Yamaha

Wacana Pelurusan Sejarah, Sejarah Peteng Harus Dikaji

  Jumat, 07 Agustus 2020   Erika Lia
Sultan Kaprabonan Pangeran Raja Hempi Raja Kaprabon. (Ayocirebon.com/Erika Lia)

LEMAHWUNGKUK, AYOCIREBON.COM -- Kisruh yang melingkupi takhta Keraton Kasepuhan berbuntut pada tuntutan dibukanya sejarah gelap atau yang diakrabi masyarakat Cirebon dengan sebutan 'sejarah peteng', yang selama ini melingkupinya.

Sejarawan yang juga Sultan Kaprabonan Pangeran Raja Hempi Raja Kaprabon menjadi salah satu pihak yang setuju adanya pelurusan sejarah. Dalam hal ini, sejarah peteng harus dibawa ke tempat terang.

Namun, menurutnya, upaya pengungkapan sejarah peteng tak lantas harus diiringi perebutan takhta.

Hempi membeberkan, dari kisah turun temurun yang didengarnya, almarhum Sultan Sepuh XIV bukanlah trah Sunan Gunung Jati.

Sejarah peteng diawali dari terbunuhnya Sultan Sepuh V Pangeran Muhammad Syafiudin Matangaji pada 1786 oleh Belanda.

"Setelah Sultan Sepuh V wafat, Ki Muda atau Sultan Hasanudin yang bukan trah Sunan Gunung Jati dilantik menjadi Sultan Sepuh VI oleh pemerintah Belanda," terangnya.

Situasi itu pun berlanjut hingga kini. Meski setuju sejarah peteng harus diluruskan, dia memandang upaya itu harus melalui proses panjang penelusuran sejarah.

Kajian dan analisa yang panjang oleh pihak-pihak yang berkompeten pun selanjutnya perlu dilakukan. Pelurusan tak bisa serta merta disampaikan hanya melalui klaim-klaim belaka yang kelak akan pula berujung pada saling klaim.

AYO BACA : PRA Luqman: Saudara Rahardjo Djali Tidak Berhak atas Gelar Kerajaan

"Tidak bisa berdasarkan klaim saja, harus melalui kajian ilmiah sejarah seperti seminar dan penelusuran panjang," ungkapnya.

Hanya, dia mengingatkan, upaya meluruskan sejarah tak praktis sama dengan upaya perebutan takhta.

"Upaya meluruskan sejarah tak harus dibarengi upaya merebut takhta," cetusnya.

Dia menyampaikan, upaya meluruskan sejarah merupakan bagian dari tanggung jawab sejarawan kepada generasi selanjutnya.

Untuk ini, pihaknya sendiri sudah mengirim surat ihwal upaya mengungkap sejarah peteng kepada wargi dan pihak-pihak terkait di Keraton Kasepuhan.

Hanya, di sisi lain, dia tak menghendaki surat pernyataan yang dibuatnya dimanfaatkan oknum tak bertanggungjawab untuk kepentingan tak baik.

"Saya akan lawan mereka yang bernafsu berkuasa dengan menjadikan surat saya sebagai legitimasi," tegasnya.

Di sisi lain, dia mengaku prihatin dengan situasi di Keraton Kasepuhan Cirebon.

AYO BACA : Abaikan Putra Mahkota, Rahardjo Klaim sebagai Plt Sultan Sepuh XV


   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar