Yamaha

Sanggar Sekar Pandan dan Lika-Liku Tari Topeng Cirebon

  Selasa, 28 Juli 2020   Andres Fatubun
Tiga siswi pelatihan seni tari topeng rumyang Cirebon tengah menjalani latihan pada Rabu (15/7/2020) dengan tetap menjaga jarak aman (Foto oleh: Rusni’a)

Cirebon adalah kota yang kaya akan budaya. Dari tradisi khas seperti turun sintren hingga kesenian seperti tari-tarian pun hidup di sana. Mereka mengakar, menjadi kebanggaan lokal, atau bahkan unjuk gigi di kancah internasional. Salah satu dari budaya yang kian eksis itu ialah seni tari topeng.

Sesuai namanya, tari topeng dilakukan dengan mengenakan topeng sebagai properti wajib ketika menari. Dalam tarian ini, topeng berperan sebagai representasi dari fase hidup manusia yang tak pernah lepas dari topeng itu sendiri. Karenanya, para penari dalam tarian ini lebih dikenal dengan sebutan “Dalang”. Sebab setiap penarinya harus mampu membawakan lakon dari karakter topeng yang mereka kenakan. 

Tari topeng disinyalir telah muncul pada masa kekuasaan Raja Majapahit dan menjadi popular pada tahun 1300 hingga 1400 Masehi. Popularitasnya pun bertambah akibat penetrasi politik islam ala Demak ke pesisir Jawa Barat, yang akhirnya menyebabkan tari topeng justru lekat dengan kota Cirebon.

Sejak saat itu, eksistensi tari topeng kian mengalami pasang-surut. Terlebih, derasnya arus globalisasi telah sedikit-banyak mengubah tatanan dan pola pikir masyarakat. Seperti yang dikutip dari Kompas.com (27/12/2017), pada 2017 silam, salah seorang pelatih sekaligus pemilik Sanggar Chandra Kirana bernama Fitria Leonita pernah mengisahkan surutnya peminat tari topeng. Fitria mengatakan bahwa eksistensi tari topeng menjadi sulit ditemukan, bahkan hanya ada beberapa lokasi dan kegiatan saja yang masih ramai oleh pagelaran tari topeng.

Meski terus digerus isu globalisasi, agaknya sejumlah pegiat seni di kota Cirebon tak jua kenal gentar. Sejumlah sanggar seni pun masih eksis dan berkembang di sana demi terus mempertahankan lestarinya tari topeng. Salah satunya ialah sanggar seni Sekar Pandan.

Oleh dua anggota keluarga keraton Elang Heri Komarhadi dan Elang Tomi, sanggar Sekar Pandan telah didirikan sejak 1992 silam. Meski sudah 27 tahun berkarya, sanggar ini masih terus aktif memperkenalkan kebudayaan khas Cirebon kepada masyarakat. Padahal, Elang Heri sendiri mengakui bahwa melestarikan suatu tradisi bukanlah hal mudah.

“Perjuangan kesenian tradisional tidak mudah. Memperkenalkan pada generasi muda itu susah sekali. Itu adalah gelombang dari perkembangan,” tukas Elang Heri, pendiri sekaligus ketua dari sanggar seni Sekar Pandan. Heri juga mengakui bahwa pasang surut dari sebuah pergerakan seni tetap tak dapat terelakkan.

Menyadari kesulitan tersebut, Heri tak tinggal menyerah. Bersama Sekar Pandan, ia gencar mengadakan pentas dari sekolah ke sekolah. Tujuannya tentu, agar tari topeng dapat menjamah minat dan pengetahuan masyarakat usia sekolah, terkhusus anak-anak. Hal itu dilakukan lewat kerja sama antara sanggar Sekar Pandan dengan Dinas Pendidikan Kota Cirebon.

“Minimal ya kerja sama sama diknas, karena kaitannya dengan belajar ya. Lima tahun dulu sih susah diknas tuh diajak kerja sama, itu tuh ‘Waduh, nanti dulu programnya belum ada’ kayak gitu, tapi alhamdulillah sekarang justru kebalik. Dari diknas malah yang mencari kita dan kita tinggal siap memberikan materi,” jelas Elang Heri dengan wajah sumringah. 

Kerja sama tersebut rupanya mempermudah sanggar Sekar Pandan untuk menggaet lebih banyak lagi atensi. Karena itulah, sampai tahun ini, sanggar Sekar Pandan memiliki kurang lebih 200 siswa pelatihan aktif. Seluruhnya tergabung ke dalam kelas regular.

Kelas-kelas regular di sanggar Sekar Pandan dibagi menjadi lima, sesuai dengan jumlah ragam tari topeng yang banyak berkembang di Cirebon. Kelima jenis tari topeng tersebut dibagi atas karakter-karakter khusus yang akan dilakonkan dalam tarian. 

Karakter pertama adalah topeng Panji, yang melambangkan kesucian seorang bayi. Kedua adalah topeng Samba (Pamindo), yang menggambarkan keceriaan, kelucuan, serta kelincahan anak-anak. Ketiga adalah topeng Rumyang yang merupakan representasi dari remaja labil. Keempat ialah topeng Patih (Tumenggung), yang melukiskan orang dewasa berwajah tegas yang berkepribadian dan bertanggung jawab. Terakhir, ialah topeng Kelana (Rahwana) yang menggambarkan amarah seseorang.

Dalam praktiknya di sanggar Sekar Pandan, kelimanya akan berlaku seperti fase yang harus dilewati oleh setiap siswa pelatihan. Pada setiap kelas tahapan, kurang lebih terdapat 10-20 siswa pelatihan.

“Kalau kelas (tari) topeng itu memang sudah ada fasenya. Kalau awal masuk (kelas tari) topeng itu belajarnya Panji. Kalau di sini belajar Panji enam bulan, dites. Dicoba kemahirannya, misalnya dia sudah menguasai, bisa lolos naik ke tari topeng Samba. Enam bulan lagi dicoba lagi, bisa lagi, terus meningkat-meningkat sampai terakhir adalah Kelana,” jelas Elang Heri. 

Dari perhitungannya, setiap siswa pelatihan akan menghabiskan sekitar dua setengah tahun untuk merampungkan seluruh materi dari kelima tahapan. Ia juga menambahkan, bahwa praktik “fase” tadi belum tentu berlaku seiras antar satu sanggar dengan sanggar lainnya. 

Di luar siswa pelatihan aktif, ada juga siswa pelatihan pasif. Menurut Heri, jumlah siswa pasif diperkirakan lebih banyak dibanding siswa aktif. Maksud siswa pasif di sini ialah siswa yang tidak selalu hadir dalam latihan setiap minggunya, melainkan siswa yang hanya akan hadir ketika dibutuhkan.

Setiap tahunnya, Sekar Pandan mengadakan acara yang Heri sebut dengan “Nggarap Kolosal”. Acara itu sendiri memerlukan kurang lebih 500 partisipan dalam setahun. Di saat inilah, siswa pelatihan pasif akan dipanggil untuk bergabung dan berlatih secara intens demi pertunjukan tersebut.

Seperti yang dikatakan oleh Elang Heri, sanggar Sekar Pandan memang hampir tidak pernah surut oleh kegiatan. Selain karena mendapat dukungan penuh dari pemerintah, mereka juga mendapat dukungan penuh dari masyarakat sekitar.

Berdiri di areal Keraton Kecirebonan rupanya membuat keberadaan sanggar Sekar Pandan jadi mudah diterima publik. Bahkan, masyarakat sekitar kini sudah mulai tertarik untuk mempelajari beberapa seni tradisional selain tari topeng, seperti gamelan dan wayang gembong.

Masyarakat pendukung, yang awalnya hanya berasal dari sekitar wilayah Keraton saja, kini mulai merambah dan berkembang hingga menjangkau luar daerah. Hal ini terbukti dari banyaknya anggota siswa pelatihan yang bahkan banyak berdatangan dari luar kota, seperti Kabupaten Cirebon, Majalengka, maupun Kuningan.

Elang Heri sendiri, berpendapat bahwa upaya pelestarian tari topeng menjadi lebih mudah dalam beberapa waktu terakhir. Hal ini terlihat dari banyaknya masyarakat usia pelajar yang mulai mampu membawakan tari topeng tersebut, meski mayoritas peminatnya masih berkisar pada usia sekolah dasar saja.

“Kalau secara pengenalan (tari) topeng, istilahnya lebih ke masyarakat ya yang sekarang. Karena, buktinya, anak-anak sekolah itu anak pelajar banyak yang bisa nari topeng,” ujar Heri. 

Ia menjelaskan, dulu, dalang dalam tari topeng beserta pemilik sanggarnya juga turut bertugas untuk menyiarkan agama Islam. Hal ini akhirnya memengaruhi minat masyarakat untuk turut terjun ke dunia tari topeng, meskipun budaya tersebut seharusnya dikembangkan lagi oleh keturunan dalang sebelumnya. Istilahnya, turun dalang. 

Sedangkan sekarang, tarian tersebut justru menjadi hal lumrah untuk dipelajari dan dikuasai oleh anak-anak usia sekolah. Saking umumnya, tarian ini bahkan muncul sebagai lomba dalam perayaan hari kemerdekaan. Hal ini tentu membawa angin segar bagi para pegiat seni tari topeng.

“Jadi, publikasi dan anak-anak yang istilahnya anak (usia) didik yang berapresiasi dan mengenalkan tari topeng. Otomatis perkembangannya lebih baik sekarang artinya,” ujar Heri menarik kesimpulan.

Menurut Heri, pasang-surut sebuah kesenian merupakan hal yang lumrah. Sejak kecil, ia yang selalu diperkenalkan pada seni budaya khas Cirebon pun mengaku bertahan untuk tari topeng atas dasar cinta, rasa memiliki, dan rasa bertanggung jawab untuk mengembangkan kesenian.

“Ya dasarnya adalah hobi ya, senang dulu. Tadi kan dari kecil dikenalin kesenian, jadi senang. Kalau roang senang tuh berbeda kan yah? Bertahan dengan apa adanya ya kan, gitu? Dasarnya itu,” tukas Elang Heri.

Ia juga menuturkan, bahwa kunci mengapa ia dan Sekar Pandan selalu bertahan ialah karena ia menikmati perjalan. Kondisi “pasang” ia sambut dengan suka cita. Sedang kondisi “surut” akan ia lewati dengan berpikir, mencari alternatif lain.

Satu hal yang sejak dulu tak pernah pudar dalam diri Elang Heri. Ia ingin terus berpartisipasi untuk turut melestarikan kebudayaan daerah. Ia berharap agar setiap lapisan masyarakat dapat terus berpartisipasi dan bersinergi demi menciptakan Cirebon yang lebih berbudaya. (Jihan Astriningtrias)


   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar