Yamaha

Di Tengah Pandemi, Keraton Kasepuhan Tetap Gelar Tradisi Ini

  Jumat, 23 Oktober 2020   Erika Lia
Sultan Sepuh XV PRA Luqman Zulkaedin menyerahkan guci kuno saat proses Siraman Panjang.(Ayo cirebon/Erika)

LEMAHWUNGKUK, AYOCIREBON.COM -- Di tengah pandemi Covid-19, Keraton Kasepuhan Cirebon tetap menggelar Siraman Panjang dan buka bekasem ikan sebagai tradisi menyambut Maulid Nabi Muhammad SAW, Jumat (23/10/2020).

Meski berlangsung secara terbatas akibat pandemi, antusiasme warga yang terlibat dalam tradisi itu tak surut. Air bekas cucian benda-benda pusaka dalam Siraman Panjang tetap menjadi incaran sebab diyakini mengandung keberkahan.

Benda-benda pusaka yang dicuci terdiri dari 7 piring wali, 38 piring pengiring, 2 guci, dan 2 gelas. Berhiaskan kaligrafi nama-nama baik Allah SWT dan kalimat thoyyibah (kalimat bermakna mensucikan dan mengagungkan asma Allah SWT), piring-piring yang dicuci itu disebut telah berusia sekitar 700 tahun.

"Selama ini benda-benda kuno itu disimpan di museum pusaka di area Keraton Kasepuhan," kata Sultan Sepuh XV Pangeran Raja Adipati Luqman Zulkaedin.

Proses pencucian diawali dengan membawa benda-benda pusaka dari museum secara beriringan. Siraman panjang sendiri lantas berlangsung di Ruang Keputren.

Tradisi dihadiri para wargi, abdi dalem, kaum Masjid Agung Sang Cipta Rasa, maupun masyarakat Magersari. Dia memastikan, tradisi dilaksanakan kalangan terbatas dan menerapkan protokol kesehatan.

"Mengingat pandemi dan sesuai anjuran pemerintah, pelaksanaan tradisi menerapkan protokol kesehatan dan terbatas," ujarnya.

Luqman mengemukakan, filosofi siraman panjang sejatinya relevan dengan situasi sekarang. Siraman panjang sendiri bermakna penyucian atau kebersihan diri.

"Setiap mau ibadah atau kegiatan apapun, manusia dianjurkan bersuci dulu atau dalam keadaan bersih. Harus mandi, harus wudhu, agar ibadah dan kegiatan kita diterima dan dilimpahi keberkahan Allah SWT," paparnya.

Makna penyucian itulah yang menjadi relevansi antara siraman panjang dengan anjuran pemerintah di tengah pandemi Covid-19. Sebagaimana diketahui, protokol kesehatan pencegahan Covid-19 memberlakukan pola hidup bersih dan sehat, salah satunya melalui cuci tangan.

Seusai siraman panjang, tradisi berikutnya berupa buka bekasem ikan sebanyak 2 guci. Tradisi ini dipimpin permaisuri, Raden Ayu Ratih Marlina, bersama para istri kerabat keraton.

Bekasem ikan merupakan serangkaian proses fermentasi ikan, khususnya kakap. Pada tradisi ini, proses fermentasi telah dimulai sebulan sebelumnya. 

Ikan diberi rempah dan dimasukkan ke dalam guci tertutup selama sebulan. Setelah dibuka, hasil fermentasi ikan dicuci dan dijemur, sebelum kemudian dimasak di dapur bersama nasi jimat.

"Nanti masakan olahan ini dihidangkan pada upacara Panjang Jimat," tambahnya.

Panjang Jimat merupakan puncak peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Sebelum pandemi, Panjang Jimat biasanya berlangsung meriah yang dihadiri khalayak ramai.

Namun, akibat pandemi pula, tahun ini upacara Panjang Jimat diganti dengan pembacaan kitab barzanji, sholawat, dzikir, serta doa kepada Allah SWT.

"Sesuai anjuran pemerintah juga, pelaksanaan Panjang Jimat nanti tetap terbatas dan menerapkan protokol kesehatan," pungkasnya.


   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar