Yamaha

Cari Kandidat Produk Ekspor, Diaspora Indonesia Cina Lirik Batik Cirebon

  Senin, 29 Juni 2020   Erika Lia
Batik peranakan menjadi salah satu potensi lokal yang dilirik untuk diekspor ke Cina. (Ayocirebon.com/Erika Lia)

KEJAKSAN, AYOCIREBON.COM -- Batik Cirebon menjadi salah satu produk yang menarik atensi dan dipertimbangkan untuk diekspor ke Cina.

Di antara batik-batik lokal, Batik Peranakan Cirebon yang merupakan hasil akulturasi budaya Cirebon dan Cina dilirik sebagai salah satu kandidat. Posisi itu juga berlaku bagi Batik Story Kriyan yang memanfaatkan pewarna alami hingga mengundang ketertarikan.

Potensi batik sebagai produk lokal Cirebon yang akan diekspor menjadi salah satu misi kedatangan Indonesian Diaspora Network China dan Ide Indonesia Entrepreneurs (Idepreneurs Club).

Ketua Pembina Indonesian Diaspora Network China, Yenni Thamrin mengungkapkan, pakaian batik telah menjadi busana keseharian warga Cina yang berkunjung ke Indonesia. Tak hanya pelancong, baju batik juga dikenakan para investor yang tertarik dengan Indonesia.

"Kami sudah mengharuskan warga Cina yang datang ke Indonesia untuk mengenakan pakaian batik pada setiap kesempatan," ungkapnya kepada Ayocirebon.com seusai menyerahkan bantuan alat pelindung diri (APD) dari Indonesian Diaspora Network China, Rumah Perubahan, dan Idepreneurs Club di Ruang Kanigaran, Gedung Balai Kota Cirebon, Senin (29/6/2020).

APD yang diberikan diperuntukkan bagi para tenaga medis yang tengah berjuang di garda terdepan dalam menghadapi pandemi Covid-19.

Yenni menyebut, keharusan warga Cina mengenakan busana batik di Indonesia bertujuan mempromosikan batik-batik Nusantara. Selain itu, guna menaikkan pula devisa negara.

Dia mengingatkan, batik merupakan kebanggaan, dan pakaiannya merupakan busana kebesaran tanah air.

Yenni yang juga Pencipta dan Penasihat Senior Ide Indonesia Entrepreneur ini mengaku sebagai penggemar batik. Koleksinya bahkan meliputi seluruh batik se-tanah air.

Khusus Cirebon, Yenni menilainya penuh keunikan. Salah satu yang tidak lepas dari ingatannya adalah Mega Mendung yang populer sebagai motif khas Cirebon.

"Mega mendung immencerminkan keberuntungan yang besar. Dalam sejarah Cina, mega mendung itu buang sial," papar wanita yang akrab pula disapa Profesor Yenni ini.

Dia pun mengapresiasi harmoni pada batik peranakan yang memadukan budaya Cirebon dengan Tionghoa. Mega mendung menjadi salah satu motif batik yang merepresentasikan hal itu.

Menurutnya, batik peranakan menunjukkan hubungan persahabatan antara Indonesia dan Cina. Terlebih, dia pun sempat melihat kehadiran batik peranakan bermotif wayang.

"Ada wayang juga, itu menunjukkan hubungan persahabatan Indonesia dan Cina yang baik, yang mewujud dalam batik peranakan," cetusnya.

Sepengamatannya, batik Cirebon berpotensi menjadi salah satu produk khas Indonesia yang dapat diekspor ke Cina. Pihaknya membuka ruang bagi batik tulis maupun batik cap/printing.

"Misi kami ke Cirebon salah satunya mencari produk lokal untuk diekspor ke Cina," jelasnya.

Ketua Umum Idepreneurs Club, Prianto Indra dalam kesempatan itu membeberkan, sejauh ini beberapa hasil bumi tanah air berpotensi diekspor ke Cina, di antaranya kapulaga, porang atau iles-iles yang dapat dijadikan bahan baku mie, termasuk batik.

"Selain Cina, Rusia juga ternyata berminat (pada batik)," ujarnya.

Pihaknya sendiri mengaku baru mengetahui tingginya potensi batik Cirebon. Kekhasan pada batik Cirebon rupanya memiliki daya pikat yang layak diketahui publik internasional.

Meski begitu, pihaknya masih mengeksplorasi potensi lain di Cirebon. Dia sendiri menaruh minat pada udang yang menjadi kekhasan lain daerah ini.

Disinggung pengaruh Covid-19 terhadap rencana ekspor ke Cina, Anton mengemukakan, saat ini pengiriman barang sudah berjalan berupa 27 ton ikan laut dari Jawa ke Cina.

"Ekspor ikan laut 27 ton sudah berjalan tahun ini. Tujuannya justru untuk menggerakkan roda perekonomian di Indonesia di tengah wabah Covid-19," terangnya.

Pihaknya berharap, apa yang dilakukan bermanfaat bagi penghidupan masyarakat tanah air. Misi Idepreneurs Club sendiri menghimpun calon pengusaha tanah air untuk bersaing dengan pasar internasional melalui produk-produk yang potensial di tanah air.

Saat ini, jumlah anggota Idepreneurs Club yang terbentuk pada 2006 sekitar 300 orang.

Sementara itu, Wali Kota Cirebon, Nashrudin Azis memastikan dukungan dan komitmennya mempermudah investasi di Kota Cirebon.

"Kami memberikan sebuah penawaran, silakan berinvestasi di Kota Cirebon. Pemda akan berupaya memfasilitasi dan mempermudah prosesnya," tuturnya.

Wakil Wali Kota Cirebon, Eti Herawati menambahkan, pada fase adaptasi kebiasaan baru (AKB), Kota Cirebon disiapkan untuk kembali membangun sektor pariwisata yang sempat terpuruk akibat pandemi Covid-19.

"Kami bersyukur, saat ini tingkat hunian hotel sudah mulai naik sekitar 20%. Kami akan lanjutkan pengembangan daerah, salah satunya melalui pengenalan produk UMKM Kota Cirebon (kepada calon&calon investor)," tuturnya.


  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar