Yamaha

Tari Topeng Cirebon dan 5 Filosofinya

  Rabu, 04 November 2020   Erika Lia
Tari Rampang Topeng dalam Festival Topeng Jabar. (Ayocirebon.com/Erika Lia)

HARJAMUKTI, AYOCIREBON.COM -- Tari topeng menjadi salah satu kesenian khas Cirebon yang populer dan telah dikenal luas.

Dalam beragam kesempatan, tari topeng kerap dipertunjukkan. Kesenian ini bahkan pula menarik minat warga mancanegara untuk mempelajarinya.

Sejumlah nama besar lahir sebagai penari (dalang), di antaranya Mimi Rasinah, Ki Sujana Arja, Ki Kartam, Ki Panggah, Dasih, Ki Carpan, Mimi Sawitri, dan lainnya.

Dalam bukunya berjudul Menusa Cerbon (Manusia Cirebon), pemerhati budaya Cirebon, Nurdin M. Noer (Alm) mengemukakan, Tari Topeng Cirebon semula hidup di kalangan keraton Cirebon sekitar abad ke-15.

Tari tersebut bahkan kemudian menjadi salah satu media dalam penyebaran ajaran Islam di Cirebon. Sunan Kalijaga disebut-sebut sebagai perekayasa kesenian ini.

Nurdin menyebutkan 5 filosofi yang digambarkan dalam tari topeng, masing-masing Panji, Samba, Rumyang, Tumenggung, dan Kelana/Kelana (Rahwana), yang direpresentasikan pada warna maupun mimik topeng (wanda/wajah) yang berbeda. Secara keseluruhan, tari topeng Cirebon merupakan pancalogi yang satu sama lainnya tak bisa dipisahkan.

"Iringan gamelan dan gerakan tari yang berbeda mencerminkan keadiluhungan tari yang biasa ditonton kalangan bangsawan keraton di masa lalu," tulisnya seperti disarikan Ayocirebon.com.

topeng-panji
Topeng Panji. (Ayocirebon.com/Erika Lia)

Sekarang, mari kita cermati satu per satu ke-5 filosofi itu yang dimulai dari Panji. Dalam setiap pertunjukan, Panji merupakan tarian awal yang digelar.

Gerakan tari pada penari yang mengenakan topeng Panji sangat lembut, berkontraksi dengan iringan gamelan yang keras. Direpresentasikan melalui topeng berwarna putih, Panji menggambarkan seorang anak manusia yang baru lahir.

Meski gerakannya lembut, Nurdin mengatakan, tari topeng Panji dianggap kalangan panarinya sebagai bentuk tarian yang paling sulit ketimbang 4 bentuk tari topeng lainnya.

"Karena itu, Panji jarang disukai para penari muda. Jenis tarian ini hanya bisa digeluti para penari topeng yang mumpuni," katanya.

topeng-samba
Topeng Samba. (Ayocirebon.com/Erika Lia)

Topeng berikutnya yakni Samba, yang merupakan bentuk tarian ke-2 dari topeng Cirebon. Nurdin menuliskan Topeng Samba berwajah hijau muda dengan raut muka yang tenang dan culun (lugu).

Tari topeng samba nyaris serupa dengan panji yang memiliki gerakan lembut, yang diimbangi iringan tenang gamelan. Samba menggambarkan manusia kala menginjak masa kanak-kanak, namun tetap mempunyai keyakinan kelak bisa tumbuh menjadi sosok kuat.

"Rupanya tarian samba lebih mudah dipelajari ketimbang Panji. Maka biasanya penari pemula lebih menyukai memulai samba sebagai pelajaran pertama dalam menggeluti tari topeng Cirebon," ungkap Nurdin.

topeng-rumyang
Topeng Rumyang. (Ayocirebon.com/Erika Lia)

Bentuk tarian ke-3 yakni Rumyang dengan topeng berwarna merah muda. Pada Rumyang, gerakan tari lebih lincah dibanding Panji dan Samba.

Iringan gamelannya pun terdengar lebih riang. Rumyang menggambarkan fase remaja yang sedang mencari jati diri.

"Ganjen (genit) dan banyak melenggak-lenggokkan muka ke sana kemari. Rumyang adalah gambaran anak remaja yang telah lepas dari masa kanak-kanak, tapi dia belum dewasa," terang Nurdin yang saat wafatnya meninggalkan seorang istri dan 2 anak.

topeng-tumenggung
Topeng Tumenggung. (Ayocirebon.com/Erika Lia)

Tumenggung merupakan bentuk tarian ke-4 dengan topeng berwarna merah. Gerakan tarian Tumenggung pun mulai lebih lincah dibanding 3 tarian sebelumnya, yang diimbangi iringan gamelan lebih dinamis.

Gerakan tari dan iringan gamelan tumenggung menggambarkan fase manusia yang sudah dewasa.

topeng-kelana
Topeng Kelana. (Ayocirebon.com/Erika Lia)

Berbeda dengan topeng sebelumnya yang mendeskripsikan fase kehidupan manusia, Klana/Kelana (Rahwana) merupakan simbol manusia penguasa yang hanya berpegang pada nilai-nilai duniawi.

Kelana merupakan bentuk tarian ke-5 dengan warna topeng merah tua. Iringan gamelan yang sangat dinamis dan keras, disertai gerakan tari yang sangat lincah, menunjukkan seseorang tengah berada pada puncak kekuasaan.

Gambaran filosofi pada tari topeng kelana tampak saat tarian digelar, ketika penari berkacak pinggang hingga membanting selendang. Gerakan kelana yang lebih ekspresif dan cepat menjadi tingkat kesulitan tersendiri bagi para penari, serupa dengan kelembutan dan kehalusan panji.

"Hampir sama dengan Panji, sangat sedikit penari yang mampu menarikan klana, kecuali bagi mereka yang telah mencapai tingkatan mumpuni. Penari-penari jenis ini mulai tergolong langka, terutama setelah meninggalnya Ibu Sushi dari Palimanan dan Ibu Sawitri dari Losari," bebernya.

Pada akhir kata, Nurdin menyampaikan, tari topeng Cirebon tak sekedar indah. Filosofi dan kehalusannya pun terbilang unik.


   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar