Yamaha

Pagebluk Covid-19 Bikin Kerupuk Melarat Kian 'Melarat'

  Kamis, 10 September 2020   Erika Lia
Amid dan Tati, produsen kerupuk melarat mentah dan matang di Desa Setu Kulon, Kecamatan Weru, Kabupaten Cirebon. (Ayocirebon.com/Erika Lia)

TENGAHTANI, AYOCIREBON.COM -- Di antara tepung tapioka dan garam, keluarga menjadi salah satu rasa yang ditambahkan dalam adonan Kerupuk Melarat, salah satu jajanan khas Cirebon.

Kerupuk warna warni yang banyak dijumpai di Cirebon ini disebut-sebut beroleh embel-embel 'melarat' karena proses pengolahannya yang memanfaatkan pasir sungai atau akrab dikenal pasir lanang.

Pemanfaatan pasir sungai tentu berbeda dengan pengolahan menggunakan bahan lain, seperti halnya minyak goreng. Pasir yang digunakan untuk menyangrai adonan kerupuk pun melalui proses pengolahan sebelumnya.

Pasir pertama kali direndam dalam air selama sekitar 3 hari. Selama itu, pasir diayak dan dipilah dari batu-batu besar maupun kotoran lain yang mengganggu.

Pasir hasil ayakan itulah yang kemudian digunakan untuk menyangrai. Dalam proses pengolahan kerupuk, pemanfaatan pasir memakan waktu lama dibanding minyak goreng.

Tanpa masa kedaluwarsa, pasir hanya akan berkurang karena berjatuhan selama proses menyangrai. Meski proses pengolahan hingga hasil produksinya bernilai murah, selama ini pasaran kerupuk melarat nyatanya meriah.

Tak hanya di wilayah Cirebon, kerupuk melarat pun beredar ke daerah lain di Jawa Barat maupun Jawa Tengah. Sayang, pasca Covid-19 mewabah, kemelorotan dialami para pelaku usahanya.

Kendati demikian, di masa sulit ini, prinsip makan tak makan asal kumpul menjadi penguat kerupuk melarat untuk bertahan.

Produksi Melorot

Eli Marliyah (61) sesekali mengecek potongan kerupuk melarat mentah yang terbungkus dalam karung plastik di teras rumah. Pada bagian lain terasnya, terhampar adonan-adonan kerupuk melarat yang tengah dijemur di bawah terik matahari.

Di salah satu bagian sudut lain rumah, tampak kesibukan yang berlangsung ramai sekedarnya. Di bagian rumah yang disebutnya pabrik pengolahan itu, berlangsung aktivitas produksi kerupuk melarat.

Tak banyak orang di dalam ruang produksi, hanya 7 pekerja saja. Dari jumlah itu, sedikitnya 3 orang bekerja hilir mudik dari dalam pabrik membawa tampah panjang dari anyaman bambu, ke halaman rumah untuk menjemur barisan adonan kerupuk melarat.

Cuaca panas pertanda baik bagi usaha yang digeluti warga Desa Gesik, Kecamatan Tengahtani, Kabupaten Cirebon, ini. Di desa yang belakangan menyandang sebutan Kampung Produktif tersebut, Eli memulai usahanya sejak sekitar 1980.

"Kalau mataharinya bagus (terik), setengah hari juga kering. Kalau 2 hari enggak kering bisa berjamur dan harus dibuang," ujarnya.

Yang dia maksud adalah adonan kerupuk melarat hasil olahan dari tepung tapioka, garam, ditambah pewarna makanan. Dibentuk persegi panjang, kerupuk melarat hadir dalam 3 warna berbeda, masing-masing putih, kuning, dan merah/merah muda.

kerupuk-melarat-eli-marliyah2
Eli Marliyah, produsen kerupuk melarat mentah di Desa Gesik Kecamatan Tengah Tani, Kabupaten Cirebon. (Ayocirebon.com/Erika Lia)

Di Desa Gesik, tampah-tampah dengan adonan kerupuk melarat di atasnya yang tengah dijemur di halaman rumah, nyaris jamak terlihat. Tak sedikit di antara penduduknya merupakan pelaku usaha rumahan kerupuk melarat.

Setidaknya terdapat 2 jenis usaha, masing-masing produsen kerupuk melarat mentah dan kerupuk melarat matang. Eli menjadi salah satu produsen kerupuk melarat mentah.

Hasil produksinya dia jual kepada para pedagang kerupuk melarat yang akan mengolahnya kembali dan menjualnya secara matang. Untuk 1 kg kerupuk melarat mentah, dia jual seharga Rp15.000.

Eli tak pelit memberi potongan harga menjadi Rp13.000/kg bagi pelanggan yang membelinya dalam jumlah lebih banyak. Selama ini usahanya telah mengundang pelanggan dari beragam daerah, seperti daerah-daerah di Wilayah Cirebon hingga Brebes dan Tegal.

"Tapi, sekarang enggak ada pelanggan dari luar kota. Paling jauh sekarang mah dari Majalengka dan Indramayu saja," cetusnya.

Kondisi itu terjadi di tengah wabah Covid-19. Penyakit menular yang disebabkan virus SARS-CoV-2 itu menyebabkan jumlah pelanggannya jauh berkurang.

Akibatnya, dia pun harus mengurangi jumlah produksi. Sebelum Covid-19 mewabah, Eli bisa memproduksi 3 kuintal kerupuk melarat mentah.

"Sekarang (di tengah pandemi) sih setengahnya," ujar ibu beranak 3 ini.

Pengurangan produksi praktis membuatnya mengurangi pula jumlah hari kerja bagi karyawannya. Dari 6 hari kerja pada Senin sampai Sabtu, kini produksi hanya dilakukan 3 hari saja sejak Senin hingga Rabu.

Kondisi itu telah berjalan selama sekitar 6 bulan terakhir. Dampak terparah dialami Eli pada bulan Ramadhan lalu ketika sekitar 2 ton kerupuk melarat hasil produksinya menumpuk akibat tak tersalurkan.

Biasanya, ramadhan menjadi waktu di mana dirinya mremaan (meraup untung). Untuk bulan puasa, produksinya dimulai sebelum Ramadhan datang.

"Biasanya bulan puasa kerupuk melarat banyak dipesan. Setelah covid, malah numpuk 2 ton karena enggak keluar (tak ada yang beli/pesan)," keluhnya.

Penurunan produksi dilakukan pula Sholahudin Al Ayubi (28), produsen kerupuk melarat mentah di desa yang sama dengan Eli. Selain Sholahudin yang akrab disapa Ola, sang kakak, Muhamad Saefullah juga menggeluti usaha nyaris serupa dengan produksi kerupuk melarat matang bermerk "Sumber Mares".

"Sebelum covid, produksi yang mentah bisa 2 kuintal, tapi setelah covid turun jadi hanya 1 kuintal," ujar Ola.

Mewakili sang kakak, dia menjelaskan pula penurunan produksi dialami kerupuk melarat matang. Saat ini, produksi kerupuk melarat matang hanya sepekan sekali dari sebelumnya setiap hari, dengan volume 2,5 kuintal untuk sekali produksi.

Meski sama-sama mengalami penurunan produksi, pengaruh Covid-19 terhadap kerupuk melarat mentah tak sebesar kerupuk melarat matang.

Ola yang merupakan generasi ke-3 dalam usaha yang dirintis sang kakek sejak 1987 itu menyebut, produksi mentahan hanya terpengaruh 40%-50%. Lain halnya dengan produksi matang yang bisa mencapai 80%.

"Untuk mentahan tidak sedrastis matang karena pasar konsumen mentahan kebanyakan lokal, seperti penjual rujak kangkung atau rujak asem yang barangnya bisa dibeli di pasar-pasar tradisional," bebernya.

kerupuk-melarat-Sholahudin5
Sholahudin Al Ayubi, produsen kerupuk melarat mentah di Desa Gesik Kecamatan Tengah Tani, Kabupaten Cirebon. (Ayocirebon.com/Erika Lia)

Sementara, produksi matang tergantung pada iklim pariwisata, di mana sejak Covid-19 mewabah sektor ini telah terpukul keras. Pembatasan aktivitas wisata membuat kerupuk melarat matang kehilangan pasar.

Kerupuk melarat Sumber Mares sendiri dipasarkan ke luar Cirebon, seperti Cikampek, Subang, Sumedang, Bandung, hingga Brebes, Jawa Tengah. Tingkat kunjungan wisatawan yang anjlok di mana-mana membuat pengiriman kerupuk melarat Sumber Mares pun menurun.

"Dulu pengiriman keluar kota setiap hari. Saat PSBB (pembatasan sosial berskala besar), enggak ada kiriman sama sekali dan sekarang (saat fase adaptasi kebiasaan baru/AKB) cuma 3 kali seminggu," paparnya.

Sekalipun menghadapi kesulitan, kerupuk melarat produksi kakak beradik ini berharga tetap. Untuk kerupuk melarat mentah, Ola menjual Rp13.000/kg.

Sementara, harga kerupuk melarat matang tergantung pada varian rasa. Untuk original dengan rasa manis gurih dijual Rp4.000/bungkus (sebungkus berisi sekitar 5 ons), pedas Rp5.000/bungkus, dan serundeng Rp5.500/bungkus.

Di Blok Wareng, Desa Setu Kulon, Kecamatan Weru, Kabupaten Cirebon, pasangan suami istri Amid (60) dan Tati (50), pemilik usaha kerupuk melarat merk 'Jaya' juga terpaksa menurunkan produksinya.

Kios kerupuk 'Jaya' yang menempel pada bangunan utama belakangan tak seramai dulu. Linier dengan sepinya pabrik pengolahan kerupuk yang berada di bagian belakang rumah.

"Dulu produksi 6 hari, kios juga ramai dengan pembeli dari mana-mana yang biasanya cari oleh-oleh. Sekarang, produksi cuma 3 hari karena kios juga sepi," tutur Amid yang menuruni usaha dari sang nenek pada sekitar 1990.

Sebelum pandemi, pabriknya memproduksi 1 kuintal kerupuk melarat mentah per hari. Dari jumlah itu, 30 kg di antaranya disangrai sebagai produk matang.

Lebaran pun menjadi masa mremaan hingga produksinya naik 3-4 kali lipat. Setelah pandemi, jumlah produksi turun drastis hanya menjadi 5 kg saja setiap harinya.

Baik penjualan kerupuk mentah maupun matang turun sekitar 70%. Di masa New Normal pun, mereka menilai penjualan belum membaik karena kecemasan atas Covid-19 masih menyelimuti kebanyakan warga, termasuk wisatawan dari luar kota.

kerupuk-melarat-adonan1
Seorang pekerja meletakkan adonan kerupuk melarat di atas tampah sebelum dijemur. (Ayocirebon.com/Erika Lia)

Sekalipun dirundung kesulitan dalam usahanya, Amid mengaku tak pernah beroleh bantuan dari pemerintah. Menurutnya, suntikan dana diperlukan bagi pelaku usaha kecil seperti dirinya.

Hanya, tak berapa lama dia menukas, "Sebesar apapun bantuan pemerintah, tetap saja bukan dana sendiri. Masih lebih baik kekuatan sendiri, ulet dan sabar saja."

Serupa dengan Sumber Mares, Amid dan Tati pun tak menaikkan harga barang jualannya. Untuk kerupuk melarat mentah rasa original dengan 2 varian rasa, gurih asin dan gurih manis, dihargai Rp14.000/kg, sementara rasa bumbu sari manis Rp30.000/kg.

Untuk kerupuk melarat matang, rasa original dan bumbu sari manis masing-masing dihargai Rp44.000/kg, sedangkan rasa pedas yang menggunakan bumbu serundeng dihargai Rp88.000/kg.

Pilihan

kerupuk-melarat-jaya2
Kerupuk melarat. (Ayocirebon.com/Erika Lia)

Eli dan Amid sama-sama menyebut masa di mana wabah ini merajalela sebagai masa terkelam selama mereka menjalankan usahanya.

"Dibanding krisis moneter (krismon) '98 sih, ini yang paling berat. Krismon cuma harga-harga saja naik, orang bisa tetap usaha asal kreatif," papar Amid.

Berbeda dengan fenomena kini yang membuat aktivitas masyarakat lumpuh karena ketakutan pada paparan virus. Apalagi, virus ini dipastikan para ahli akan tetap hidup berdampingan dengan manusia.

Karenanya, sekalipun pembatasan tak lagi berlaku, aktivitas masyarakat tetap tak dapat senormal dulu. Dampaknya, usaha kerupuk melarat pun dikhawatirkan tak semeriah sebelumnya.

Sekalipun dilanda kesulitan, Amid dan Tati tak sampai mengurangi jumlah pekerja. Sebanyak 7 pekerjanya tetap mengolah kerupuk melarat mentah maupun matang, sejak mulai menyangrai hingga pengemasan.

"Kami industri Pancasila, kekeluargaan. Kasihan kalau sampai diberhentikan, lagipula pekerja di sini masih keluarga sendiri dan butuh pekerjaan," ungkap Amid.

Para pekerjanya, yang terdiri dari laki-laki dan perempuan, bekerja dengan sistem borongan selama pukul 07.00-11.00 WIB. Para pekerja perempuan diberi upah Rp30.000/hari dan laki-laki Rp75.000/hari.

"Tugas pekerja perempuan lebih ringan dan mudah, bikin adonan dan menghaluskannya. Sementara laki-laki lebih banyak tenaga, mulai dari nyangrai, jemur, angkut-angkut kerupuk, dan lain-lain," terangnya ihwal perbedaan upah antar kedua jenis pekerja.

Langkah yang sama diambil pula Ola dan Saefullah yang memilih tetap mempertahankan seluruh pekerjanya, masing-masing 10 pekerja produk mentah dan 12 pekerja produk matang.

"Produksi memang berkurang, tapi enggak ada pengurangan karyawan. Kami enggak tega karena pekerja di sini warga lokal (warga sekitar/tetangga) semua," tutur Ola.

Sebagai pemilik usaha, dia dan sang kakak telah menganggap seluruh pekerja di sana sebagai bagian dari keluarga. Karenanya, dalam kondisi apapun, mereka harus tetap bersama menanggungnya.

Para pekerja sendiri bekerja pukul 07.00-13.00 WIB. Mereka terdiri dari bagian lapangan yang bertugas menjemur, memotong kerupuk mentah, dan mengemas, hingga bagian produksi yang bertugas membuat adonan hingga mencetak.

Meski tak ada pengurangan karyawan, sayangnya upah pekerja di bagian produksi terpengaruh situasi saat ini. Bila biasanya mereka bekerja secara borongan, kini upah yang mereka terima harus secara harian sebesar Rp45.000/hari.

"Jadi sekarang sistem pekerja bagian produksi sama dengan bagian lapangan, harian. Upahnya juga disamakan Rp45.000/hari/orang," bebernya.

Rupanya, tak hanya kerupuk melarat yang diproduksi di pabrik Ola. Kerupuk kulit (rambak/jangek) maupun gapit turut diproduksi para pekerjanya di sana.

Selain upah berupa uang, sebagai bentuk lain kekeluargaan mereka, para pekerja pun beroleh makan siang setiap hari. Selain itu, mereka tetap rutin menggelar pengajian yang setelahnya diisi makan bersama.

Menurut Ola, untuk mempertahankan usaha utama, mereka pun mengelola unit usaha lain berupa ternak kambing. Usaha ini dilakoni sebagai benteng terhadap usaha utama.

"Hasilnya ya tetap buat bareng-bareng," pungkasnya.

Berbeda dengan Amid dan Ola, Eli terpaksa memangkas jumlah pekerja agar tetap bisa bertahan. Dari 10 karyawan, dia mengaku, dengan berat hati harus memberhentikan 2 orang di antaranya.

Namun begitu, sebelum diberhentikan, ke-2 pekerja telah diajak berbicara untuk memahami situasi. Dia pun berjanji akan kembali mempekerjakan mereka ketika kondisi membaik.

Saat ini, Eli berusaha mengoptimalkan 8 karyawan yang tersisa dengan tugas masing-masing yang meliputi ulen adonan, cetak adonan, kukus adonan, menjemur, melepas adonan, hingga pemotong kerupuk mentah yang telah kering.

Di tengah situasi yang kurang menguntungkan dibanding dulu, Eli tetap berusaha mengambil sisi positif dari situasi yang mereka hadapi. Dia mengaku bersyukur tak sampai harus menjual harta benda untuk kelangsungan usaha dan hidupnya.

"Alhamdulillah, saya mah enggak sampai jual barang. Yang lain ada yang sampai jual motor, jual barang lain," ungkapnya.

Meski harus memangkas jumlah pekerja, Eli merasa tetap dapat mengapresiasi para pekerjanya. Salah satunya, dia bahkan tetap memberikan tunjangan hari raya (THR) bagi pekerja dan pelanggan setia, baik berupa uang maupun barang, mulai dari sarung hingga alat kebutuhan rumah tangga.

Bagi Eli, para pekerjanya merupakan bagian dari keluarga besar. Bersama mereka, dia pun tak henti melakoni usahanya sebagai bentuk ikhtiar bagi keluarga, meski gelombang pandemi belum berakhir.

"Harapan saya cuma 1, semoga covid enggak pernah ada lagi dan jadi normal lagi kayak dulu," tandasnya.

Salah satu pekerja Eli yang masih bertahan, Taenah (57), menjadi salah satu warga terdampak Covid-19. Janda beranak 5 ini harus berjuang berat mempertahankan hidupnya di tengah pandemi.

Selama lebih dari 20 tahun bekerja di pabrik Eli, dia pun menyebut keadaan sekarang merupakan yang paling menyedihkan. Belakangan, akibat pengurangan masa kerja, dia merasakan kurang produktif dibanding dulu.

"Sekarang sih banyak liburnya, kerja paling 2-3 hari aja. Jadi ya buat sehari-hari jual apa aja yang bisa dijual," ungkapnya.

Pendapatannya sebagai buruh pabrik kerupuk melarat hanya berkisar Rp30.000-Rp35.000 per hari. Saat masih dirasa kurang, dia terkadang dengan berat hati meminta kepada anak-anaknya agar bisa makan hari itu.

Namun, dia mengaku tetap bersyukur karena masih memiliki pendapatan. Tak sedikit di antara tetangganya yang harus menganggur karena tak lagi memiliki pekerjaan.

"Ya enggak apa-apa (kekurangan), yang penting masih bisa kerja dan punya gaji (upah). Pengennya sih covid enggak ada lagi, jadi kerupuk juga penjualannya normal lagi," harapnya.


   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar