Yamaha

Kota Cirebon Catat Kasus Covid-19 Tertinggi, Masyarakat Masih Sangsi

  Senin, 09 November 2020   Erika Lia
Umat muslim melaksanakan salat di Masjid Raya At Taqwa, Kota Cirebon, dengan penerapan prokes pencegahan Covid-19. (Ayocirebon.com/Erika Lia)

KEJAKSAN, AYOCIREBON.COM -- Menjelang setahun pandemi Covid-19 di Indonesia, sejumlah masyarakat masih menyangsikan ancamannya. Di sisi lain, Kota Cirebon sempat mencatatkan penambahan kasus tertinggi.

Aktivitas keseharian di ruang publik yang cukup hiruk pikuk rupanya telah kembali menciptakan fenomena atas eksistensi Covid-19. Di awal pandemi, sebagian orang menyangsikan Covid-19 bahkan memunculkan spekulasi yang melatari kelahirannya.

Seorang warga Kota Cirebon, Nunung mengungkapkan, sempat kembali mempertanyakan kehadiran Covid-19 di tengah khalayak. Pandemi seolah terlupakan ketika dirinya mengamati situasi di luar rumah.

"Melihat orang-orang di luar sana, bahkan ada yang enggak pakai masker, seperti Corona enggak ada. Jadi, sebenarnya Corona teh ada atau enggak," ungkap perempuan asal Kecamatan Harjamukti ini saat menceritakannya pengalamannya kepada Ayocirebon.com belum lama ini.

Namun begitu, dia mengaku kesangsiannya atas pandemi yang telah berlangsung sekitar 9 bulan terakhir ini, tak membuatnya lengah terhadap penerapan protokol kesehatan (prokes) pencegahan Covid-19. Mulai mengenakan masker hingga menghindari kerumunan orang tetap dilakukannya.

Lantas, dia sempat berbincang dengan salah satu tetangganya yang terkonfirmasi positif. Sang tetangga, sepasang suami istri, tertahan di Sulawesi Selatan pasca terkonfirmasi positif.

Mereka diketahui tetap tak bisa pulang ke Cirebon, meski kini telah terkonfirmasi negatif. Sebabnya, pemulihan mereka membutuhkan waktu terhitung cukup lama setelah salah seorang di antara pasangan itu diketahui memiliki penyakit yang membuat kondisi kesehatannya terganggu pasca terserang virus SARS-CoV-2 penyebab Covid-19.

"Saya ngobrol sama mereka (tetangga) di telepon, tanya gimana rasanya, beneran apa enggak seperti yang disebut-sebut di berita-berita. Katanya, beneran, gejalanya juga parah, mereka sampai sesak napas dan jadi ketakutan," tuturnya.

Obrolan dengan tetangganya itu kembali membangkitkan keyakinannya atas kehadiran Covid-19. Penerapan prokes pun tetap dilakukannya seperti biasa.

Ibu beranak 3 ini menaruh asa pandemi segera berakhir agar dirinya dapat kembali beraktivitas normal. Dia juga berharap masyarakat luas disiplin menerapkan prokes.

"Soalnya saya masih menemukan orang tak bermasker. Walaupun sempat sangsi, saya juga tetap takut kena Corona," imbuhnya seraya terkekeh.

Kota Cirebon sendiri diketahui mencatatkan penambahan 46 kasus pada Sabtu (7/11/2020). Jumlah itu merupakan tertinggi yang terdata hanya dalam waktu sehari.

Sampai Senin (9/11/2020), otoritas penanganan Covid-19 setempat mendata jumlah 599 kasus. Rinciannya, 33 pasien meninggal dunia, 210 masih dalam perawatan maupun karantina mandiri, dan 356 pulih.

Di antara pasien yang meninggal dunia, 2 orang di antaranya merupakan tenaga kesehatan (nakes). Sementara, tak sedikit nakes lainnya masih berjuang untuk pulih dari Covid-19.

Salah seorang dokter yang juga Ketua Komisi III DPRD Kota Cirebon, Tresnawaty menyebut, kondisi itu membuktikan Covid-19 nyata dan berada di tengah publik. Meski satgas telah berupaya keras menanganinya, tampaknya viral load sangat luar biasa sehingga sebagian individu tak kuat menghadapi serangan virus ini di tubuhnya.

"Frekuensi serangan virus luar biasa, melebihi kemampuan manusia untuk bertahan," terangnya.

Penambahan jumlah kasus yang memecahkan rekor di Kota Cirebon akhir pekan lalu sendiri, dipandangnya sebagai implikasi dari tes usap massal yang dilaksanakan Satgas Penanganan Covid-19 Kota Cirebon.

"Angka 46 kasus itu fenomena massive test," ujarnya.

Satgas sendiri ditarget melaksanakan tes usap sebanyak 18.000 sampel hingga akhir 2020. Sejauh ini, tes yang dilaksanakan baru sekitar 8.450 sampel.

Menjelang akhir tahun yang semakin dekat, dia meminta satgas semakin gencar melaksanakan tes usap massal. Bersamaan itu, dia meyakini, angka kasus pun akan terus melonjak, terutama pasien tanpa gejala.

Dia mengharapkan masyarakat aktif mendatangi kantor kecamatan atau tempat pengujian lain yang disediakan Satgas Covid-19. Pasien yang telah terkonfirmasi positif tanpa gejala pun harus sadar diri untuk karantina untuk menekan penularan.

Sejatinya, imbuh perempuan berhijab ini, perjuangan menghadapi Covid-19 menjadi tugas semua orang. Mengingat manusia sebagai faktor penyebar, setiap individu harus memiliki kesadaran tinggi untuk memutus mata rantai agar tak tertular dan tak menularkan.

Dalam situasi saat ini, dia mengimbau Satgas Penanganan Covid-19 Kota Cirebon untuk tak berlebihan membebani tugas para nakes. Langkah itu harus dipertimbangkan agar para pejuang garda depan tersebut tetap terbebas dari penyakit, di tengah tugasnya melayani masyarakat.

"Penuhi kebutuhan jumlah nakes sehingga pelayanan tak terganggu," imbaunya.

Bila terdapat fasilitas kesehatan (faskes) yang harus ditutup sementara sebab terpetakan sebagai kluster, dia meminta otoritas terkait menyiapkan faskes lain yang setara. Dengan begitu, pelayanan tetap berjalan, terutama pada pelayanan gawat darurat.

Dalam kesempatan itu, dia berpesan kepada para nakes untuk tetap bersemangat. Dia mengingatkan untuk mengutamakan kondisi kesehatan diri dengan mengenakan APD yang memadai selama memberikan pelayanan.

"Ingat, si rumah masih ada keluarga yang juga sangat membutuhkan kita sehat," cetusnya.


   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar