Yamaha

Menolak Mati di Tengah Pandemi (2): Menyanding Virus yang (Masih) Bergeming

  Jumat, 19 Juni 2020   Erika Lia
Keraton Kasepuhan. (Ayocirebon.com/Erika Lia)

KESAMBI, AYOCIREBON.COM -- Virtual Tour De Cirebon menjadi jalan keluar bagi pelaku usaha pariwisata di tengah kemandegan aktivitas akibat pandemi Covid-19.

Otoritas kepariwisataan di Kota Cirebon telah mengonfirmasi tingkat kunjungan wisawatan mancanegara (wisman) maupun wisatawan domestik (wisdom) tergelincir jauh.

Kepala Bidang Pariwisata Dinas Kepemudaan Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata (DKOKP) Kota Cirebon, Wandi Sofyan menyebut, kondisi pariwisata di Kota Cirebon selama pandemi terdampak paling awal, selain sektor pendidikan.

"Pemberlakuan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) di daerah otomatis menghentikan sementara sektor usaha kepariwisataan," ungkapnya kepada Ayocirebon.com.

Pada PSBB berlaku kebijakan bagi masyarakat untuk mengurangi aktivitas dan mobilitasnya. Pemkot Cirebon pun mengikuti arahan serta regulasi dari pemerintah pusat.

Imbasnya, terjadi penurunan drastis jumlah kunjungan wisatawan selama pandemi Covid-19.

"Penurunan jumlah kunjungan wisatawan selama pandemik Covid-19 sangat drastis," ujarnya.

Sektor usaha perhotelan, tour travel, tempat hiburan, hingga kuliner menutup sementara kegiatannya dengan merumahkan karyawannya.

Meski tak menyebut angka penurunan dengan alasan masih melakukan pendataan, dia mengatakan, tingkat kunjungan wisatawan pada triwulan pertama tahun ini lebih baik dibanding triwulan kedua.

Pada triwulan pertama, Covid-19 belum sepenuhnya menjalar ke seluruh tanah air. Berbeda dengan masa triwulan kedua ketika kasus-kasus penyakit menular ini mulai bermunculan dan semakin menjadi di kota-kota besar.

Warga kawasan episentrum yang selama ini menjadi wisatawan domestik terbanyak di Kota Cirebon pun mulai menyetop safarinya. Kondisi itu berujung pada kelumpuhan sektor pariwisata di kota ini.

Wabah Covid-19 juga memaksa pemerintah melakukan refocusing dan realokasi anggaran demi penanganannya. Kondisi itu dialami pula DKOKP.

Beberapa kegiatan yang sedianya akan dihelat demi memajukan sektor pariwisata harus ambyar. Bukan saja kegiatan yang anggarannya sudah dialokasikan melalui APBD Kota Cirebon, dana-dana dari Pemprov Jabar untuk mendukung sektor ini pun tak jadi digelontorkan.

"Anggaran pembangunan kampung wisata Kanoman Utara dan Bendakerep sebesar Rp10 miliar yang merupakan bantuan dari provinsi ditunda pelaksanaannya," beber Wandi.

Tak ketinggalan, kegiatan promosi dan pemasaran pariwisata yang telah diprogramkan tahun ini dengan pos anggaran sekitar Rp200 juta juga harus menguap.

Belum lagi pengembangan kelembagaan sumber daya pariwisata berupa pemilihan Jaka Rara dan focus group discussion yang bersumber dari APBD Kota Cirebon sekitar Rp 200 juta, pula telah mengalami refocusing anggaran.

"Itu di bidang pariwisata, belum lagi beberapa kegiatan di bidang kebudayaan serta kepemudaan dan olahraga yang juga mengalami refocusing anggaran," tambahnya.

Sekalipun pandemi belum berakhir, fase Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) yang merupakan tahapan berikutnya setelah PSBB, memberikan secercah asa untuk pemulihan kepariwisataan.

Upaya pemulihan di antaranya melalui promosi dan pemberdayaan kelembagaan kepariwisataan. Salah satu inovasi yang dilakukan pihaknya berupa pengembangan aplikasi Wistakon.

"Selain itu, virtual tour yang digagas DPC HPI bersama Jasa Wisata selaku tour organizer," lanjutnya.

Virtual Tour De Cirebon yang merupakan varian produk salah satu pelaku pariwisata Cirebon di tengah pandemi Covid-19 itu dinilai sebagai salah satu inovasi dalam pemulihan sektor pariwisata di Kota Cirebon.

Di sisi lain, produk tersebut juga dianggap sebagai bentuk pemberdayaan para mitra pariwisata agar tetap dapat beraktivitas selama wabah berlangsung.

Tak hanya tur, pada sektor kebudayaan, para seniman dan budayawan Cirebon pun mempertunjukkan kesenian secara daring.

Dalam pandangan pihaknya, kepariwisataan di Kota Cirebon masih memerlukan kesiapan yang sejalan dengan fase AKB yang dicanangkan Pemprov Jawa Barat atau New Normal yang dicanangkan pemerintah pusat.

DKOKP Kota Cirebon sendiri masih menanti regulasi dari pemprov terkait pemulihan pariwisata.

Namun, pihaknya memproyeksikan sektor pariwisata harmonis dengan aktivitas perekonomian lain, maupun protokol kesehatan, di bawah bayangan virus Corona.

Harmonisasi itu dianggap penting agar aktivitas perekonomian dan kesehatan masyarakat dapat terlaksana.

"Kedisplinan pengelola usaha, pekerja, dan wisatawan merupakan faktor penting dalam hal ini," tandasnya.

Di tempat lain, upaya bertahan dilakukan pula Santika Hotel Cirebon yang kini menerima layanan pesan antar. Ini menjadi layanan terbaru yang dihadirkan pihak hotel pada Juni 2020.

Berbagai macam makanan ditawarkan dengan rentang harga Rp25.000-Rp150.000 nett.

"Layanan pesan antar ini untuk memenuhi kebutuhan para pelanggan setia kami yang ingin menikmati makanan khas Santika Cirebon di rumah masing-masing," tutur Restaurant & Banquet Manager Hotel Santika Cirebon, Arul Manarul.

Pihaknya menetapkan dua jenis makanan sebagai minimum pembelian untuk layanan pesan antar ini.

Pengantaran gratis untuk area berjarak radius 5 kilometer dari Hotel Santika Cirebon di Jalan Dr. Wahidin, Kota Cirebon.

Selain layanan pesan antar, Hotel Santika Cirebon juga memberikan layanan tanpa turun (drive-thru/lantatur).

Layanan ini memungkinkan konsumen menikmati makanan khas Hotel Santika Cirebon tanpa turun dari kendaraannya saat berada di hotel.

"Harga yang ditawarkan sama dengan layanan pesan antar. Yang membedakan hanya fasilitas yang didapat dan waktu pemesanan," katanya.

Layanan pesan antar bisa dipesan pukul 08.00-21.00 WIB. Lain halnya dengan layanan lantatur yang berlaku 24 jam, dengan syarat pemesanan minimal 30 menit sebelum pengambilan.

Pembayaran sendiri bisa dilakukan via transfer ke rekening Hotel Santika Cirebon.

Selain kedua layanan tersebut, Hotel Santika Cirebon juga memberi promo untuk kamar pada Juni ini. Harga yang ditawarkan Rp450.000 nett untuk menginap selama satu malam di kamar tipe superior.

Front Office Manager Hotel Santika Cirebon, Ade Supriyatna mengatakan, harga tersebut belum termasuk sarapan.

"Jika ingin termasuk sarapan untuk dua orang, harga per kamar per malam menjadi Rp550.000," katanya.

Dia menjamin, harga tersebut sudah termasuk pajak dan pelayanan. Sayangnya, persediaan kamar dengan harga promosi ini terbatas.

Selama masa pandemi sekarang, Hotel Santika Cirebon pun memberlakukan prosedur kesehatan dan keselamatan para tamu.

Public Relations Hotel Santika Cirebon, Chicko Handoyo mengemukakan, prosedur yang dijalankan di antaranya pengecekan suhu tubuh bagi para tamu.

"Bagi tamu bersuhu tubuh di atas 37,5°C akan dilarang memasuki area hotel," ujarnya.

Selain itu, cairan pembersih tangan dan tempat cuci tangan telah tersedia di pintu masuk, lobi, restoran, dan area publik lain untuk digunakan para tamu.

Pembersihan di semua area hotel juga dilakukan berkala dengan cairan disinfektan. Khusus karyawan hotel, dilakukan pula proses sanitasi sebelum beraktivitas di hotel.

"Para karyawan yang melayani tamu dipastikan pula yang bersuhu tubuh normal dan sehat," tambahnya.

Sementara, di area restoran yang tetap beroperasi pukul 06.00-22.00 WIB, diberlakukan pengaturan tempat duduk sesuai ketentuan jaga jarak sosial dari pemerintah.

Pihaknya juga menjamin kebersihan bahan makanan dengan mengikuti prosedur Food Safety & Hygiene Sanitation demi menjaga kesehatan dan kenyamanan bersama.

Sekalipun terasa berat dan rumit, para pelaku sektor pariwisata menemukan caranya untuk menolak takluk dari virus. Sejatinya, dibutuhkan kreativitas dan inovasi agar kelak dapat bersanding dengan virus yang bergeming di bumi entah sampai kapan.


   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar