Yamaha

CERITA ORANG CIREBON: Begawan Jojoan dan 'Rapalan' Kusdono Rastika di atas Kaca

  Senin, 16 November 2020   Erika Lia
Kusdono B. Rastika, pelukis kaca Cirebon. (Ayocirebon.com/Erika Lia)

GEGESIK, AYOCIREBON.COM -- Kusdono B. Rastika (dikenal pula Kusdono Rastika) dan lukisan kaca tak bisa dipisahkan. Goresan cat di atas kaca adalah rapalan pria itu atas interpretasinya terhadap fenomena kehidupan.

Bagi sebagian orang yang berkecimpung di dunia kesenian, Kusdono Rastika barangkali bukan sebuah nama asing. Terlebih, nama Rastika yang menyambung di belakang nama pertamanya.

Rastika merupakan salah satu maestro lukisan kaca Cirebon. Maka, sudahlah bisa ditebak, Kusdono Rastika memiliki koneksi dengan nama besar itu.

Dia merupakan putra ke-4 dari 5 bersaudara anak Rastika (Alm). Hidup berumah tangga bersama Nurcahyani dan seorang anak mereka, Kusdono meneruskan jejak mendiang sang ayah di rumah sekaligus galerinya di Villa Gegesik Blok F Nomor 03-04, Jalan Ki Gesang Gegesik Kidul, Kecamatan Gegesik, Kabupaten Cirebon.

Sejak usia 14 tahun, pria kelahiran Cirebon pada 2 Oktober 1981 itu telah melukis di atas kaca dengan ilmu yang diberikan sang ayah. Ketertarikannya pada lukisan kaca sendiri telah muncul sejak usia sekitar 13 tahun.

Kali pertama dia menggoreskan kuas, hasil lukisannya berupa karya monokrom hitam putih bermotif bunga. Sejak itu, kemampuannya berkembang pada lukisan warna dengan kebanyakan tema pewayangan maupun kaligrafi.

Sayang, sebuah insiden menyeret Kusdono pada satu situasi yang menentukan jalan hidupnya kini. Di awal karir seninya pada usia 14 tahun, Kusdono yang masih duduk di kelas 2 SMP terjatuh akibat terdorong teman-teman sekolahnya yang berebut pulang kala bel sekolah berdering.

"Saya terjatuh di depan pintu dan terinjak-injak," ujarnya saat berbincang dengan Ayocirebon.com.

Semula, dia tak merasakan gejala apapun. Hanya lama kelamaan, kakinya merasakan kelelahan seolah habis menempuh perjalanan jauh.

Kondisi itu memburuk ketika sang kaki kiri terasa berat hingga akhirnya tak bisa lagi berjalan. Meski kehilangan kekuatan kaki kirinya, Kusdono tetap bersekolah seperti biasa.

"Saya enggak mau putus asa dan berhenti. Saya tetap ke sekolah dengan dibonceng teman, waktu berangkat maupun pulang," cetusnya.

Sayang, kaki kanannya kemudian menyusul melemah. Sempat divonis mengalami rematik, belakangan dokter menyatakan Kusdono mengalami syaraf terjepit dan kurang cairan.

Upayanya berobat tak banyak menunjukkan hasil. Dari terpaksa menggunakan tongkat sebagai penyangga selama berjalan, Kusdono pun terpaksa merelakan kemampuan berjalannya dengan harus tergantung pada kursi roda hingga kini.

lukis-kaca-Kusdono-B-Rastika-Rini-Sumarno
Kusdono B. Rastika saat menerima penghargaan dari Menteri BUMN RI, Rini Sumarno pada 2016. (Dok. pribadi Kusdono B. Rastika)

Kusdono mengaku pasrah dengan kondisi yang dialaminya sekarang. Namun, itu adalah momentum terbukanya peluang lebar bagi Kusdono untuk mengasah dan memperdalam bakat serta kegemarannya melukis dengan berguru pada sang ayah.

"Upaya berobat sudah, tapi Allah berkehendak lain, jadi saya pasrah. Bapak saya (mendiang Rastika) bilang, untuk berobat saya itu dulu kalau dihitung-hitung bisa buat beli 3 unit rumah BTN dan isinya," ungkapnya setengah berseloroh.

Melukis menjadi waktu Kusdono melupakan penyakitnya. Tak sia-sia, sampai sekarang karyanya sudah mencapai ratusan.

Lukisan karya Kusdono hadir dalam beragam tema dan ukuran, mulai 30x20 cm sebagai lukisan terkecil seharga sekitar Rp500.000 hingga 122x73 cm sebagai yang terbesar seharga sekitar Rp15 juta. Selain ukuran, tingkat kerumitan pun menentukan harga.

Pasar dalam negeri masih mendominasi ruang yang menampung karya-karya Kusdono. Sekalipun sejatinya pasar luar negeri terbuka, sayangnya proses pengiriman lukisan bukan perkara mudah, mengingat sifat kaca yang rentan.

Sekalipun begitu, bakat Kusdono tak sebatas menarikan kuas di atas kaca. Dia juga diketahui mahir mengguratkan keahliannya di atas kanvas, hingga menyungging wayang kulit, mewarnai topeng, wayang golek, dan lainnya.

Bagi Kusdono, media apapun akan menjadi ruang baginya menyalurkan bakat dan kesukaannya. Karena itu, bilapun tak terpaku pada kursi roda, Kusdono memastikan dirinya akan tetap menjadi seniman lukis kaca.

"Insyaallah akan tetap jadi pelukis kaca karena cita-cita saya ingin seperti bapak, jadi pelukis terkenal sampai dianugerahkan penghargaan sebagai maestro lukisan kaca Cirebon oleh Bentara Budaya," tuturnya.

Meski dibayangi nama besar Rastika, Kusdono mengaku tak merasa terbebani dengan prestasi sang ayah. Dia justru bangga dan menyukainya sebab merasa diberi jalan untuk meneruskan dan melestarikan salah satu kesenian Cirebon.

Banyak pameran yang telah diikutinya, mulai dari yang digelar Hotel Santika Cirebon, Taman Budaya maupun Gedung Yayasan Pusat Kebudayaan (YPK) di Bandung, Bentara Budaya Jakarta dan Krianusa JCC Senayan Jakarta, Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, hingga terlibat dalam pameran di Surabaya, salah satunya Pasar Seni Lukis Indonesia (PSLI) di Gedung JX Internasional Surabaya pada 2016.

Dia bahkan mampu menorehkan prestasinya sendiri. Beberapa penghargaan paling berkesan yang telah Kusdono terima, di antaranya dari Menteri BUMN RI, Rini Sumarno pada 2016, Mitra Seni Indonesia, dan dari Professor Richard North sebagai Direktur Sanggar Sinar Surya Santa Barbara, California, USA, pada 2019.

"Richard North dari California menobatkan saya sebagai maestro lukisan kaca Cirebon," ujarnya seraya memperlihatkan fotonya saat menerima penghargaan oleh Richard North.

lukis-kaca-Kusdono-B-Rastika-Richard-North
Kusdono B. Rastika saat menerima penghargaan dari Professor Richard North sebagai Direktur Sanggar Sinar Surya Santa Barbara, California, USA, pada 2019. (Dok. pribadi Kusdono B. Rastika)

Kusdono menyatakan penghargaan yang dia terima memiliki makna besar. Selain kebanggaan, dia merasa penghargaan itu adalah sebuah kepercayaan atas eksistensi yang dia bangun sejak remaja hingga kini.

Sayangnya, di antara penghargaan yang dia terima, belum ada satu pun apresiasi dari pemerintah daerah setempat. Dia menyesalkan rendahnya apresiasi yang datang dari tanah kelahirannya.

"Mereka (Pemda) seperti kurang perhatian, minim upaya melacak jejak maestro-maestro kesenian Cirebon dan mengamati regenerasi maupun perkembangannya," ungkapnya dengan nada keprihatinan.

Dia menyebut, seni lukis kaca klasik Cirebonan kini termasuk langka. Dia sendiri menyimpan harapan besar untuk menggelar pameran tunggal yang akan menghidupkan kembali rona-rona lukisan kaca Cirebon di mata khalayak ramai.

Kusdono bahkan menyimpan mimpi untuk mewujudkan cita-cita sang ayah berpameran di luar negeri. Selain berpameran, dia juga berharap dapat membeli mobil untuk mengangkut lukisan-lukisannya kepada pembeli langsung.

"Saya berharap, usaha lukisan kaca sekaligus pelestari budaya bangsa lancar selalu dan melahirkan generasi-generasi baru," ucapnya.

Meski mengakui kondisi fisiknya telah membatasi ruang gerak, Kusdono berusaha tetap bersabar dan berkarya. Tak sebatas menafkahi keluarga sebagai orang-orang yang disebutnya sebagai prioritas, dia melihat lukisan kaca merupakan jalan yang digariskan kepadanya sebagai pelestari budaya.

Ruwat Covid-19

lukis-kaca-Ruat-covid-begawan-jojoan1
Lukisan kaca karya Kusdono B. Rastika berjudul "Ruat Covid" yang menggambarkan Begawan Jojoan, tokoh buyut para dewa dalam pemawayangan. (Ayocirebon.com/Erika Lia)

Inspirasi, bagi Kusdono bukan perkara sulit. Imajinasinya yang luas membuatnya bebas menoreh kuas.

Namun begitu, dia lebih mengakrabi pewayangan sebagai tema lukisannya. Beragam fenomena kehidupan dia deskripsikan melalui karakter-karakter wayang.

Belakangan, dia pula mengakrabi Covid-19. Bagaimana tidak, pandemi ini telah memengaruhinya.

"Saya enggak bebas keluar kota untuk berpameran atau mengantar lukisan, terutama yang berukuran besar," cetusnya.

Kendati demikian, imbuhnya, pesanan tetap mengalir. Dalam jumlah yang tak sebanyak sebelum pandemi, tentunya. Permintaan belakangan hanya datang untuk lukisan-lukisan berukuran kecil.

Kusdono tetap bersyukur sebab berarti dia tetap dapat berkarya. Situasi bahkan bisa lebih buruk bagi sebagian orang.

Karenanya, dia tetap berikhtiar dengan menawarkan karya-karyanya kepada para pelanggan dan kolektor. Media sosial seperti Facebook dan Instagram pula menjadi jalan lain yang ditempuhnya.

"Untuk pesanan dalam negeri biasanya saya paketkan, tapi khusus lukisan ukuran kecil dan sedang. Untuk lukisan besar harus dikirim langsung menggunakan mobil," terangnya.

Kesempatan masih terbuka untuk pasar dalam negeri selama pandemi ini. Lain halnya dengan pasar luar negeri yang terkendala kebijakan lalu lintas udara di setiap negara.

Selain bersilaturahmi dengan pelanggan dan memanfaatkan media sosial untuk membuka pasar lebih luas, Kusdono pun tetap rajin mengikuti pameran seni, baik secara daring maupun langsung.

Beberapa pameran yang diikuti dan akan diikutinya antara lain Pameran Seni Rupa Wayang se-Jawa Barat bertema "Ramayana x Mahabharata" memperingati November sebagai Bulan Wayang se-Dunia yang digelar Galeri Pusat Kebudayaan, pameran lukisan bertajuk "Art dalam Pandemi Covid-19" yang digelar Asia Citra Perupa Malang di Kota Malang, pameran Sungging Adi Linuwih di Mojokerto, maupun Pameran Akbar IPI bertajuk "Obah Owah" di Yogyakarta.

Di antara itu semua, suatu hari datanglah permintaan dari sesama seniman Cirebon yang menggemari lukisannya. Mempertemukan persepsi atas pewayangan dan Covid-19, lahirlah "Ruat (Ruwat) Covid".

Apalagi artinya kalau bukan membebaskan diri dari Covid-19 yang telah membayangi masyarakat global selama nyaris setahun terakhir ini. Lukisan itu menggambarkan Begawan (Petapa) Jojoan sebagai Sang Pembebas.

"Saya buat 2 lukisan, 1 lukisan bergambar Begawan Jojoan seorang diri dan 1 lukisan lainnya bersama Semar sesuai permintaan pemesan," sebutnya.

Ke-2 lukisan sama-sama menghadirkan gambaran virus SARS-CoV-2 penyebab penyakit menular Covid-19 di sekeliling tokoh wayang. Kusdono mendeskripsikan virus itu dengan wajah bermimik serius yang cenderung marah hingga menakutkan.

Dia bahkan menambahkan aksen taring pada segurat bibir di tiap wajah virus. Bentuk virusnya sendiri berupa bola-bola beraneka warna dengan tonjolan di sekelilingnya.

"Begawan Jojoan itu buyutnya para dewa dalam pewayangan. Di 1 lukisan (yang menyertakan Semar), dia (Begawan Jojoan) minta ditemani Semar karena Semar itu cucunya," papar Kusdono.

"Ruat Covid" menceritakan sang begawan tengah merapal ajian tolak bala, sekaligus memanjatkan doa kepada Yang Kuasa untuk memusnahkan dan menghilangkan pandemi Covid-19 dari muka bumi.

Begawan Jojoan dipilih Kusdono sebagai karakter utama lukisannya sebab dalam sejarah pewayangan hanya dialah yang dapat menguasai dan menaklukkan wangsa siluman.

lukis-kaca-Ruat-Covid-begawan-jojoan2
Lukisan kaca karya Kusdono B. Rastika berjudul "Ruat Covid" yang menggambarkan Begawan Jojoan, tokoh buyut para dewa dalam pemawayangan. (Ayocirebon.com/Erika Lia)

Saat ini, 1 lukisan Begawan Jojoan berukuran 40x60 cm yang menyertakan Semar telah dibeli sang pemesan seharga Rp2 juta. Sementara, 1 lukisan lain yang menggambarkan Begawan Jojoan berperang seorang diri melawan Covid-19 masih menanti sang pembeli.

"Lukisan Begawan Jojoan yang sendiri ini berukuran 40x30 cm, dijual seharga Rp1,5 juta," tambahnya.

Sembari menunggu pembeli, Begawan Jojoan itu sejauh ini menjadi salah satu koleksinya. Namun kelak, dia harus rela melepas sang petapa dan membiarkan rapalannya membebaskan dunia dari pandemi di tempat lain.


   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar