Yamaha

Penobatan Sultan Sepuh XV PRA Luqman Zulkaedin Terancam tak Diakui

  Kamis, 27 Agustus 2020   Erika Lia
Putra Mahkota Kesultanan Kasepuhan, PRA Luqman Zulkaedin. (Ayocirebon.com/Erika Lia)

LEMAHWUNGKUK, AYOCIREBON.COM -- Pangeran Raja Adipati (PRA) Luqman Zulkaedin diagendakan dinobatkan pada Minggu (30/8/2020). Sayang, Luqman menghadapi ancaman tak diakui oleh pihak-pihak yang mempersoalkan penobatannya.

Di tengah kisruh kelangsungan tahta Sultan Sepuh XV pasca mangkatnya Sultan Sepuh XIV PRA Arief Natadiningrat pada 22 Juli 2020, Kesultanan Kasepuhan tetap mengagendakan jumenengan (upacara penobatan raja/ratu) bagi putra mahkota PRA Luqman Zulkaedin.

Jumenengan akan dilaksanakan Minggu ini di Keraton Kasepuhan, bersamaan dengan peringatan 40 hari wafatnya Sultan Sepuh XIV. Karena itu, agenda lain berupa tahlil atas mangkatnya Sultan Sepuh XV.

Kesultanan Kasepuhan sendiri telah mengumumkan ihwal jumenengan maupun tahlil 40 hari Sultan Sepuh XV kepada sejumlah pihak.

"Menjelang prosesi pelantikan PRA Luqman menjadi Sultan Sepuh XV, Kami telah mendapat konfirmasi dari tokoh agama, para sesepuh, tokoh masyarakat, pejabat pemerintahan, pejabat kepolisian dan militer, tentang kesediaannya untuk hadir dalam prosesi itu," kata keluarga sekaligus advokat Kesultanan Ksepuhan, R Dan Bildansyah, Kamis (27/8/2020).

Pihaknya memandang, kesediaan para undangan yang sebagian di antaranya merupakan pemangku kebijakan, merupakan bentuk legitimasi bagi PRA Luqman sebagai Sultan Sepuh XV untuk mewarisi tahta yang ditinggalkan ayahandanya, Sultan Sepuh XIV PRA Arief Natadiningrat.

Dia memastikan, penobatan Luqman sesuai adat istiadat yang telah ajeg dipedomani dalam penentuan pewaris tahta sultan di Kesultanan Kasepuhan Cirebon.

Pihaknya tak menampik masih ada pihak-pihak yang keberatan, bahkan terang-terangan menolak penobatan Luqman.

"Sah-sah saja sepanjang bentuk keberatan atau penolakannya dilakukan dalam koridor hukum," ujarnya.

Pihak-pihak yang menolak atau keberatan terhadap penobatan Luqman sebagai Sultan Sepuh XV, diyakininya tak akan melakukan tindakan-tindakan yang dapat dikualifikasi sebagai melawan hukum, seperti memaksakan kehendak dengan cara yang anarkhistis.

Dia mengingatkan, bila dilakukan dengan cara demikian, resiko hukum yang berat menanti di depan mata.

Lebih jauh, pihaknya telah memercayakan jumenengan kepada aparat keamanan. Dia meyakini, aparat keamanan akan mampu menjaga pelaksanaannya kelak dari gangguan yang berpotensi menimbulkan keributan, kerusakan, atau bentuk gangguan lain yang melanggar hukum.

"Kami haturkan terima kasih karena selama ini telah profesional menangani persoalan di keraton," tandasnya mengapresiasi.

Penolakan atas penobatan Luqman sebagai Sultan Sepuh XV bermula dari keyakinan hilangnya trah Sunan Gunung Jati sejak kekuasaan Sultan Sepuh VI hingga kini. Masa itu kemudian dikenal dengan sebutan Sejarah Peteng.

kasepuhan-tolak-luqman
Deklarasi penolakan penobatan PRA Luqman Zulkaedin sebagai Sultan Sepuh XV. (Ayocirebon.com/Erika Lia)

Sejumlah pihak dari keluarga-keluarga keraton di Cirebon menilai saat ini masa yang tepat untuk membuka tabir sejarah peteng dan mengembalikan trah Sunan Gunung Jati.

Untuk ini, setidaknya 2 keraton dan keluarga keraton di Cirebon menyatakan penolakan atas penobatan Luqman. Menyebut diri Keluarga Besar Kesultanan Cirebon, mereka masing-masing Kesultanan Kanoman, Kesultanan Kacirebonan, dan keluarga keraton Mertasinga di Kabupaten Cirebon.

Juru bicara Keluarga Besar Kesultanan Cirebon, Pangeran Patih Tomi menyebut, selain Keraton Kanoman, Keraton Kacirebonan, dan Mertasinga, di dalamnya terdapat pula keluarga Kesultanan Kasepuhan.

"Kami sepakat menolak penobatan PRA Luqman Zulkaedin menjadi Sultan Sepuh XV," cetusnya.

Ketika sejarah peteng telah terkuak, pihaknya sebagai anak cucu Sunan Gunung Jati merasa berkewajiban meluruskan garis keturunan.

Bila tidak diluruskan, pihaknya mencemaskan beban besar yang akan ditanggung keturunan saat ini maupun di masa depan.

"Jangan sampai kota menanggung dosa kepada nenek moyang dan panutan kita, Syekh Syarief Hidayatullah Sunan Gunung Jati," tegasnya.

Menurutnya, kekeliruan yang terus menerus berpotensi menimbulkan kekisruhan tanpa henti. Karenanya, kebenaran sejarah harus ditegakkan dan diungkap jujur kepada khalayak luas.

Bila jumenengan bagi Luqman tetap berlangsung, pihaknya mengancam tak akan mengakui pria muda itu sebagai Sultan Sepuh.

"Kalau sampai terjadi penobatan kepada yang bukan keturunan Sunan Gunung Jati, kami tidak bertanggung jawab," tandasnya.


   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar