Yamaha

Saji Maleman, Tradisi Keraton Kasepuhan Cirebon Sambut Lailatul Qadar

  Selasa, 12 Mei 2020   Erika Lia
Keraton Kasepuhan Cirebon

LEMAHWUNGKUK, AYOCIREBON.COM -- Menyambut Lailatul Qadar, Saji Maleman menjadi salah satu tradisi yang tetap digelar Kesultanan Kasepuhan Cirebon di tengah pandemi Covid-19.

Saji Maleman yang akan dilaksanakan Rabu (13/5/2020) didahului Jamasan Gerbong Maleman, Selasa (12/5/2020). Saji Maleman berlangsung di komplek makam Sunan Gunung Jati, Desa Astana, Kecamatan Gunungjati, Kabupaten Cirebon.

Saji Maleman merupakan tradisi setiap malam pada tanggal ganjil di sepuluh hari terakhir Ramadan. Dalam tradisi ini, dinyalakan lilin, delepak, dan ukup, khususnya di makam Sunan Gunung Jati hingga Sultan Sepuh XIII.

Delepak merupakan bahan yang dibuat dari kapas dan minyak kelapa. Sementara, ukup terbuat dari kayu-kayuan serta akar wangi yang dicacah, untuk kemudian disangrai dengan gula merah.

Ukup berfungsi sebagai pengharum ruangan yang bekerja dengan cara dibakar. Kecuali ukup sebagai pewangi, delepak dan lilin dinyalakan sebagai penerang ruangan.

saji-maleman-guci-dan-mangkuk1
Guci dan mangkuk keramik berusia sekitar 700 tahun untuk tradisi saji maleman esok, hari ini dicuci. (ist)

Jamasan sendiri berarti pencucian pusaka. Pusaka yang dibersihkan merupakan perlengkapan yang akan digunakan untuk tradisi Saji Maleman.

"Pusaka yang dicuci terdiri dari gerbong, peti dari papan, guci dan mangkuk keramik, serta botol untuk diisi minyak kelapa," sebut Sultan Sepuh XIV Pangeran Raja Adipati Arief Natadiningrat, hari ini.

Gerbong dimaksud terbuat dari kayu yang berfungsi sebagai kontainer pengangkut. Sementara, guci dan mangkuk keramik yang berusia sekitar 700 tahun, difungsikan sebagai tempat ukup dan kapas.

Setelah jamasan, esok hari gerbong maleman diangkut ke komplek makam Sunan Gunung Jati oleh para pembawanya yang disebut Kraman Astana Gunung Jati.

saji-maleman-gerbong1
Gerbong kayu yang akan digunakan untuk tradisi saji maleman esok, hari ini dicuci. (ist)

Dilengkapi pula tombak, mereka akan menempuh perjalanan dengan berjalan kaki sepanjang sekitar enam kilometer, yang dimulai dari Keraton Kasepuhan Cirebon.

"Mulai Rabu delepak, lilin, dan ukup dinyalakan karena sudah malam ganjil," ujarnya.

Arief memastikan, pengiriman gerbong maleman bakal menerapkan protokol kesehatan Covid-19. Para kraman akan mengenakan masker dan menjaga jarak satu sama lain sepanjang perjalanan.

Menurutnya, di tengah keprihatinan wabah ini, Jamasan Gerbong Maleman maupun Saji Maleman menjadi salah satu tradisi yang tetap dijalankan pihaknya.

"Memang harus dilaksanakan, ada atau tidak ada wabah. Ibadah ramadan kan harus dijalankan, begitu juga dengan tradisi ini," terangnya.

Tradisi ini, imbuhnya, dilaksanakan dalam rangka menyambut malam Lailatul Qadar atau dikenal dengan sebutan malam dengan nilai 1.000 bulan. Momen di mana malaikat diyakini turun ke bumi untuk memberi rahmat taufik dan hidayah dari Allah SWT.

Untuk menyambut malam yang dianggap mulia ini, umat Islam khususnya harus menyiapkan diri dengan kebersihan dan keharuman. Nyala lilin dan pengharum itu juga bermakna, umat harus dalam keadaan bersih dan wangi, dengan hati maupun pikiran yang terang benderang.

Dia pun mengingatkan umat muslim untuk terjaga dari tidur dan lebih banyak berdoa, berzikir, membaca Al-qur'an, salat sunah, dan ibadah lainnya. Dengan begitu, diharapkan para malaikat yang membawa rahmat Allah lailatul qadar datang kepada umat.


   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar