Yamaha

Zona Merah di Kota Cirebon Terancam Bertambah

  Senin, 14 September 2020   Erika Lia
Ilustrasi (Ayobandung)

KESAMBI,AYOCIREBON.COM -- Jumlah zona merah akibat Covid-19 di Kota Cirebon terancam bertambah. Saat ini, keluarga menjadi salah satu area transmisi virus tertinggi.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Cirebon, Edy Sugiarto menyebut, sedikitnya 13, kelurahan sampai kini termasuk zona merah. Sisanya dari total 22 kelurahan se-Kota Cirebon di bawah bayang-bayang merah.

"Ada 12-13 kelurahan masuk zona merah, lainnya biru, hijau, tapi potensi merah," katanya, Senin (14/9/2020).

Menurutnya, ancaman itu muncul mengingat selama ini Kota Cirebon merupakan tujuan banyak orang dari beragam daerah. Sejak pagi hingga siang atau sore hari, jumlah penduduk Kota Cirebon berlipat menjadi sekitar 2 juta orang karena banyaknya warga daerah lain yang bekerja di daerah berjuluk Kota udang ini.

Jumlah kelipatan warga yang beraktivitas di Kota Cirebon memungkinkan terjadinya penyebaran virus SARS-CoV-2 penyebab Covid-19. Terlebih, Kota Cirebon tak memiliki 'pembatasan' sehingga memungkinkan siapa saja dapat memasukinya. 

Dalam situasi itu, terjadilah efek pingpong di Kota Cirebon. Dia menggambarkan, "Mereka yang bekerja di Kota Cirebon bisa jadi sebagai OTG (orang tanpa gejala) spreader. Kemudian pulang ke rumah dan menyebarkan virus kepada keluarga".

Tranmisi virus sendiri dapat terjadi di perjalanan, lingkungan rumah/keluarga, perkantoran, hingga pasar/mal. Saat ini, tranmisi paling tinggi terjadi pada kluster perjalanan maupun area rumah/keluarga, diikuti perkantoran.

Untuk mencegah penyebaran makin meluas, dia kembali menekankan kuncinya pada penerapan 3M, masing-masing mengenakan masker, mencuci tangan, hingga menjaga jarak.

"Kuncinya 3M disiplin diterapkan, itu hukumnya fardhu 'ain," cetusnya.

Pemberlakuan 3M khususnya bagi individu, komunitas, dan institusi. Sementara, tenaga kesehatan atau dalam hal ini pemerintah, diyakinkannya terus melakukan 3T+1I, yakni testing (tes usap) massal, tracing, treatment, dan isolasi/karantina.

Sejauh ini, sebutnya, tes usap sudah dilakukan terhadap sekitar 4.300 warga, rapid test bagi 8.000 orang, tracing terhadap 623 orang, dan 7 orang menjalani isolasi di gedung eks BKKBN setempat.

Sementara, dalam treatment bagi pasien positif, pihaknya salah satunya menggunakan metode pengobatan dari Erlina Burhan, dokter spesialis paru yang aktif pada Ikatan Dokter Indonesia (IDI), antara lain konsumsi vitamin C dosis tinggi.

Ke-2 sisi, imbuhnya, memiliki ketergantungan satu sama lain. Bila penerapan 3M di tengah masyarakat diabaikan, kasus Covid-19 terus bergulir dan penderita berjatuhan.

"Makanya, harus saling melindungi. Memakai masker, misalnya, bukan cuma untuk melindungi diri sendiri, tapi juga untuk melindungi orang di sekitar," tuturnya.

Dia mengakui, PSBB merupakan kebijakan paling ideal diambil untuk mengatasi situasi kini. Namun, PSBB harus berlaku nasional sebab bila tidak, spreader tetap bisa masuk ke kota ini melalui jalur-jalur lain yang tak terawasi.

Selain itu, sayangnya biaya untuk melaksanakan fase tersebut tergolong tinggi. Pada PSBB di awal-awal kemunculan Covid-19, otoritas Kota Cirebon harus menggelontorkan sekitar Rp68 miliar untuk penyelenggaraannya.

"Dari jumlah itu, untuk kesehatan (otoritas kesehatan) sekitar Rp13 miliar sampai Desember 2020," bebernya.

Meski dalam situasi kritis, dia meyakinkan, ketersediaan tempat tidur mencukupi. Setidaknya 2 rumah sakit di Kota Cirebon, yakni RSD Gunung Jati dan RS Ciremai masih menyisakan masing-masing 20 dan sekitar 15 tempat tidur.

"Dengan laju sekarang, masih cukup. Kalau terjadi perburukan, diputuskan 85% dari populasi yang mengalami gejala sedang ke bawah menjalani isolasi mandiri dan 15% yang mengalami gejala sedang sampai berat ditangani di rumah sakit," paparnya.


  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar