bank bjb
  
Yamaha

Pandemi dan Manfaat Taman Kota di Kota Cirebon yang Terabaikan

  Senin, 30 November 2020   Erika Lia
Pandemi dan Manfaat Taman Kota di Kota Cirebon yang Terabaikan
Ilustrasi taman kota (Pixabay)

KEJAKSAN, AYOCIREBON.COM -- Keberadaan taman kota di Kota Cirebon dipandang belum banyak bermanfaat bagi warga. Padahal, di masa pandemi Covid-19, taman kota bisa menjadi solusi alternatif untuk mewujudkan manusia sehat.

Taman kota sebagai ruang publik dan keterkaitannya dengan pandemi menjadi isu yang diangkat dalam sebuah diskusi publik secara daring yang digelar Komunitas Sinau Art Kota Cirebon, Minggu (29/11/2020).

Bertema "Siklus Pandemi dan Taman Kota yang Mati Suri", diskusi ini merekam narasi publik dari dampak pandemi terhadap perkembangan kota.

Ketua Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon (STTC), Iwan Purnama mengungkapkan, selama pandemi ruang-ruang publik, salah satunya taman kota, di seluruh dunia telah terdampak.

"Ada penangguhan kegiatan-kegiatan sosial, jumlah pengunjungnya pun jadi menurun," katanya saat menjadi salah satu pembicara.

Meski kemudian ekonomi menjadi salah satu alasan publik diizinkan kembali beraktivitas, nyatanya gemerlap ruang publik tak senormal sebelum pandemi datang.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Cirebon, Edy Sugiarto menyatakan, sarana umum seperti taman merupakan tempat interaksi manusia yang berpotensi besar terjadinya penularan Covid-19. 

Kasus Covid-19 sendiri masih terus melonjak seiring tingginya aktivitas masyarakat. Sejauh ini, 938 warga Kota Cirebon telah terpapar virus SARS-CoV-2 penyebab Covid-19.

"Sebanyak 142 orang di antaranya adalah tenaga kesehatan, mulai dari dokter, bidan, sampai perawat," bebernya dalam kesempatan yang sama.

Pihaknya telah melakukan beragam langkah untuk mengatasi penyebaran virus, salah satunya menyewa 2 hotel di Kota Cirebon sebagai lokasi karantina para pasien positif. Dari upaya itu, dia mengklaim tingkat kesembuhan pasien telah mencapai sekitar 83,4%.

Meski aktivitas di ruang publik berisiko terhadap kesehatan, dia pun mengakui taman kota memiliki manfaat yang dapat meningkatkan nilai ekonomi masyarakat. Selain ekonomi, taman kota juga memiliki nilai manfaat sosial dan psikologis sebagai tempat rileksasi, rekreasi, hingga manfaat ekologis sebagai paru-paru kota.

Tanpa mengesampingkan manfaat taman kota dari sisi ekonomi hingga ekologis, dia mengingatkan masyarakat untuk tak mengabaikan aspek kesehatannya. Hal itu bisa dilakukan melalui kedisiplinan diri dalam penerapan protokol kesehatan (prokes) 3M (mencuci tangan, mengenakan masker, dan menjaga jarak).

"Protokol kesehatan harus dipatuhi setiap orang, mulai penyelenggara, pengelola, hingga masyarakat," ujarnya.

Penyediaan fasilitas atau sarana pada taman kota pun dimintanya harus memperhatikan kebutuhan untuk mendukung kesehatan publik. Selain bersih terawat, taman kota kini di antaranya harus menyediakan tempat cuci tangan dengan air mengalir dan sabun, tempat sampah, toilet dan air bersih, hingga imbauan perilaku hidup bersih dan sehat.

"Setiap orang punya tanggung jawab menjaga kesehatannya sendiri maupun orang lain. Selain disiplin prokes, stay at home (tinggal di rumah) tetap lebih baik, kecuali kebutuhan mendesak," tandasnya.

Sementara itu, diketahui sedikitnya tercatat 49 titik taman di Kota Cirebon. Ke-49 taman itu meliputi taman pulau dan taman median jalan.

Kepala Bidang Perumahan Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (DPRKP) Kota Cirebon, Nanang Rosadi menjelaskan, selama ini penataan dan pemeliharaan taman, pot, dan pohon di sepanjang median/trotoar jalan menjadi tanggung jawab pihaknya.

"Tahun ini, 16 titik taman pulau akan dikelola oleh beberapa perusahaan melalui mekanisme TJSL (Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan) perusahaan," cetusnya.

Sayangnya, keberadaan taman-taman di Kota Cirebon itu dianggap belum mampu menjawab kebutuhan publik. Ketua Komunitas Sinau Kota, Zainal Abidin mengemukakan, terdapat perbedaan persepsi antara warga, ahli, maupun pemerintah ihwal definisi taman kota.

"Jika dikaitkan dengan pembangunan yang ada, banyak taman yang dibangun saat ini justru tak termanfaatkan dengan baik oleh warga," ungkap Zainal.

Rerata taman kota, imbuhnya, justru hanya menjadi hiasan dan watermark sang pembuat taman. Ditambah lagi, kurangnya pepohonan dan tanah sebagai penyerap air justru banyak dipasang paving block.

Padahal, Kota Cirebon sendiri masih kekurangan 11% RTH yang harus dipenuhi, jika mengikuti standar RTH perkotaan. Dia menilai, taman kota seharusnya mampu menjadi solusi alternatif dalam menunjang kesehatan warga kota, baik secara raga maupun mental.

"Pandemi Covid-19 kan telah berdampak pada semua aspek, khususnya kesehatan masyarakat. Pandemi juga sepertinya telah menggugah cara berpikir manusia terhadap kesehatan," paparnya.

Dari hal tersebut, kesadaran masyarakat atas kesehatan pribadinya semakin meningkat, seperti meningkatkan imun tubuh dengan berolahraga, minum vitamin, dan sebagainya.

Di sisi lain, kesehatan mental turut berperan penting dalam mendukung mental yang sehat. Fenomena lockdown (karantina), belajar/bekerja dari rumah, hingga pembatasan sosial berskala besar maupun mikro (PSBB/PSBM), dipandang telah membuat perubahan besar terhadap mental manusia saat ini.

"Covid-19 telah membatasi kebutuhan manusia untuk bersosialisasi, mulai dari bertemu sampai bercengkerama dengan banyak orang," tambahnya.

Sementara, tak sedikit pula warga kota yang memaksakan diri ke ruang publik karena tuntutan pekerjaan. Ruang publik, seperti taman kota, menjadi penting dalam aktivitas warga kota karena fungsinya yang mampu mencakup banyak hal demi menunjang keseimbangan kota, melalui lingkungan yang mampu mendukung kesehatan kota dan warganya.

Karena itu, selain menjadi landmark, menurutnya taman kota sendiri harus mampu menjadi ruang publik yang memenuhi kebutuhan kesehatan warga.

Untuk ini, fasilitas atau sarana pendukung, seperti taman kota yang ramah anak, ramah disabilitas, ramah lansia, juga menyesuaikan dengan keadaan adaptasi baru (new normal), harus terpenuhi.

"Jika hal itu dapat dilakukan, kami yakin, warga Kota Cirebon mampu menjadikan taman kotanya terjangkau bagi seluruh warga, sebagai solusi alternatif dari permasalahan kesehatan yang berkepanjangan di masa depan," katanya.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Penelitian dan Pengembangan Daerah (BP4D) Kota Cirebon, Iing Saiman mengakui, kesadaran pentingnya ruang publik, baik RTH maupun non-RTH, belum menjadi arus utama.

"Ini salah satu tantangan yang kami hadapi dalam mempromosikan ruang publik," ujarnya.

Pihaknya memandang, keterlibatan masyarakat dan swasta masih terbatas karena adanya anggapan penyediaan ruang publik hanya menjadi tanggung jawab pemerintah.

Selain itu, penataan ruang publik hanya sebagai upaya 'beautifikasi kota' sehingga fungsinya hanya terbatas pada aspek keindahan. Kondisi itu diperparah dengan anggapan penyediaan ruang publik berarti 'biaya' sehingga diperhitungkan sebagai beban.

Selain kesadaran, tantangan lain pula terkait dengan kebijakan pemerintah daerah. Ruang publik dalam hal ini belum terinternalisasi dengan kebijakan Pemda.

"Belum tersedia grand design, peta jalan (road map), dan rencana aksi. Penanganan ruang publik juga belum terorganisasi dengan baik," bebernya.

Secara khusus, sambungnya, penyediaan ruang publik di Kota Cirebon pun menghadapi kesulitan dalam penyediaan lahan kosong.


   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar