi masih banyak yang melaksanakan," tegasnya.


   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar