Yamaha

Panas Matahari Berefek pada Virus Corona Masih Dipelajari

  Selasa, 26 Mei 2020   Republika.co.id
[Kartun Gag] Lawan Corona dengan berjemur di bawah sinar matahari karya Agus Eko Santoso. (Ayosemarang.com)

DUBAI, AYOCIREBON.COM -- Efek sinar matahari, panas, dan cuaca pada virus corona masih menjadi kajian para ilmuwan. Juru Bicara Kementerian Kesehatan Arab Saudi Dr  Mohammed Al Abulaali mengatakan, sejumlah komunitas ilmiah di berbagai negara telah mempelajari hal tersebut.  

"Sampai hari ini, efek langsung dari cuaca panas pada virus corona dan apakah itu mengurangi aktivitasnya, masa inkubasi, dan penyebarannya tetap menjadi bidang studi dan belum ada kesimpulan yang pasti," Al-Abulaali dalam konferensi pers kasus Covid-19 di Saudi, Minggu (24/5/2020).  

Dia menjelaskan, temperatur yang sangat tinggi memang bermanfaat dalam sterilisasi alat-alat kesehatan. Namun, paparan panas matahari pada manusia juga bisa berbahaya. "Karena itu, tidak semua pendapat atau desas desus harus diikuti," katanya sebagaimana dilansir Saudi Gazette.  

Sejak virus corona mewabah, muncul banyak perdebatan di komunitas ilmiah terkait efek suhu tinggi dan cuaca panas pada virus corona di komunitas ilmiah.

Salah satunya, peneliti di Prancis yang menemukan bahwa virus corona dapat bertahan hidup dari paparan suhu tinggi untuk jangka waktu yang lama, tetapi Covid-19 bisa dinonaktifkan ketika dipanaskan pada suhu 92 derajat Celcius selama 15 menit.  

Akademi Ilmu Pengetahuan, Teknik dan Kedokteran Nasional Amerika Serikat (AS) juga melakukan kajian. Pada April lalu, mereka menyatakan, dalam kajian eksperimental memang tampak ada hubungan antara suhu tinggi serta kelembaban dengan kelangsungan hidup virus corona di laboratorium. Namun demikian, terdapat banyak faktor lain yang mempengaruhi penularan virus corona antar manusia di 'dunia nyata'.  

Studi lain oleh para ilmuwan di Massachusetts Institute of Technology (MIT) di AS, menemukan bahwa tingkat pertumbuhan kasus Covid-19 lebih rendah di negara beriklim lebih hangat.

"Berdasarkan data penyebaran virus corona saat ini, kami berhipotesis bahwa jumlah kasus yang lebih rendah di negara tropis mungkin disebabkan oleh kondisi lembab yang hangat, di mana penyebaran virus mungkin lebih lambat seperti yang telah diamati juga pada virus lain," kata ilmuwan MIT itu.  

Kendati demikian, mereka mengatakan bahwa penelitian mereka tidak sama sekali menunjukkan bahwa virus corona tidak akan menyebar di kawasan tropis. Oleh karena itu, intervensi kesehatan tetap diperlukan untuk mencegah penularan.   

Pakar penyakit menular terkemuka di AS, Dr Anthony Fauci, mengatakan pada Maret lalu, tingkat penularan Covid-19 yang lebih rendah mungkin akan tampak selama musim panas. Tetapi, ia menekankan, jangan mengandalkan hal itu untuk memutus mata rantai penularan virus corona.


   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar