Yamaha

Riuh Rendah Panggung Wisata Alam Kala Pandemi Covid-19

  Sabtu, 11 Juli 2020   Erika Lia
Pelancong memadati Lembah Panyaweuyan di Kecamatan Argapura, Kabupaten Majalengka, selama masa New Normal.
MAJALENGKA, AYOCIREBON.COM- Di tengah pandemi Covid-19, Lembah Panyaweuyan dan Bukit Mercury Sayangkaak di Kecamatan Argapura, Kabupaten Majalengka, menghijau dan menampilkan lanskap nan menyenangkan mata.
 
Penduduk sekitar menjadi tokoh di balik layar yang memegang peranan penting keseluruhan proses itu. Selama beberapa waktu di awal tahun ini, hanya ada mereka dan terasering.
 
Kemudian, ketika kran pariwisata dibuka di tengah pandemi, membanjirlah para pemeran lain ke atas panggung itu. Hiruk pikuk pelancong pun memenuhi udara.
 
Mungkin saja, kebosanan akibat fase pembatasan diri telah menaikkan level antusiasme tak sedikit orang untuk memanfaatkan masa dibukanya kembali objek wisata.
 
Mengendarai sepeda hingga mobil, mereka menelusuri jalan. Entah berdua, entah beramai-ramai, mereka menuju Lembah Panyaweuyan maupun Bukit Mercury Sayangkaak di ketinggian Gunung Ciremai.
 
Untuk menuju destinasi wisata itu sendiri belakangan tak semudah dulu sebelum Covid-19 menyerang. Dulu, orang bebas keluar masuk hingga menuju Bukit Mercury Sayangkaak yang berlokasi lebih tinggi dari Lembah Panyaweuyan.
 
Kini, di tengah fase New Normal/Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB), disiagakanlah petugas dari otoritas penanganan Covid-19, yang dibantu warga sekitar, untuk mengawasi penerapan protokol kesehatan para pelancong. Tak sekedar memonitor penggunaan masker, mereka pun harus membendung antusiasme pelancong demi menyukseskan pencegahan penyebaran virus melalui konsep jaga jarak sosial (social distancing).
 
Untuk ini, dibuatlah sedikitnya 2 pos checkpoint untuk menuju Lembah Panyaweuyan. Tak semua pelancong diizinkan meneruskan perjalanan hingga ke atas lembah.
 
Dengan pertimbangan kepadatan pengunjung di sekitar lembah, banyak pelancong yang kemudian diarahkan menuju destinasi wisata alam lain yang berada di sekitar, salah satunya Curug Pelangi.
 
Di Lembah Panyaweuyan sendiri, tak hanya hamparan tanaman yang belakangan nampak. Ratusan orang menyemut di jalan yang tak terhitung besar.
 
Kapasitas parkirakan kendaraan pada destinasi yang disebut menyerupai pemandangan di Bali itu tak sanggup menampung jumlah kendaraan pelancong. Akibatnya, tepian jalan menuju lembah dipenuhi kendaraan, terutama sepeda motor.
 
Di puncak lembah yang dijadikan titik perhentian, para pelancong mengambil tempat yang dapat memuaskan mata dan hatinya. Memotret dan bercengkerama pun mereka lakukan. 
 
Checkpoint ke-3 selanjutnya ditemui di persimpangan yang menuju Bukit Mercury Sayangkaak. Di sini pun, banyak kendaraan yang terpaksa rela diputar petugas menuju lokasi lain karena kepadatan di Bukit Mercury Sayangkaak.
 
Melihat rentetan itu, tak berlebihan bila perjalanan menuju destinasi wisata di area ini membutuhkan perjuangan. Demi kepentingan kesehatan publik, aktivitas wisata kini tak lebih mulus dibanding sebelumnya.
 
Namun, bagi mereka yang berhasil mencapai Bukit Mercury Sayangkaak, perjalanan itu sejatinya terbayarkan. Nico, seorang dari 7 pelancong asal Kabupaten Indramayu misalnya, merasa puas meski harus menempuh perjalanan lebih dari 2 jam.
 
"Mau lihat (keindahan) Bukit Mercury soalnya ramai di media sosial," ujarnya kala ditemui Ayocirebon.com.
 
Perjalanan bersama rekan-rekannya mengendarai sepeda motor itu disebutnya sebagai touring yang sudah lama ingin mereka lakukan, namun terhalang Covid-19.
 
Meski harus melewati sejumlah checkpoint, mereka mengaku memahami maksud pemeriksaan. Tanpa banyak memikirkan hambatan sepanjang perjalanan, mereka menikmati masa melancong itu dengan bersenda gurau seraya berfoto yang dilatari pemandangan alam.
 
Sekretaris Mitra Pariwisata Gunung Ciremai (MPGC) Bukit Mercury Sayangkaak, Sutisna menyebutkan, destinasi wisata di Kabupaten Majalengka kembali dibuka sejak 27, Juni 2020.
 
"Sejak pertama dibuka lagi, pengunjung sudah membludak," ujarnya kepada Ayocirebon.com.
 
Destinasi wisata ini sempat ditutup selama lebih dari 3 bulan pada mula pandemi. Ketika dibuka kembali, pihaknya memberlakukan harga tiket lama atau tetap Rp15.000/orang.
 
Belakangan, meski di tengah pandemi, keramaian berlangsung pula di luar akhir pekan. Hanya, Sabtu-Minggu tetap menjadi waktu primadona bagi pelancong menyerbu objek wisata.
 
Sekalipun kembali beroperasi, imbuhnya, diberlakukan aturan new normal bagi para pelancong dan pengelola. Salah satu aturan itu berupa pembatasan jumlah pengunjung.
 
"Pengunjung dibatasi sesuai kapasitas 111 orang," sebutnya.
 
Selain itu, waktu kunjungan dibatasi paling lama hanya 1 jam. Pembatasan ini diberlakukan untuk pula memberi kesempatan bagi pengunjung lain yang hendak berwisata Bukit Mercury Sayangkaak.
 
Bukan saja jam kunjungan wisatawan, waktu operasi Bukit Mercury Sayangkaak pun diperpendek. Bila normalnya berlangsung pukul 08.00-17.00 WIB, kini bukit itu hanya dibuka pukul 08.00-15.00 WIB.
 
Pengunjung diwajibkan pula mengenakan masker dan membawa kelengkapan kesehatan lain yang diperlukan. Selain itu, mereka juga harus menjalani pemeriksaan suhu tubuh.
 
Pengunjung yang bersuhu tubuh di atas 37,5°C dilarang masuk dan petugas akan mengecek identitasnya. Bagi warga yang suhu tubuhnya normal, tapi tak mengenakan masker, pihaknya menyediakan masker seharga Rp7.000 berlogo Bukit Mercury Sayangkaak untuk dikenakan.
 
Dia mengakui, sampai kini masih ditemukan pengunjung yang tak bermasker sehingga tak diizinkan masuk. Pihaknya akan mengimbau dan menyarankan membeli masker yang disediakan di tempat bila memaksa hendak berwisata.
 
"Kalau ada yang membandel selama aturan new normal diberlakukan, kami jatuhi sanksi membersihkan area bukit dari sampah," tuturnya.
 
Dia menyebutkan, saat ini Bukit Mercury Sayangkaak dan objek wisata lain di Kabupaten Majalengka umumnya masih dalam tahap uji coba selama 1 bulan. Pelonggaran akan kembali diberlakukan bila tak ditemukan kasus Covid-19 selama uji coba.
 
Namun, bila ditemukan kasus, seluruh objek wisata terancam ditutup. Dalam pelaksanaan uji coba ini, disiagakan tim gabungan, baik dari gugus tugas desa dan kecamatan setempat hingga TNI/Polri.

  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar