Yamaha

Tradisi Ngisis, Ikhtiar Pelestarian Wayang Kulit di Keraton Kasepuhan Cirebon

  Minggu, 05 Juli 2020   Erika Lia
Tradisi Ngisis di Keraton Kasepuhan Cirebon sebagai upaya mempertahankan wayang kulit pusaka. (Ayocirebon.com/Erika Lia)

LEMAHWUNGKUK, AYOCIREBON.COM -- Pagelaran wayang kulit menjadi salah satu tradisi yang masih dilestarikan Keraton Kasepuhan Cirebon.

Pada bulan Suro dalam penanggalan Jawa, wayang-wayang kulit berusia sekitar 500 tahun itu dimainkan para dalang dan dipertontonkan pada khalayak.

Di luar Suro, sedikitnya 200 wayang-wayang pusaka itu disimpan dalam kotak-kotak di keraton. Namun, dengan tujuan ketahanan kulitnya, setiap Jumat Kliwon mereka dibersihkan.

"Namanya Tradisi Ngisis, wayang-wayang kulit pusaka  itu dikeluarkan dari dalam kotak," jelas Sultan Sepuh XIV Pangeran Raja Adipati Arief Natadiningrat, Jumat (3/7/2020).

Wayang-wayang tersebut selanjutnya diangin-angin dan dibersihkan. Menurutnya, hal itu dilakukan agar wayang kulit tetap bersih dan kuat dari pertambahan usia yang dialaminya.

Tradisi Ngisis melibatkan dalang dan para abdi dalem di Museum Pusaka Keraton Kasepuhan.

"Setiap 1 Suro atau tanggal lain di bulan Suro, wayang-wayang pusaka dimainkan," ujarnya.

Dia mengakui, banyak sekali yang harus dilakukan di Keraton Kasepuhan dalam melestarikan budaya.

Untuk ini, dibutuhkan kesabaran, kerajinan, dan kepedulian tinggi, terutama di era sekarang.

Menurutnya, kini perhatian khalayak ramai terhadap kebudayaan bangsa sudah meluruh.

Karena itu, pihaknya tak henti menggelar tradisi-tradisi sebagai upaya melestarikan budaya Cirebon dan Nusantara.

"Semoga lestari budaya Cirebon dan nusantara," harapnya.


   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar