Yamaha

Dianggap Tertua, Ini Kisah Bedug Berlubang di Kabupaten Indramayu yang Konon Tabuhannya Terdengar Hingga Cirebon

  Sabtu, 03 Oktober 2020   Erika Lia
Bedug berlubang yang diyakini sebagai bedug tertua di Kabupaten Indramayu.
INDRAMAYU, AYOCIREBON.COM -- Di sebuah masjid di Kabupaten Indramayu, sebentuk bedug tua dirawat baik, sekalipun lubang yang menganga di bagian tengah membuatnya tak pernah ditabuh.
 
Bedug berlubang itu tergantung di Masjid Jami Sabilul Huda, Desa Benda, Kecamatan Karangampel. Berada tak jauh dari tempat wudu, sekilas, dia tampak seperti benda serupa umumnya.
 
Namun, sebuah lubang tepat di tengah membuat keberadaannya menimbulkan tanya. Apalagi, secarik kain yang menutupi bagian atas telah berhasil mengesankan eksistensinya tak sebiasa yang diduga.
 
Benarlah, pengurus masjid, Abdul Hamid menyebut, bedug itu berusia sangat tua. Masyarakat sekitar bahkan meyakininya sebagai bedug tertua di Kabupaten Indramayu dan telah menjadi semacam ikon masjid tersebut.
 
"Kalau dari cerita turun temurun, katanya bedug ini dibuat Sunan Welang, murid Syekh Quro," bebernya.
 
Berdiameter sekitar 1 meter dan panjang sekitar 1,3 meter, konon bedug itu dibuat dari kayu sidaguri. Meski disebut tertua, tak ada yang tahu pasti kapan bedug itu dibuat.
 
Hanya, bila menyesuaikan tahun yang tertulis menggunakan bahasa Arab pada masjid itu, bedug tersebut diprediksi dibuat pada 1112 Hijriah atau sekitar tahun 1692 Masehi.
 
Lubang pada bedug itu sendiri disebut-sebut sudah lama ada. Keberadaannya tak lepas dari kisah yang melatarinya.
 
Konon, tabuhan bedug tersebut terdengar sampai Cirebon. Salah satu pangeran dari Cirebon pun mengirim utusannya ke Desa Benda untuk meminjam bedug.
 
"Tapi, warga enggan dan menolak halus dengan mengatakan bedug ini berlubang. Padahal sebenarnya tidak, (berlubang)" ungkapnya.
 
Namun, setelah menerima kedatangan utusan pangeran dari Cirebon, kulit bedug tiba-tiba berlubang tanpa tahu sebabnya. Warga setempat pun akhirnya menghubungkan kejadian itu dengan kedatangan utusan pangeran.
 
Demi mempertahankan fungsinya, warga lantas mengganti kulit bedug dengan yang baru. Namun, bedug itu pun perlahan kembali berlubang.
 
"Enggak cuma sekali, diganti baru, berlubang lagi," ujarnya.
 
Menghadapi keanehan itu, warga pun akhirnya menggantinya dengan bedug baru. Sampai sekarang, bedug berlubang dibiarkan di tempatnya, sedangkan bedug baru digunakan untuk keperluan keagamaan.
 
Untuk menghindari tumpukan debu, Hamid pun menutupi bedug berlubang itu dengan kain. Terlepas dari keanehannya, dengan kisah yang turun temurun diceritakan, dia berusaha melindungi bedug tersebut.
 
Saat ini, bedug berlubang itu sudah dalam kondisi rapuh. Beberapa bagian kayunya pun sudah mulai mengelupas.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar