Yamaha

Peh Cun, Tradisi Makan Bacang Tanpa Mendayung Perahu

  Kamis, 25 Juni 2020   Erika Lia
Bacang yang disajikan dalam tradisi Peh Cun atau Bacangan. (Erika Lia/Ayocirebon.com)

PEKALIPAN, AYOCIREBON.COM -- Tanpa festival mendayung perahu, tradisi makan bacang masih setia dilakukan warga Tionghoa di Cirebon kala Peh Cun. Bungkus bacang bersisi 4 mengandung makna filosofis.

Tumpukan bacang tersaji di atas meja altar sembahyang, ditemani kwecangĀ  dan pisang rebus. Api lilin masih menyala dan beberapa batang hio masih menguarkan asap.

Ritual doa bagi leluhur baru saja usai dilakukan. Bacang dan kwecang pun siap disantap dan dinikmati.

"Makan bacang setiap tanggal 5 bulan 5 dalam penanggalan Imlek merupakan tradisi warga Tionghoa. Ini bagian dari tradisi Peh Cub atau disebut juga tradisi Bacangan," terang warga yang juga pemerhati budaya Tionghoa, Indrawati, Kamis (25/6/2020).

Selain sembahyang mendoakan leluhur, hal paling ikonik dalam Peh Cun atau Bacangan adalah menyajikan dan menyantap bacang maupun kwecang.

Sebenarnya, ada pula kebiasaan lain yang sedianya dilakukan pada Peh Cun berupa lomba mendayung perahu naga. Peh Cun sendiri berarti mendayung perahu.

Namun, khusus di Cirebon, tradisi itu sudah lama tak lagi dilakukan. Dulu, sebelum era Orde Baru atau sekitar 1958, festival perahu naga dilaksanakan di Pelabuhan Cirebon.

"Tapi, saat Orde Baru berkuasa, tradisi itu tidak boleh diadakan," ungkapnya.

Padahal, tak sedikit warga Tionghoa Cirebon yang memiliki perahu untuk mengikuti festival Peh Cun. Ketika selama puluhan tahun Orde Baru melarang gelaran festival ini, para pemilik perahu pun tak lagi menaruh minat pada perahunya.

Lama kelamaan, perahu pun rusak karena tak dimanfaatkan. Akhirnya, festival mendayung perahu pun hilang sama sekali, walau era reformasi kemudian datang sampai kini.

"Makanya, sampai sekarang hanya menyajikan dan menyantap bacang serta kwecang yang masih dijalankan warga Tionghoa," cetus wanita bernama Mandarin Gouw Yang Giok ini.

Baik bacang dan kwecang dibuat dari beras ketan yang dibungkus daun bambu. Bedanya, bacang terasa gurih, mirip leupeut/lepet, sedangkan kwecang terasa mendekati hambar.

Bacang berisikan daging cincang, salah satunya daging ayam, kacang tanah, biji teratai, jamur, sayuran. Sementara, kwecang yang bentuknya lebih kecil, biasanya disantap dengan dilumuri sirup gula merah.

"Kebetulan bacang yang saya sajikan adalah menu vegetarian, tidak ada daging di dalamnya, paling hanya biji teratai, kacang tanah, jamur, dan daging bohongan yang terbuat dari gluten. Orang tua saya vegetarian, sedangkan dalam tradisi ini harus menyajikan apa yang disukai orang tua," bebernya.

Namun begitu, daging sedianya merupakan unsur penting dalam bacang. Dia mengisahkan, konon, tradisi makan bacang diawali dari pilihan seorang pejabat di masa akhir Dinasti Zhou di Cina yang mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri.

Pilihan itu diambil setelah dirinya diusir keluarga kaisar yang tak menyukainya, meski sang pejabat berbakat dan loyal pada negaranya. Pejabat itu bunuh diri dengan cara melompat ke sungai.

Menurut legenda, kejadian itu berlangsung pada tanggal 5 bulan 5. Rakyat yang kehilangan mencoba mencari jenazahnya.

Selama pencarian, agar ikan dan udang penghuni sungai tak mengganggu jenazah sang pejabat, rakyat melemparkan makanan yang dibungkus daun ke dalam sungai. Inilah yang kini dikenal sebagai bacang.

Sementara, nelayan yang pula mencari jenazah dengan memanfaatkan perahu, diyakini sebagai awal festival mendayung perahu (Peh Cun).

"Mengingat kami vegetarian, makanya daging diganti dengan gluten. Bentuknya dibuat mirip daging," cetus Indrawati.

Daun bambu yang membalut bacang dan kwecang bukan sekedar bungkusan. Balutannya harus membentuk empat sudut, yang setiap sudutnya bermakna filosofis.

Sudut pertama bermakna kerja keras, di mana setiap orang harus melakukannya bila ingin berhasil.

"Sudut kedua melambangkan rasa syukur, bahwa kita harus bersyukur atas semua yang diterima," tuturnya.

Sementara, sudut ketiga dan keempat masing-masing berisi peringatan bagi manusia untuk berbuat baik kepada siapapun dan merangkul semua kalangan.

Selain bacang dan kwecang, disajikan pula mie yang mengandung harapan agar setiap keturunan berumur panjang.

"Setelah menyantap bacang, kwecang, dan mie, minuman yang disajikan dianjurkan teh hijau sebagai peluruh lemak," ujarnya.

Sekalipun Peh Cun atau bacangan tak diperingati dalam suasana ingar bingar dan hanya dilakukan di rumah masing-masing warga Tionghoa, tradisi itu tak luntur hingga kini.


  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar