bank bjb
  
Yamaha

Tradisi Grebeg Syawal Cirebon yang Bertahan di Tengah Pandemi

  Kamis, 04 Juni 2020   Netizen
Tradisi Grebeg Syawal Cirebon yang Bertahan di Tengah Pandemi
Kompleks Pemakaman Gunung Jati, Desa Astana, Kecamatan Gunung Jati, Kabupaten Cirebon, Minggu (31/05/2012). (Melly Yustin Aulia)

Setiap Idulfitri, masyarakat berziarah ke makam para leluhur yang telah mendahului ke alam abadi. Begitu pun dengan keluarga keraton di seluruh Cirebon mengunjungi kompleks pemakaman Sunan Gunung Jati. Orang sekitar menyebut tradisi tahunan ini dengan “Grebeg Syawal”. Tradisi ini digelar setelah beberapa hari seusai lebaran Idulfitri.

Pada 8 Syawal tiap tahunnya, Kesultanan Keraton Kanoman menggelar ritual Grebek Syawal. Ribuan Masyarakat Cirebon dan sekitarnya turut mengikuti tradisi ini untuk mendoakan para pemimpin Cirebon terdahulu dan bersilatuhrahmi dengan keluarga Keraton.

Kompleks pemakaman Sunan Gunung Jati memiliki sembilan pintu dan berbukit. Pintu Teratai merupakan pintu untuk menuju puncak bukit tempat pesarean Syekh Syarif Hidayatullah atau yang terkenal dengan Sunan Gunung Jati. Disitulah keluarga keraton berdoa serta berdzikir. Hanya keluarga keraton dan juru kunci Pemakaman Sunan Gunung Jati saja yang boleh memasuki puncak bukit Gunung Sembung atau Gedung Jinem. Sementara itu, masyarakat umum biasa berdoa di pintu pasujudan.

“Kami melakukan tujuh kali doa bersama, tahlil, dan dzikir di tujuh areal pemakaman mulai dari makam Sunan Gunung Jati hingga makam cicit Sunan Gunung Jati yang menjadi raja Kanoman generasi kedua. Semuanya dilakukan menghadap kiblat, dan diakhiri dengan tutup doa menghadap Pintu Pasujudan sekaligus menutupan kembali pintu tersebut atas izin Sultan,” jelas Ratu Raja Arimbi Nurtina, Juru Bicara Keraton Kanoman seperti yang dikutip dari islamindonesia.id.

Kesembilan pintu gerbang memiliki nama masing-masing, seperti Pintu Gapura, Pintu Krapyak, Pasujudan, Pintu Ratnakomala, Pintu Jinem, Pintu Rararog, Pintu Kaca, Pintu Bacem, dan terakhir Pintu Teratai. Dalam Gedong Jinem, makam Sunan Gunung Jati berdampingan dengan para keluarganya. Terdapat ibunda Sunan Gunung Jati, Ratu Mas Rarasantang. Ada juga Pendiri Cirebon, Pangeran Cakrabuana. Selain itu ada istri Sunan Gunung Jati, Puteri Ong Tien Nio dan lain – lain.

Setelah menghaturkan doa, Keluarga Kesultanan Kanoman melakukan makan bersama. Lalu prosesi Grebek Syawal diakhiri oleh sawer, yakni prosesi pelemparan uang koin kepada peziarah. Uniknya, saat prosesi tersebut para peziarah berebutan untuk mendapatkan secercah uang koin.

Sosok Sunan Gunung Jati

Syekh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati memiliki pengaruh besar terhadap penyebaran Islam di tanah Jawa, khususnya di wilayah Cirebon. Karena itulah, Cirebon terkenal dengan sebutan ‘Kota Wali’.

Pengaruh Sunan Gunung Jati masih terasa sampai saat ini, salah satunya kutipan beliau “Ingsun titip tajug lan fakir miskin” artinya “Saya menitipkan masjid dan fakir miskin” tertulis dimana-mana di seluruh Cirebon.

Masyarakat di sini memang sangat menghormati beliau dan jasa-jasanya. Tak heran di beberapa hari tertentu selalu ramai peziarah—bahkan banyak peziarah datang dari luar kota. Menurut Hasan, salah satu juru kunci Sunan Gunung Jati, Lingkungan pemakaman selalu ramai pengunjung apalagi ketika Hari Besar Islam seperti Maulid, Sya’ban, atau pada Jum’at Kliwon.

“Selain dari Cirebon, banyak dari Jawa Barat, seperti di Bogor, atau Bandung. Luar Jawa juga banyak, dari Sulawesi, Sumatera, banyak dari seluruh Nusantara,” tukas Hasan.

Bertahan di Tengah Pandemi

Namun ketika pandemi Covid-19 sekarang, Grebek Syawal tahun ini agak berbeda dari tahun sebelumnya. Sore itu setelah prosesi Grebek Syawal dilakukan Keluarga Kesultanan Keraton Kanoman pada Minggu (31/05/2020), parkir bus terlihat sangat sepi dan hanya sedikit pedagang yang berjualan di area parkiran. Biasanya peziarah berdesak-desakan memasuki areal pemakaman, sekarang keadaan kompleks terlihat sepi.

Banyak desas desus mengenai penundaan Grebek Syawal tahun ini. Namun nyatanya Keraton Kanoman telah melaksanakan ritual Grebek Syawal sesuai yang telah ditetapkan sebelumnya yakni 8 Syawal atau bertepatan pada hari Minggu pagi (31/05/2020).  “Cirebon kan sudah masuk ke zona biru, prosesi Grebek Syawal tetap dilaksanakan sesuai protokol Covid-19. Sebelum keluarga keraton kanoman masuk ke kompleks pemakaman sunan gunung Jati, mereka cuci tangan memakai sabun dan memakai masker,” ungkap Zainal Abidin selaku pengurus Kompleks Pemakaman Sunan Gunung Jati.

Tahun ini pula, Grebek Syawal Keraton Kanoman tidak mengadakan sawer, melainkan memberi masker kepada masyarakat setempat.

Protokol Covid-19 selalu dijalankan oleh pengurus Kompleks Pemakaman Sunan Gunung Jati. Penyemprotan disinfektan juga dilakukan secara rutin, bahkan dari masyarakat umum ada yang menjadi relawan untuk menyemprot situs kebudayaan ini. Zainal juga menerangkan, untuk tahun ini pengunjung berkurang daripada tahun sebelumnya. Ketika Grebeg Syawal pula banyak masyarakat yang membagi hasil panen kepada pengurus Kompleks Pemakaman Sunan Gunung Jati, namun kala ini mereka dapat sedikit daripada biasanya.

Sebelumnya, Pemerintah Daerah Kabupaten Cirebon pernah menutup wisata sejarah dan ziarah ini. Masih terpampang spanduk pemeberitahuan bahwa kompleks pemakaman ini ditutup untuk umum di depan pintu masuk. Namun, menurut penuturan Zainal, pintu depan baru dibuka sekitar sore menjelang Idulfitri.

Dampak PSBB sebelumnya juga cukup besar bagi pengurus Kompleks Sunan Gunung Jati “Bayar listrik dan PAM berat sekali saat PSBB, sedangkan pemasukan tidak ada,” kata Zainal. Ia pun menambahkan “Untuk saat ini ada kas keramat, apabila terus dikeluarkan akan habis”.

Baru-baru ini, daerah Ciayumajakuning telah mendapatkan zona biru atau terkendali, kecuali Indramayu. Sehingga beberapa sektor ekonomi diperbolehkan untuk jalan lagi. Akan tetapi, Zainal masih merasa pesimis mengenai angka pengunjung nanti.

“Apabila kota-kota lain masih memberlakukan penyekatan jalan, jadi peziarah (yang ingin berkunjung ke Kompleks Pemakaman Sunan Gunung Jati) dari luar kota tidak memungkinkan bisa untuk memasuki wilayah Cirebon,” tutup Zainal.

(Melly Yustin Aulia/Mahasiswi Jurnalistik, Universitas Padjadjaran)

Catatan Redaksi:
Artikel ini sebelumnya telah dimuat oleh Ayobandung.com dengan judul Menilik Tradisi Grebeg Syawal di Cirebon saat Pandemi Covid-19.


   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar